oleh

Mayoritas Sekolah Rusak Tidak Terkaver Program Perbaikan 2019

Kabarmadura.id/SAMPANG-Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang mencatat, jumlah sekolah dasar (SD) negeri dan swasta sebanyak 622 dengan total ruang kelas 3.677 unit. Sayangnya, sekitar 80 persen atau sebanyak 3.036 ruang kelas masih dibiarkan rusak. Sedangkan upaya perbaikan atau rahabilitasi dan penambahan ruang kelas baru (RKB) sekitar 70 lembaga.

Sementara untuk sekolah menengah pertama (SMP) berjumlah 271. Rinciannya SMP negeri 53, swasta 218 lembaga. Sedangkan jumlah kelas mencapai 1.090, namun sebanyak 950 ruang kelas dalam kondisi rusak. Seyangnya, program rehabilitasi dan RKB hanya menjangkau 52 lembaga. (Perincian lihat grafik).

Kepala Disdik Sampang Jupri Riyadi yang dikonfirmasi melalui Kabid Pembinaan SD Achmah Mawardi mengatakan, program rehabiliasi dan penambahan RKB merupakan program rutin tahunan yang bersumber dari dana alokasi khusu (DAK) dan dana alokasi umum (DAU).

Setiap tahun jumlah sekolah yang tercover program rehab dan RKB itu relatif terbatas, karena disesuaikan dengan ketersedian anggaran.

Manurut dia, masih banyak ruang kelas SD yang dalam kondisi rusak itu, sedikit banyak dapat mempengaruhi terhadap konsentrasi para siswa dalam melangsungkan kegiatan belajar mengajar (KBM). Mengingat ruang kelas yang ditempati belajar tersebut, kurang nyaman dan menghawatirkan. Sehingga harus direhabilitasi dan ditambah ruang secara bertahap.

“Kami terus galakkan rehab dan penambahan RKB, tahun ini ada sekitar 70 SD akan direhab dan ditambah RKB melalui DAK dan DAU,” ucap Mawardi kepada Kabar Madura, Kamis (28/3).

Secara umum, kerusakan dan kekurang ruang kelas tersebut, mayoritas terjadi di lembaga pendidikan yang berada di pedesan. Sedangkan di kawasan kota, rata-rata sudah sudah mampu menyediakan ruang kelas yang nyaman, memadai dan representatif.

Idealnya, daya tampung satu ruang kelas, maksimal diisi 20 siswa. Namun sebagian ruang kelas masih banyak melebihi standar minimal. Itu karena ketersedian ruang kelas sangat terbatas, salah satunya karena rusak.

”Prinsipnya, kami komitmen melakukan upaya perbaikan sejumlah ruang kelas yang rusak ini, hanya saja harus dilakukan secara bertahap, karena ketersedian anggaran terbatas,” kelitnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Sampang Maniri berharap disdik lebih serius dalam menyediakan ruang kelas yang layak. Itu sangat penting dalam mewujudkan kondusivitas dan suasanya belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Jika persoalan itu tidak segera diselesaikan, bisa mengganggu kualitas belajar siswa.

“Kami harap, program rehab ini diprioritaskan untuk ruang keles yang rusak parah dan total, sedangkan yang rusak ringat bisa dianggarkan dari dana BOS tanpa menunggu program rehap dan RKB dari pemerintah pusat dan daerah,” ucapnya. (sub/waw)

Komentar

News Feed