oleh

Mayoritas Tambang di Bangkalan Diduga Dibiarkan Ilegal

Insert; Dasuki Rahmad saat menjadi pemateri dan menjelaskan tentang banyaknya usaha tambang ilegal yang bebas beroperasi.

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Aktivitas penambangan ilegal yang bebas beroperasi di Bangkalan, menimbulkan sikap pro dan kontra di masyarakat. Sebagian yang merasa terbantu kebutuhannya, menganggap tambang ilegal berdampak positif. Sayangnya, aktivitas tambang ilegal yang banyak mengancam kelestarian lingkungan itu, keberadaannya ditolak banyak pihak.

Sebagaimana diungkapkan Dasuki Rahmad pada diskusi yang digelar dalam acara Ngopi dan Nonton Bareng Film di Cafe Regis, Sabtu (6/4), pengamat kebijakan publik itu mengungkapkan, di Bangkalan banyak pengusaha tambang yang tidak mengantongi izin.

Sehingga menurutnya, tidak selamanya industri penambangan menghasilkan dampak positif, tapi juga negatif. Sebab, keberadaan deposit sumber daya tambang selalu berinteraksi dan berkaitan dengan lingkungan habitatnya, seperti tanah, air dan tumbuh-tumbuhan.

Karena itu, salah satu faktor yang tidak dapat dihindari pada saat melakukan eksploitasi deposit tambang tersebut adalah terjadinya degradasi lingkungan. Tidak hanya itu, banyak para penambang yang tidak mengantongi izin, sehingga pada saat terjadi dampak negatif banyak yang cuci tangan atau tidak bertanggung jawab.

Dasuki meminta, semua pihak merinci jumlah penambang di Bangkalan, kemudian mempertanyakan ke Kepolisian Resor (Polres) Bangkalan untuk ditelisik bagaimana perizinannya.

“Di Bangkalan ini mari kita list para pengusaha tambang dan kita tanyakan ke Polres Bangkalan apakah sudah mengantongi izin apa belum,” Jelas Dasuki.

Salah satu pelopor keberadaan GMNI Bangkalan tersebut menjelaskan, izin yang perlu dikantongi penambang adalah mulai dari wilayah izin usaha pertambangan (WIUP), izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi dan IUP operasi dan produksi.

Dalam praktik usaha penambangan ini, menurut alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu, dibekingi banyak mafia. Keberadaan mafia tersebut ada di segala lini.

“Coba kita liat di Bangkalan seperti di Jaddih, Labang dan sekitarnya. Saya pastikan mereka tidak mengantongi surat izin. Dan pada saat ada anak-anak main dan tenggelam di bekas galian tambang, siapa yang akan bertanggung jawab,” tegasnya.

Pria kelahiran Pamekasan tersebut juga mengajak masyarakat dan  adalah mahasiswa, agar tidak menjadi bagian dari penikmat aset mafia.

“Seperti kemaruin, ada anak-anak yang meninggal karena tenggelam di bekas galian penambangan. Lantas apa yang reaksi yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa,”

“Apa guna kalian memiliki sebuah data dan perangkat telepon yang canggih kalau hanya disimpan dalam flashdisk, setelah itu tidak berbuat apa-apa. Tidak pernah mengkaji dan bergerak mempertanyakan itu ke pihak-pihak yang berwenang,” pungkasnya. (km46/waw)

Komentar

News Feed