oleh

Matinya Jenderal Bintang Tiga

Oleh: Hafis Azhari*

Kalau bukan karena desakan istrinya agar menyambut undangan nonton bareng (Nobar) di bulan Maret itu, Sodik enggan untuk menghadirinya. Di samping filmnya yang sering diputar ulang oleh siaran televisi pemerintah di masa Orde Baru, juga data-data sejarah yang kurang valid dan hanya menguntungkan pihak penguasa. Belum lagi, klaim dari dokter yang menyatakan bahwa Sodik menderita penyakit aneh yang sejenis dengan influenza.

Akhirnya, petang itu, sekitar pukul 19.30 Sodik memaksakan diri untuk ikut hadir di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Bersama istrinya ia mengambil posisi di bangku deretan kedua. Wajah sang istri nampak sumringah ketika pemutaran film dimulai sekitar pukul 20.00 tepat. Meskipun banyak adegan film yang mudah ditebak, tetapi seumumnya proses produksi untuk hiburan, ada saja hal-hal tak terduga yang dibuat sutradara untuk membangun imajinasi publik.

Bukankah dalam kehidupan ini sering terjadi hal-hal tak terduga (pikir Sodik), misalnya ketika mengunyah pop corn yang dibeli istrinya sebelum masuk gedung tadi, tiba-tiba… “Ha chin! Ha chin!” Wajah istrinya seketika cemberut dan pucat lesi. Sorot matanya setengah terpejam. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengambil tissue dari tas kecil dan menyodorkannya kepada sang suami. Setelah mengelap hidung, Sodik membela diri pada istrinya yang masih kesal, bahwa semua orang toh bersin juga, di mana pun dan kapanpun. Sah-sah saja kan? Ada polisi bersin. Presiden bersin. Rakyat jelata bersin. Gembel di jalanan bersin. Semua orang bersin. Kenapa harus malu-malu?

Sama juga, orang yang lagi salat bersin. Di tengah sawah bersin. Di toilet bersin. Emangnya kenapa?

“Tapi masalahnya…,” bisik sang istri.

“Masalahnya apa?”

Ia menjulurkan wajahnya, berbisik sambil melotot, “Masalahnya siapa orang yang duduk di depan kita.”

Kontan Sodik menatap ke depan, dan seketika jantungnya berdebar-debar setelah menyadari bahwa sosok yang duduk di barisan bangku pertama, persis di hadapannya adalah Pak Winarso. Ya, siapa lagi beliau kalau bukan seorang jenderal bintang tiga yang pernah ditugaskan Presiden Soeharto selaku ajudannya. Petang itu ia mengenakan kemeja batik, melepas kopiah dan mengelap tengkuk hingga kepalanya yang botak dengan sarung tangan. Istrinya menatap Sodik sebentar, kemudian melengos ke depan dengan rasa gundah.

“Apakah tadi saya menyemprot dia?” bisik Sodik pada istrinya.

“Iya, lendirnya keluar banyak dari hidung.”

Seketika Sodik membetulkan posisi duduknya, lalu menjulurkan wajahnya ke depan, “Mohon maaf, Pak… tadi saya bersin-bersin… nggak sengaja, Pak.”

Jenderal bintang tiga itu tidak membalas. Ia merapikan kopiahnya, mengelap lehernya sekali lagi, kemudian mendehem beberapa kali.

“Tadi saya nggak sengaja… mohon maaf, Pak.”

“Ya, sudah, sudah…,” jawab istrinya setengah jengkel.

“Saya tadi nggak sengaja, Bu… saya lagi kurang enak badan…”

“Ya sudah, nggak apa-apa,” Jenderal itu mendehem sekali lagi.

Sodik jadi tersipu malu, sambil tersenyum canggung dan kembali menonton. Seusai pertunjukan film, ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati sang jenderal di pintu masuk toilet, “Tadi saya menyemprot Bapak di dalam, saya nggak sengaja, mohon maaf ya, Pak.”

“Iya, iya… sudah… saya sudah memaafkan…”

Setelah Sodik mencium tangannya sambil membungkuk, tiba-tiba terlontar kata-kata dari mulut sang jenderal, “ Saya memaafkan, tapi kamu harus mengingatnya, ya?”

“Iya, Pak.”

***

Kata-kata itu terngiang-ngiang terus selama perjalanan pulang: sudah dimaafkan tapi ia harus mengingatnya? Apa yang dia maksud? Dengan kata lain, beliau sudah memaafkan tapi tak boleh dilupakan? Apa maksudnya itu?

“Apakah ada hubungannya dengan balas dendam?” tanya Sodik pada istrinya.

“Sudahlah, Mas, dia sudah memaafkan,” istrinya mengingatkan, “itu artinya tak usah diingat-ingat lagi.”

“Justru dia menyuruh saya supaya mengingat-ingat…”

“Mengingat-ingat apa?”

“Mengingat kejadian itu, walaupun dia sudah memaafkan.”

“Kalau sudah memaafkan, itu berarti sudah selesai, sudah beres, nggak usah dilebih-lebihkan.”

“Siapa yang melebih-lebihkan, Ma? Saya cuma bersin dan menyemprot dia dengan tak sengaja, dari belakang, kenapa harus dilebih-lebihkan?”

“Dan, Mas sendiri sudah minta maaf, kan?”

“Iya.”

“Ya sudah kalau begitu, urusannya sudah selesai, dan dia sudah memaafkan…”

“Dia sudah memaafkan tapi saya disuruh mengingatnya…”
“Tuh kan, kumat lagi!”

Sampai di tempat tidur kepikiran terus kata-kata itu. Di samping ia kurang sehat badan selama minggu-minggu itu, ia pun masih menjalani berobat jalan ke dokter. Entahlah, flu jenis apa yang menyerang tubuh Sodik kali ini. Kadang-kadang tangan dan kakinya kesemutan, demam tiba-tiba naik dan turun, di samping batuk dan bersin-bersin tentu saja.

Dokter menyarankan agar ia banyak istirahat. Sebab, menurut dokter, perubahan demografi memungkinkan kuman dan bakteri berkembang biak sesuai dengan perubahan iklim dan lingkungan setempat. “Tidak sedikit jenis bakteri yang memiliki cara-cara khusus untuk mempertahankan diri dari serangan obat-obatan. Apabila praktik antibiotik digunakan secara kurang tepat, justru akan berperan dalam membantu kuman mempelajari cara agar bisa kebal menghadapi antibiotik tersebut. Sampai pada akhirnya, semakin banyak kuman yang resisten terhadap antibiotik, semakin sulit kita mengobati penyakit yang disebabkan kuman yang resisten tersebut.”

Ingin sekali Sodik menjelaskan keterangan dokter di hadapan jenderal yang tersembur bersin-bersinnya, tapi istrinya kontan berteriak bahwa dirinya tak perlu menceramahi seorang jenderal. Yang menjadi masalah, menurut dokter, bahwa munculnya penyakit degeneratif seperti virus korona telah membuka pelajaran bagi semua orang, bahwa sifat kuman memang tak pernah tinggal diam. Juga tak akan mempertahankan komponen diri yang selalu sama seiring berjalannya waktu. Perubahan iklim dan lingkungan sanggup dihadapi virus korona dengan melakukan modifikasi, bahkan hingga ke tingkat yang terkecil sekalipun. Demi mempertahankan perkembangannya – meskipun banyak menghadapi serangan antibiotik – sifat kuman sangat cerdik untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan lingkungan di sekitarnya.

“Karena itu,” menurut dokternya Sodik, “bisa dibayangkan apabila dunia kedokteran dan pengobatan di Indonesia hanya berjalan di satu tempat, beku, dan tidak berkembang.”

***

Jadi, jenis penyakit flu macam apa yang menyerang dirinya kali ini? Dokter sendiri berhati-hati untuk menyimpulkan. Sebab, memang tidak sedikit jenis bakteri yang pintar beradaptasi, dalam usaha untuk terus mempertahankan dirinya. Dengan kemahirannya itu, tidak mengherankan jika penyakit infeksi masih saja marak, bahkan diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Tetapi siapapun itu, baik seorang Sodik maupun jenderal bintang tiga berusia 70 tahun itu, jika kekebalan tubuhnya baik, mereka akan sanggup menghalau serangan penyakit jenis apapun. Ibarat tekanan air yang makin keras hingga nyaris menjebol selang-selang air. Dengan kualitas selang yang memiliki ketebalan, serta perawatan yang baik dari kebocoran, maka tekanan air sekeras apapun tidak akan bisa menimbulkan kebocoran dan kerusakan.

Tetapi, yang menjadi pikiran Sodik, bersin di gedung kesenian tentu bukan perkara remeh-temeh, sebagaimana bersin di WC atau sedang menonton televisi di rumah. Jangan-jangan ia menyebarkan penyakit pada orang lain, walaupun masker memang harus dibuka pada saat setiap orang memakan sesuatu, entah nasi dan lauk, sayur, buah-buahan, atau sekadar cemilan seperti jagung pop corn.

Walaupun begitu, ia toh sudah minta maaf karena tak sengaja, tapi dimaafkan oleh jenderal bintang tiga itu bukan berarti harus dilupakan, itu masalahnya? Apa maksudnya itu?

Lagi-lagi ingatan itu mengebor terus di kepalanya. Belum lagi tatapan curiga dari istrinya, bagaikan sorotan tajam yang bernada kedengkian. Perempuan tua itu bahkan tak bicara sepatah kata pun waktu Sodik meminta maaf di pintu toilet. Ia sudah menjelaskan pada keduanya bahwa dirinya tidak bermaksud bersin sembarangan, apalagi sampai menyemburkan lendir dan ludah. Ia sudah sampaikan bahwa hal itu terjadi secara tiba-tiba, barangkali merupakan sunatullah atau hukum alam seperti biasa. Meskipun perempuan itu pasti berpikir, kenapa tidak permisi saja untuk keluar gedung sebentar. Apalagi orang itu sedang menderita suatu penyakit yang barangkali… boleh jadi… siapa tahu….

“Tapi Mama kenal kan sama Pak Winarso itu?”

“Iya, semua orang juga kenal, dia jenderal bintang tiga, emang kenapa?” kata istri Sodik ketus.

“Ma,” ia menggeser duduknya, lalu berbisik, “jenderal itu pernah ditugaskan Presiden Soeharto di wilayah Timor Timur sekitar tahun 1990-an…”

“Iya, saya juga pernah dengar, tapi apa urusannya dengan bersin?”

“Maksud saya, begini… ada kabar bahwa dia yang menuyuruh penembakan beberapa wartawan Australia dalam kasus Balibo, Mama dengar kan?”

“Iya, saya juga dengar kasus itu, tapi belum tentu dia yang memerintahkan penembakan.”

“Jadi, begini… hubungannya dengan bersin saya di gedung kesenian itu… kalau dalam pikirannya ada rasa dendam berarti…”

“Tuh kan, lari ke situ lagi… sudahlah Mas, saya bosan mendengar itu!”

“Mah?”

Yang menjadi kekhawatirannya, jenderal itu kurang terima ia menganggap enteng kejadian itu. Sang istri memang sudah menjelaskan bahwa Jenderal Winarso itu toh bukan atasannya, dan Sodik sendiri bukan orang yang kerja di dunia kemiliteran. Tapi, meskipun usianya sekitar 70-an dan badannya kurus dan batuk-batuk, tentu dia punya banyak kroni dan kaki-tangan. Kalau dia menghendaki sesuatu – entah baik atau buruk – mudah saja tinggal memerintahkan salah satu dari mereka, sebagaimana saklar listrik yang bisa secara sentral membuat nyala satu, sepuluh, bahkan seratus lampu bohlam. Belum lagi, dia menegaskan kata-kata, “kamu harus mengingatnya, ya?”  Wadduh, bikin pening saja di kepala kata-kata aneh itu….

***

Keesokannya, setelah Sodik mengenakan kemeja dan menyisir rambut serapi-rapinya, ia segera menemui jenderal bintang tiga itu di rumahnya. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, istrinya muncul dan membukakan pintu, kemudian melangkah ke belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Jenderal Winarso kemudian muncul, dan menyambutnya sambil batuk-batuk. Saat itu, sengaja Sodik tak membuka masker yang menutupi hidung, sehingga ia bertanya-tanya siapakah gerangan yang menjumpai dirinya di siang bolong, tanpa sempat memberi tahu terlebih dahulu.

“Yang kemarin itu lho, Pak, di gedung kesenian itu, Bapak masih ingat saya kan?”

“Iya, kenapa?” suaranya parau dan serak-serak.

“Kemarin itu, Pak… yang bersin di dalam gedung… itu saya, Pak…”

“Ya ampun… kamu lagi…”

“Iya Pak, jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya, soalnya saya…”

“Iya, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” katanya kesal.

“Saya mohon sekiranya Bapak bisa memaafkan, tapi juga melupakan kejadian itu maka…”

“Ada yang perlu saya bantu!” bentaknya keras.

“Jadi, kalau bapak bisa melupakan, dan saya juga akan melupakan, nanti kita…”

“Pergi kamu dari sini!” ia batuk-batuk, dan suaranya seperti tercekat.

“Mohon maaf, Pak, masalahnya menangkal virus itu harus seperti pipa air yang…”

“Keluar kamu!” Mukanya pucat dan gemetar.

“Kalau imunitas kita baik, seperti pipa yang tahan bocor dan…”

“Keluar!!”

Ia menghentakkan kakinya keras-keras. Di sekitar perut dan dadanya tiba-tiba berbunyi seperti gemuruh badai. Jenderal itu mundur selangkah dari pintu, kemudian jatuh terhuyung-huyung. Istrinya muncul lalu meminta bantuan Sodik agar membaringkannya di atas sofa.

Dalam keadaan berbaring di sofa, dari mulut dan hidungnya keluar lendir seperti busa putih, kemudian menghembuskan napasnya yang terakhir. ***

*) Pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

 

 

Komentar

News Feed