Mayoritas SMP di Bangkalan Kekurangan Pagus Siswa

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FAIN NADOFATUL M.) GENERASI BANGSA: Sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bangkalan sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Setahun lebih kegiatan pembelajaran secara daring terlaksana. Kondisi itu, cukup memberikan dampak signifikan di bidang pendidikan.  Realisasinya, mayoritas wali siswa atau orang tua murid kehilangan minat menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan formal. Sehingga 45 sekolah menengah pertama (SMP) kekurangan siswa. Rata-rata setiap sekolah kekurangan dua hingga tiga siswa.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Jufri Kora mengatakan, total SMP di daerah yang identik dengan slogan Kota Salak mencapai 47 sekolah. Dari puluhan sekolah itu, hanya dua lembaga yang memenuhi pagu siswa. Masing-masing SMPN 1 dan SMPN 2 Bangkalan.

“Yang lain masih kurang, seperti Kamal kurang 3. Itu termasuk tidak memenuhi pagu,” ujarnya, Selasa (28/9/2021).

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah reguler. Antara lain, akibat wabah Covid-19 yang menyebabkan pembelajaran daring dan sekolah yang berbasis pondok pesantren (ponpes) lebih banyak diminati. Hasil tersebut merupakan survei yang dilakukan beberapa waktu lalu.

“Kepercayaan orang tua siswa ini tidak ada, saya buktikan dengan survei. Pertama saya lakukan survei penerimaan siswa baru, lalu kami lakukan juga survei kunjungan ke lembaga SD,” paparnya.

Hasilnya, bukan lantaran minat sekolah anak menurun untuk tidak bersekolah akibat wabah Covid-19. Melainkan, banyak anak yang melanjutkan ke ponpes. Sebab, waktu penerimaan peserta didik baru (PPDB) lembaga sekolah di pondok sudah melakukan pembelajaran tatap muka. “Yang kedua, kami lakukan antisipasi, kami tuntut dan sosialisasi kepada SMP Negeri bahwa sudah saatnya melakukan beberapa hal, yakni sekolah harus rajin melakukan langkah-langkah sosialisasi ke lembaga SD agar mau masuk ke lembaga SMP reguler,” paparnya.

Selanjutnya, sekolah harus melakukan inovasi. Yakni memasukkan kurikulum keagamaan dalam kegiatan belajar. Sebab masyarakat lebih cenderung memilih sekolah yang h religi. Artinya, bagaimana sekolah bisa memasukkan materi tahfidz atau memberikan edukasi keagamaan bagi siswa. “Nantinya SMP Negeri menjadi sekolah plus. Artinya sekolah bisa memasukkan itu di ekstrakulikuler atau kurikulumnya. Ini demi meraup atau menggaet siswa, agar sekolah tidak kekurangan siswa,” sarannya.

Terakhir, sekolah harus rajin mengukir prestasi. Yakni mampu membuat anak didiknya berprestasi, baik akademik maupun non-akademik. Sebab jika anak-anak ini berprestasi, sekolah harus mengumumkan di tempat umum sebagai bentuk promosi. “Ini hal-hal yang mendongkrak minat orang tua menyekolahkan anaknya di SMP reguler. Begitu pula sesama sekolah negeri harus mempunyai persaingan, memiliki icon yang harus diunggulkan,” tegasnya.

Jumlah SMPN di Bangkalan

  • 47 sekolah
    • 45 kekurangan pagu siswa
  • 2 sekolah memenuhi pagu siswa
    • SMPN 1 Bangkalan
    • SMPN 2 Bangkalan

Reporter: Fain Nadofatul M.

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *