oleh

Mbah Sabami (65), Perempuan Tangguh Tulang Punggung Keluarga

Jualan Kaacang untuk Biaya Hidup Berlima

Kabarmadura.id/Sumenep-Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa tua. Misalnya, sebagaimana terjadi kepada Sabami. Dia harus bolak-balik Desa Banasare Kecamatan Rubaru ke Kecamatan Kota hanya untuk menjual kacang demi mencukupi kebutuhan keluarga.

MOH RAZIN, SUMENEP

Mbah Subami termasuk orang yang tegar dalam menghadapi masa tuanya yang “kurang berpihak”, dia harus kurang tidur untuk menyiapkan dagangannya. Pada pukul dua siang, biasanya dia sudah naik angkutan umum untuk menuju area perkotaan, tepatnya mangkal di depan Toko el-Malik utara Taman Adipura, perjalanan sekitar setengah jam lebih itu menghabiskan ongkos sekitar Rp6.500 untuk satu kali jalan.

“Saya itu biasanya turun belakang Masjid Jami’, dan berjalan menuju toko tempat saya biasa jualan itu ke utara timur pos Satpol PP, tiap hari saya tidak pernah absen, karena kalau tidak jualan saya tidak bisa membiayai kehidupan sehari-hari keluarga,” tuturnya.

Dia berjualan meskipun tidak diatur durasi seperti kerja di kantoran, tetapi keadaan yang memaksa sehingga harus pulang larut demi menunggu jualannya laris. Paling mujur waktu kilat sekitar pukul sebelas malam dan tidur di emperan toko untuk menunggu taksi pengantarnya pulang yaitu sekitar sebelum waktu subuh.

Sampai di rumah Mbah Sabami tidak langsung membaringkan tubuhnya guna melepas penat, tetapi langsung beraktivitas untuk persiapan dagangan, mulai mencuci kacang, mengukus, dan menyangrai. Terkadang azan dzuhur sudah berkumandang persiapan juga masih belum rampung.

“Kalau laku jam sepuluh saya sudah tidur di toko tingkat di utara Masjid Jami’, tapi kalau tidak ya ditungguin dulu barangkali ada yang mau beli. Ya istirahatnya di sini cuma, sampai darusan sebelum subuh karena keburu pulang ditunggu taksi. Sampai di rumah langsung persiapan yang mau dijual nanti malam,” imbuhnya.

Meski seperti itu, dia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, merawat suaminya yang sedang sakit dan bahkan tidak bisa berjalan sejak tahun 2014 itu dijadikan ladang pengabdiannya sebagai seorang istri.

Tidak berhenti di situ, banyak tanggungan untuk dibiayai, karena dia tinggal berlima, dengan cucunya setelah suami anaknya (menantunya) meninggal dunia juga karena sakit. Sehingga dia juga diberikan beban membiayai cucunya sampai lulus SMA dan sekarang memilih bekerja sebagai satpam di Surabaya.

“Suami sudah tidak bisa ngapa-ngapain, cuma dirawat sendiri di rumah. Anak saya juga sibuk dengan cucu saya yang paling muda itu, alhamdulilah berkat jualan kacang ini kebutuhan sehari-hari cukup dan bisa menyekolahkan cucu hingga bisa bekerja sekarang,” paparnya.

Tidak besar receh yang didapat mbah 65 tahun itu, hanya sekitar Rp75 ribu setiap malamnya, tapi dia terus bersyukur. Dia juga tidak pernah memikirkan keberadaannya, sebab motivasi terbesar itu adalah kenyamanan keluarga.

Tidak sedikit orang yang mengulurkan tangannya untuk membantu, beranika ragam makanan diberikan oleh orang yang tidak dikenal, mulai dari roti, nasi, dan cemilan lainnya.

“Ini banyak yang memberi ke saya, termasuk ini (memperlihatkan satu bungkus nasi goreng), tapi ini akan dibawa pulang sebagai oleh-oleh ke keluarga di rumah, kalau saya makan seadanya yang penting kenyang,” pungkasnya. (pai)

Komentar

News Feed