oleh

Massa Bakar Kedai Bernuansa Alam Barengi Penutupandari Satpol PP

KABARMADURA.ID, Pamekasan –Unjuk rasa sekelompok warga di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Senin (5/10/2020), berbuntut pada pembakaran kedai bertema alam bernama Kafe Bukit Bintang.

Aksinyadiduga lantaranpenolakankeberadaan kedai itu.Mereka khawatir mengundang maksiat, sehingga masa yang mengatasnamakan santri itu menolak keberadaan kedai tersebut dan menutup paksa.

Sebelum terjadi aksi, di lokasi sempat terlihat sejumlah petugas Satpol PP Pamekasan. Nampak pula anggota polisi dan TNI yang mengamankan. Bahkan, massa yang merupakan dari unsur warga dan santri itu sempat terkendali dan bersedia menahan diri.

Namun, ada sebagian kecil massa yang tiba-tiba tidak terkendali dan merangsek masuk ke area kedai tersebut. Mereka diduga membakar kedai tersebut saat tidak terdeteksi aparat keamanan. Aparat keamanan baru menyadari setelah terlihat kepulan asap yang muncul dari kedai itu.

Sejatinya, kehadiran sejumlah petugas Satpol PP di lokasi adalah untuk menutup kedai itu. Sebab, sebulan sebelumnya ada penolakan dari 11 kiai pengasuh pesantren yang berada di sekitar kedai itu. Bahkan beberapa hari sebelumnya, juga telah dikoordinasikan dengan pemilik kedai agar kedai itu ditutup.

“Kenapa ditutup, karena tempat wisata itu hanya memiliki izin sebagai kedai itu. Namun kini berkembang lebih dari itu,” ucap Kepala Satpol PP Pamekasan Kusyairi.

Sedangkan penutupan yang dilakukan pada Senin (5/10/2020) itu, karena terindikasi ada sikap penolakan yang kian kuat. Untuk menghindari situasi semakin memburuk,  Satpol PP memasang banner sebagai tanda penutupa kedai itu.

Kafe tersebut, sebelumnya hanya tempat nongrong.Namun di sekitarnya dipermak menjadi tempat indah, ada taman bunga sehingga menutupi eksistensi kedainya. Akibatnya, banyak pengunjung yang datang menikmati pemandangan dan menjadi area swafoto.

Sedangkan menurut Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Palengaan Iptu Sri Sugioarto, pihaknya sudah berupaya menahan massa aksi untuk tidak bertindak anarkis.Namun ada sebagian massa tidak menghiraukan dansampai nekat membakar sejumlah fasilitas wisata.

Sesaat setelah terbakar, massa yang sempat tertahan akhirnya ikut berusaha memadamkan api yang membakar kedai tersebut. Sayangnya, kobaran api terlalu besar, sehingga sulit dikendalikan.

Iptu Sri menyayangkan kejadian tersebut dan seharusnya pembakaran seharusnya tidak terjadi. Destinasi wisata Bukit Bintang yang dibakar tersebut, diketahui milik Sholeh, warga setempat. Kerugiannya ditaksir mencapai jutaan rupiah.

“Kami sudah minta untuk menunggu perwakilan kiai, tapi mereka ada yang melakukan hal itu (pembakaran). Harusnya tidak sampai begitu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pakar Muda Pariwisata Madura yang juga Direktur Nusantara Tourism CenterA.Faidlal Rahman sangat menyayangkan kejadian amoral tersebut. Menurutnya, tindakan tidak terpuji tersebut tidak seharusnya terjadi.

Bahkan menurutnya, kemajuan Kabupaten Pamekasan bakal terhambat dengan adanya tindakan semacam itu. Karena menurutnya investor bakal enggan untuk menanamkan modalnya di Pamekasan karena melihat kondusivitas Pamekasan yang memperihatinkan.

Sementara baginya, inevstasi di Kabupaten Pamekasan sangat dibutuhkan untuk mendongkrak pendapatan daerah terutama di sektor wisata. Sementara semua pendapatan tersebut menurutnya juga berorientasi pada kepentingan masyarakat umum dan kesejahteraan masyarakat Pamekasan.

“Tindakan pengrusakan terhadap objek wisata ini berimplikasi negatif terhadap citra pariwisata Pamekasan, umumnya Madura,” tukasnya. (ali/waw)

 

Komentar

News Feed