oleh

Matangkan Mental, Bentuk Komunitas Pendaki

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Siti Rosidah Humairoh yang merupakan perempuan asli Bangkalan ini memiliki hobi mendaki gunung. Perempuan yang hobi melihat keindahan alam semesta dari ketinggian puncak itu  memiliki cerita perjuangan sebelum membentuk komunitas pendaki.

Dar modal nekat membuat komunitas itu, mahasiswa dari kampus di Surabaya ini membuat Komunitas Pendaki Bangkalan Madura (KBPM), komunitas yang dia bangun dengan niat agar ketika ada yang sehobi dengannya bisa melakukan kegiatan mendaki gunung tanpa harus kebingungan mencari teman. Dia ingin dari satu hobinya itu bisa berkumpul bersama dengan orang-orang yang sama.

“Nanti juga bisa sharing-sharing disitu. Saya nekat buat grup whatsapp dan instagram kemudian saya promosikan itu,” ceritanya.

Kemudian dari modal nekatnya itu, antusias masyarakat Bangkalan khususnya para pemuda banyak yang ingin gabung. Akhirnya dia adakan kopi darat (kopdar) pertemuan pertama kali. Dari kegiatan itu ada sekitar 50 orang yang hadir dan menyatakan siap bergabung dengan komunitasnya.

“Setelah itu kami mulai membicarakan struktur kepengurusan, dari membentuk ketua hingga panitia lainnya. Siapa yang sukarela jadi ketua dan pengurus lainnya,” lanjutnya.

Menurut dia, sejak berdiri tahun 2018 lalu. Sudah banyak orang yang ingin gabung dengan komunitasnya. Saat ini sudah ada 71 orang yang tergabung dalam KPBM. Dari anggota itu, dia memperkirakan ada penambahan 20 orang lagi usai perekrutan beberapa waktu lalu.

“Biasanya kami ke Gunung Penanggungan, Gunung Pundak dan Gunung Butak. Kalau pendakian event ke Gunung Prau,” ujarnya.

Selain kegiatan mendaki, ada kegiatan-kegiatan lain seperti cancer atau fun camp dan kegiatan bakti sosial. Rencananya setelah perekrutan bulan ini dia akan merayakan anniversary komunitasnya itu ke Gunung Semeru.

Sedangkan, pengalamannya selama mendaki ini dia pernah ketika mendaki ke Gunung Butak dihadapkan badai, hujan deras dalam kondisi gelap. Karena saat itu juga lampu banyak yang mati. Ketika jalan licin jadi harus merangkak jalannya.

“Sedangkan samping kanan kiri jurang, headlamp mati” lanjutnya.

Untuk perekrutan anggota dilakukan setiap waktu. Biasanya beberapa bulan sekali, tergantung dari jadwal kegiatan. “Belum ada jadwal rutin kalau itu. Tapi kami sering kopdar yang rutin. Kami kopdar semacam rapat buat kegiatan-kegiatan,” jelasnya.

Perempuan tangguh ini menambahkan, jika biaya yang harus dikeluarkan pada saat acara pendakian dengan menggunakan sistem iuran. Sedangkan peralatan kelompok sebagian ditanggung komunita. Seperti kompor dan nesting, tenda dan peralatan mendaki lainnya.(ina/mam)

Komentar

News Feed