Melanggar Prokes, Tempat Wisata di Sampang akan Ditutup

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) KETAT- Sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Sampang kembali diperketat dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes).

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Sejumlah destinasi wisata di Sampang sudah mendapatkan rekomendasi beroperasi. Namun, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat semua pemilik usaha harus mengantisipasi terjadinya kerumunan. Termasuk, pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes). Hal tersebut diungkapkan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang Marnilam, Minggu (1/8/2021).

Bahkan, disarankan lokasi wisata beroperasi dengan pembatasan waktu. Sebelumnya, sejumlah lokasi wisata dibuka secara bersyarat. Yakni, menerapkan clean health safety dan environment (CHSE). Masing-masing, Wisata Lon Malang, Pantai Camplong dan Air Terjun Toroan. Namun, pengoperasian tetap diwajibkan tidak melanggar prokes.

Bacaan Lainnya

“Tidak boleh terjadi kerumunan. Sehingga, semua pemilik atau pengelola tempat wisata harus menerapkan aturan khusus. Jika ada yang melanggar prokes, akan kami cabut izin usaha wisatanya. Karena, selama PPKM harus ada pembatasan berkerumun. Sehingga pembatasan waktu juga perlu dilakukan,” ucapnya.

Dia menegaskan, penerapan PPKM tidak hanya dilakukan oleh pemerintah pusat. Namun, di Sampang meneruskannya dengan surat keputusan (SK) bupati. Sehingga, semua pihak harus mematuhi penerapan PPKM. Selama PPKM dan wabah Covid-19 masih berlangsung, maka penerapan prokes ketat wajib dilakukan.

“Kami sudah koordinasikan dengan Satgas Covid-19, jika ada laporan pelanggaran kami akan mencabut izin pengelolaan tempat wisata. Termasuk, menutup sementara lokasi usaha wisata,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Sampang Fadol mendukung rencana tindakan tegas Disporabudpar Sampang. Pihaknya berharap, semua pengelola usaha memahami dan mematuhi penerapan PPKM untuk keamanan sendiri dan keamanan banyak orang. “Kami berharap, semua pihak mendukung penerapan PPKM. Semestinya semua usaha wisata untuk sementara ditutup. Sehingga, tidak ada klaster baru yang lahir di lokasi wisata,” responnya.  (man/ito)

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *