oleh

Mayoritas Manuskrip Sejarah Madura Tersimpan di Belanda

Kabarmadura.id/SUMENEP-Manuskrip kuno bersejarah Madura, khususnya Sumenep, masih amburadul. Indikasinya, tak satupun manuskrip yang tercover di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sumenep.

Arsip tersebut, banyak yang masih tersimpan di Belanda, seperti sejarah pegaraman di Kecamatan Kalianget, buku budaya saronen dan budaya lainnya. Bahkan, dimungkinkan masih banyak arsip sejarah lain yang ada di negara yang pernah menjajah Nusantara tersebut.

Kepala DPK Sumenep Ahmad Masuni menyampaikan, masih akan mencari manuskrip-manuskrip bersejarah itu, Jika perlu, nantinya akan bersama bupati untuk melihat dan menjemput buku bersejarah atau manuskrip yang ada di Belanda tersebut.

“Pembangunan depo arsip di Perpusda, saat ini sudah selesai, nantinya akan bersama organisasi perangkat daerah (OPD), agar semua arsip yang statis akan disimpun dan dipilah,” katanya, Kamis (28/11/2019).

Dengan terarsipnya semua buku atau manuskrip itu, dapat menumbuhkan pengetahuan untuk generasi selanjutnya. Setidaknya, agar dapat membaca dan mengetahui akan sejarah mendalam mengenai Kabupaten Sumnep secara luas.

Harapannya, semua kantor harus memiliki gedung arsip dan nantinya akan tercover. Bahkan, di gedung Arsip Perpustakaan Daerah (Perpusda) juga ada.

“Jika generasi mudanya tidak tahu sejarah, bagaimana nanti untuk membangun Sumenep,” tegasnya.

Masuni menjelaskan, berdasarkan Pasal 110 Peraturan Bupati (Perbup) Sumenep Nomor 38 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Bupati Sumenep Nomor 29 Tahun 2008 tentang Tugas dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah, disebutkan bahwa Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Sumenep merupakan unsur pendukung penyelenggaraan pemerintah daerah bidang perpustakaan.

“Maka dari itu kami nantinya akan terus berjuang untuk mendapatakan arsip bersama OPD lainnya, bahkan bupati,” paparnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Sumenep Abdul Hamid Ali Munir menegaskan, manuskrip, buku-buku bersejarah sangat peting untuk dilestarikan. Pemerintah harus tegas dalam mengambil langkah.

Sebab, di dalam naskah-naskah peninggalan nenek moyang itu banyak terkandung nilai. Bahkan, dengan membaca isi yang terkandung di dalamnya, akan ditemukan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan informasi lainnya.

“Kami mendesak pemerintah agar terus melestarikan atau merapikan arsip di Sumenep,” pintanya.

Menurutnya, banyak naskah penting yang harus dicari misalnya, mengenai keagamaan, naskah mamaca atau macopat, primbon, kitab syi’ir dan beberapa naskah lain. Setelah itu, dipetakan dan dilestarikan. Caranya, mengumpulkan buku sejarah pada DPK.

“Arsip sejarah diharapakan ada tempat penyimpanan husus agar menjadi bahan bacaan pada generasi selanjutnya,” tutupnya. (imd/waw)

 

 

 

 

Komentar

News Feed