Mega Tani Sejahtera: Isu Ada Permainan Pupuk itu Tidak Benar!

  • Whatsapp

Kabarmadura.id – Masyarakat Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan kini diterpa isu yang menggelisahkan mereka. Yakni, pupuk langka menjelang cocok tanam musim penghujan. Bahkan, ada unsur permainan harga dari kios.

Isu tersebut disikapi secara serius oleh Sundari. Pemilik Kios Mega Tani Sejahtera itu mengungkapkan, isu tentang kelangkaan pupuk yang menyebabkan Kelompok Tani terancam tidak mendapatkan jatah pembelian pupuk sama sekali tidak benar.

“Stok pupuk mencukupi. Isu kelangkaan itu hanya meresahkan masyarakat. Sama sekali tidak benar,” tegas Sundari di tengah-tengah pertemuan ketua kelompok tani dan distributor di rumahnya, belum lama ini.

Menurutnya, sekarang bukan musim hujan. Sehingga, petani belum masa pembelian pupuk. Hasil jual tembakau petani yang belum sepenuhnya terbayar juga menjadi penyebab belum tertebusnya pupuk.

“Apalagi harga tembakau murah. Terlepas dari itu, kami pastikan pupuk tidak langka,” tegasnya.

Ia juga menepis tudingan menjual pupuk di atas harga yang telah ditentukan oleh pabrik.

“Yang bilang langka, silahkan datang sendiri ke kios. Bisa cek sendiri di sini. Kami pastikan juga tidak ada penjualan pupuk di atas harga standar,” tukasnya.

Sebelumnya tersiar kabar beberapa Kelompok Tani di Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan mulai resah. Stok pupuk mulai langka. Itu berbanding terbalik kebutuhan petani untuk persiapan menghadapi musim penghujan semakin meningkat.

Menurut salah seorang ketua Kelompok Tani di Kertagena Tengah, ada 6 Kelompok Tani yang terancam tidak mendapatkan jatah pembelian pupuk dari Kios Pertanian Mega Tani Sejahtera, seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka adalah Kelompok Tani Al Ikhlas, Jaya Abadi, Merah Delima, Sanjaya, Anugrah Jaya dan Barokah. Hal ini terjadi ditengarai karena pemilik kios lebih mementingkan pedagang pupuk ketimbang para Kelompok Tani.

“Kami sangat menyayangkan. Ada 6 Kelompok Tani di Kertagena Tengah ini yang terancam tidak mendapatkan jatah pembelian pupuk. Karena pemilik Kios lebih memilih menjual pupuknya ke pedagang. Sehingga kami tidak mendapatkan jatah lagi,” ungkap salah satu ketua Kelompok Tani di Kertagena Tengah yang enggan disebutkan namanya.

Penegasan tersebut, kata Sundari, sama sekali tidak benar. Hanya melahirkan opini yang menyesatkan.

“Ada memang ketua kelompok tani yang tanya-tanya. Ketika ditanya balik mau beli berapa, dia tidak merespon. Saya bahkan minta datang sendiri ke kios, tetap saja tidak datang. In kan tidak bijak,” sesal Sundari. (A6)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *