oleh

Masjid Nurul Hasanah Berusia 43 Tahun, Gunakan Atap Tumpang

Kabarmadura.id/Sumenep-Masjid Nurul Hasanah di Desa Batang-Batang Laok Kecamatan Batang-Batang Sumenep memang tidak terlalu besar. Namun, ‘rumah Allah’ ini memiliki daya tarik tersendiri dari segi arsitektur.

Kendati bukan masjid yang bersejarah, Masjid Nurul Hasanah terlihat seperti masjid tua dengan menggunakan atap tumpang, layaknya masjid ala Jawa zaman dahulu. Atap tumpang itu juga digunakan di Masjid Jamik Sumenep.

Tokoh masyarakat setempat Hasan Basri menerangkan, masjid tersebut sejatinya dibangun sejak  tahun 1977 di atas tanah wakaf.

“Bukan masjid yang sangat tua, tapi ini masjid yang anggap saja barusan, hanya saja terlihat tua saja. Mungkin atap itu juga memberikan kesan tersendiri. Masjid-masjid dulu kan seperti itu atapnya,” bebernya kepada Kabar Madura, Selasa (18/8/2020) sore.

Selain berukuran kecil dan menggunakan atap tumpang,  Masjid Nurul Hasanah memiliki halaman yang cukup luas. Lantaran, lahan tersebut seluas 1.120 meter persegi. Tak ayal, terdapat sejumlah tumbuhan di halamannya serta cukup untuk tempat parkir dan ada sumur di samping kirinya.

Di tengah wabah Covid-19, masjid itu juga mengantisipasi penularan wabah tersebut dengan mempersiapkan alat cuci tangan yang dipasang di depan masjid.

Selanjutnya, Basri menyampaikan, masjid itu awalnya dibangun agar masyarakat sekitar bisa lebih dekat untuk menunaikan salat berjamaah lima waktu Zuhur Asar, Magrib, Isya, dan Subuh, begitu juga dengan salat Jumat.

“Agar tidak jauh yang mau salat berjamaah, soalnya kalau jauh terkadang lebih memilih salat di rumah saja. Padahal, lebih utama itu salat ke masjid,” sambungnya.

Di samping itu, pria yang berusia 53 tahun ini menerangkan, rutinitas di masjid berusia 43 tahun itu tidak jauh berbeda dengan masjid pada umumnya.

“Iya sama tidak ada bedanya salat berjamaah juga. Biasanya, kalau malam Jumat juga ada doa bersama demi keselamatan warga,” ungkapnya. (idy/pai)

Komentar

News Feed