Mayoritas Desa di Bangkalan Tidak Maksimal Kelola TP BIS

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERTATA: Salah satu pengunjung ketika mencari buku di Perpustakaan Kabupaten Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Mayoritas desa penerima manfaat bantuan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TP BIS), pengelolaannya tidak maksimal. Yakni, terdapat tiga dari empat desa penerima terkesan tidak mampu mengelola TP BIS. Masing-masing, Desa Pesanggrahan Kecamatan Kwanyar, Banyuajuh Kecamatan Kamal, Desa/Kecamatan Arosbaya dan Kelurahan Martajasah.

Dari empat desa penerima , hanya Kelurahan Martajasah yang mampu secara optimal mengelola TP BIS. Sedangkan untuk setiap desa mendapatkan 700 eksemplar buku dan komputer serta server. Bantuan tersebut, bertujuan untuk mendorong masyarakat agar bisa mendapat dan memanfaatkan membaca untuk kepentingan sosial dan memperoleh keuntungan.

Kabid Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangkalan Yuyun Fajar Novela menyampaikan, sebelumnya terdapat lima desa yang diajukan untuk mendapatkan bantuan. Namun, hanya empat desa yang lolos dengan total jumlah bantuan buku mencapai 2.800 eksemplar.

“Kami mengajukan 5 desa tapi satu nya tidak lolos. Bantuan buku ini, sudah diberikan dan sudah bisa dimanfaatkan di setiap desa penerima,” ujarnya, Senin (20/9/2021).

Hanya saja kendala di lapangan, tidak semua desa mampu mengelola bantuan tersebut secara optimal. Tiga desa masih dalam masa penataan dan melengkapi fasilitas. Salah satu penyebabnya, minat dan keaktifan masyarakat masih rendah dan perlu keoptimalan sosialisasi.

“Perlu dilakukan sosialisasi ulang, seperti di Desa Pasanggrahan yang masih dijabat oleh kepala desa (kades) baru. Mudah-mudahan, kades lama maupun baru mampu memberikan perhatian untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Saya kadang juga bingung, jika visi antara kades lama dan baru ini tidak sama. Jadi harus diulang lagi perjanjian kerjasamanya,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga Desa Arosbaya Qonita Tillah menyampaikan, keterlibatan pengurus perpustakaan desa harus melibatkan pemuda atau organisasi kepemudaan. Sebab jika diinisiasi oleh orang tua, tentu tidak akan menarik. “Kalau yang tua tidak mau berbagi dan mengajak, tentu pengelolaannya akan membosankan,” responnya.

Perempuan berusia 28 tahun itu mengusulkan, agar dinas perpustakaan bisa memberikan evaluasi dan pembenahan di setiap desa yang menerima program bantuan. Sebab, 700 buku yang sudah diberikan harus dimanfaatkan secara optimal. “Kalau sudah dibantu, tentu tugas pemuda adalah merawat dan melestarikannya,” sarannya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *