oleh

Melawat ke Malaysia, Asep Berlian Dikerjai Saat Penukaran Rupiah ke Ringgit

Cerita di Balik Perjalanan Tim Madura United Uji Coba ke Malaysia

Kabarmadura.id-Lawatan Madura United ke Negeri Jiran untuk menghadapi Johor darul Takzim dan Terengganu FC, tercatat sebagai lawatan perdana ke luar negeri yang dijalani tim berjuluk Laskar Sape Kerrab itu.

Dari seluruh pemain yang dibawa serta dan ofisial tim, tidak seluruhnya berpengalaman bermain ke luar negeri. Namun, bagi mereka yang sudah pernah menjadi bagian dari Timnas Indoensia, lawatan ke luar negeri adalah hal yang biasa dijalani.

SYAHID MUJTAHIDY, JOHOR BAHRU, MALAYSIA

Minggu (19/1/2020) sekitar pukul 07.00 WIB, Manajer-Pelatih Madura United Rahmad Darmawan sudah tiba di mess Madura United di Bangkalan. Pagi itu, skuad tim berjuluk Laskar Sape Kerrab ini harus bertolak ke Malaysia.

Kedatangan Rahmad Darmawan ke mess sebelum menjalani laga tandang ini, menjadi kebiasaan baru bagi tim. Pelatih yang biasa disapa RD ini, rupanya datang untuk membangunkan para pemainnya yang masih tertidur pulas, sekaligus memastikan kesiapan sebelum bertolak ke bandara.

Inspeksi mendadak ini, tidak sulit bagi RD, karena dia tinggal di perumahan yang tidak jauh dari lokasi mess pemain Madura United. RD yang tinggal di Khayangan Residence di Jalan Soekarno Hatta, hanya berjarak sekitar 2 kilometer dengan mess pemain yang berlokasi di Kelurahan Martajasah, Bangkalan.

Ditemani kitman Bambang Eka Wahyudi, RD tidak canggung membangunkan para pemain yang masih tertidur.

Sementara mesin bus Madura United masih dipanasi sebelum mengantar tim ke bandara, kitman Agus As’ari dan dua tukang pijat Remedy dan Maulud sudah berangkat lebih awal untuk mengantar barang.

Setengah jam kemudian atau sekitar pukul 7.30 WIB, dengan perlahan, Aflid-sang sopir bus Madura United, mulai menggenjot pedal gasnya untuk mengantar para pemain ke bandara internasional Juanda, Sidoarjo. Lantaran masih banyak yang mengantuk, para pemain melanjutkan mimpinya di atas bus.

Ini kali pertama rombongan Madura United memasuki terminal 2 bandara Juanda Sidoarjo yang memang jalur menuju penerbangan lintas negara. Tiba di bandara, skuad Madura United sempat dikejutkan dengan patung kerapan sapi lengkap dengan background penonton, serta beralaskan rumput sintetis atau buatan.

Salah satu pemain Madura United, Slamet Nurcahyo, langsung merasa, sambutan miniatur Sape Kerrab (kerapan sapi) itu ada, karena kebetulan yang berangkat tim berjuluk Laskar Sape Kerrab. Tak ayal, gelandang bernomor punggung 10 itu enggan melewatkan untuk berswafoto bersama di dekat patung tersebut.

Selain skuad Madura United, pengunjung yang lain juga terkesima dengan patung Sape Kerrab tersebut dan mencoba mengabadikan momen tersebut.

“Kebetulan ini, bisa-bisanya Sape Kerrab yang di sini,” ucapnya.

Setelah melalui satu pemeriksaan, Madura United kembali menemukan gambar Sape Kerrab di dinding pembatas dan background spot foto yang disedikana di lantai 2 Bandara Internasional Juanda 2 Surabaya.

Tepat pukul 11.15 WIB pesawat Air Asia yang membawa rombongan pemain Madura United ke Malaysia lepas landas dari Bandara Juanda Sidoarjo.  Para pemain memanfaatkan penerbangan untuk beristirahat total selama penerbangan. Lumayan, mereka bisa menggunakan 2 jam lebih perjalanan untuk merehatkan tubuh mereka.

Sapaan selamat datang di Malaysia, baru diterima rombongan pukul 14.20 WIB, saat pesawat yang melayani rute Surabaya-Malaysia itu landing di bandara Johor Bahru.

Masing-masing mulai menghidupkan gawainya. Mereka ingin mengabarkan kepada keluarganya bahwa sudah mendarat di Malaysia.

Namun, semua gawai peserta rombongan tidak bisa digunakan, hanya muncul huruf R pada penanda sinyal gawai.

Kejadian itu sempat membuat sebagian pemain bingung, lantaran baru pertama kali ke luar negeri, salah satunya adalah Asep Berlian. Beruntung, para pemain lain yang sudah berpengalaman,  memberitahuanya bahwa harus melakukan roaming atau membeli kartu perdana operator telepon di Malaysia.

“Ya sempat bingung sih, kita kan biasa menjalani penerbangan lebih dari 4 jam malah, tetapi telepon tidak masalah. Baru ingat kalau sekarang sudah di negeri seberang,” ungkap Asep Berlian yang menggambarkan kekagetannya dengan memabandingkan perjalanan dari Surabaya-Malaysia dengan penerbangan Surabaya-Jayapura.

Akhirnya, para pemain berburu segera sampai pintu keluar. Karena di sana sudah banyak stand penjualan kartu seluler di Malaysia. Lagi-lagi, kebingungan melanda sebagian pemain. Sebab, mereka belum mengantongi uang ringgit untuk melakukan pembelian.

Untuk urusan kartu  belanja, Asisten Pelatih Rasiman yang memiliki pengalaman lama berada di Malaysia,  sudah menyiapkan uang ringgit untuk kepentingan membeli kartu perdana. Dengan berbekal RM40 atau sekitar Rp134.557,6, Rasiman sudah memiliki kartu perdana.

Namun, berbeda dengan yang dialami Asep Berlian. Pemain asal Bogor tersebut baru bisa mendapatkan uang ringgit, setelah memanfaatkan ATM bersama yang bisa tarik tunai mata uang negeri jiran tersebut.

Tetapi, Asep menjadi objek candaan dari para pemain lainnya. Dia yang belum update nilai tukar rupiah dan ringgit itu, dipaksa untuk menarik sebanyak 1.000 ringgit atau setara Rp3,3 juta untuk sekedar membeli kartu perdana .

Banyaknya uang ringgit yang ditarik, menjadikan  Asep langsung dikerubuti  pemain lainnya dengan peran sebagai makelar penukaran uang.

“Udah nanti aku separuhnya, tak ganti pas di Madura,” kata Slamet yang menjadikan Asep sedikit melongo karena bingung untuk menolak permintaan rekan satu timnya tersebut.

Selesai menukar mengambil uang ringgit, mereka menuju tempat pembelian kartu perdana Malaysia dan membelinya bersama-sama.

Kondisi tersebut menjadikan rombongan Madura United tiba di Hotel Shistle Johor Bahru sekitar pukul 16.00 waktu Malaysia. (bri/waw)

Komentar

News Feed