oleh

Melihat Kembali Sejarah Islamisasi di Indonesia Timur

Oleh Ahmad Farisi*

Di Indonesia, Islam adalah agama mayoritas. Padahal, agama yang diturunkan ke muka bumi melalui kenabian Muhammad Saw ini lebih akhir masuk Indonesia ketimbang Hindu-Buddha. Pertanyaannya kemudian: Mengapa? Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar (2020) menjawab pertanyaan kita itu dengan buku tipis yang berjudul Jaringan Ulama dan Islamisasi di Indonesia Timur.

Buku Hilful ini, memang tidak secara keseluruhan membahas proses dan sejarah Islamisasi di Nusantara. Kajian dan bahasanya hanya mencakup beberapa daerah di Indonesia Timur, yakni, mulai Gowa, Tallo, Tallu, Bima, Sumbawa, dan Lombok.

Namun, pun kajian dan bahasanya terbatas di Indonesia Timur, setidaknya buku ini bisa dijadikan sebagai bahan bacaan, informasi, dan catatan penting bagaimana proses islamisasi di Indonesia Timur (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Nusantara) bisa berkembangsuburyang hingga kini menjadi agama mayoritas.

Salah satu aspek penting yang dicatat oleh Hilful atas suksesnya proses Islamisasi di Indonesia Timur ini adalah pendekatan kultural. Yang manapendekatan kultural ini bisa diartikan sebagai proses islamisasi dengan memanfaatkan eksistensi kebudayaan setempat. Dan, nampaknya, proses islamisasi di Indonesia Timur ini, dengan merujuk pada beberapa sumber literatur sejarah, juga sama dengan proses islamisasi diberbagai daerah di Nusantara.

Selain pendekatan kultural, kesuksesan proses islamisasi di Indonesia Timur juga dipengaruhi oleh semangat Islam yang cinta kasih. Sebagaimana dicatat Hilful, dari banyaknya ulama yang ikut serta menjadi bagian penting dari proses islamisasi di Indonesia Timur, semuanya menawarkan semangat perdamaian dan persahabatan seperti yang diajarkan oleh Islam.

Di antara banyak ulamayang ikut serta dalam proses islamisasi Indonesia Timur, adalah Sayyid Jalaluddin al-‘Aidid, namanya. Ia adalah seorang guru Syaikh Yusuf al-Makasari. Sebelum Sayyid Jalaluddin al-‘Aidid, ada Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro yang merupakan penyebar pertama Islam di Makassar.

Menurut Hilful, Sayyid Jalaluddin al-‘Aidid datang ke Makassar pada abad ke-17. Yang secara langsung memberi pengaruh cukup penting bagi perkembangan dan proses islamisasi di bumi Makassar, Banjarmasin, dan Bima.

Pada rentang waktu 1667, terjadilah Perjanjian Bongaya. Perjanjian ini berawal dari adu domba yang dilakukan oleh pihak Belanda sebagai siasat pecah belah yang menjadi peristiwa perang saudara antara suku Bugis di Buton dan Makassar di Gowa. Sayyid Jalaluddin al-‘Aidid juga turun berjuang melawan Aru Palaka, Raja Boni. Namun, karena ada dukungan Belanda terhadap suku Bugis, Gowa mengalami kekalahan. Maka, kemudian muncullah Perjanjian Bongaya itu yang mengharuskan dua kesultanan, yaitu Gowa dan Bima, untuk tunduk pada kekuasaan Belanda.

Atas peristiwa itu, Sayyid Jalaluddin al-‘Aidid mengasingkan diri ke tanah Bima. Kemudian melanjutkan misi penyebaran Islam pada masa kesultanan Bima II, yaitu Sultan Sirajudin. Di Bima, sang Sayyid menyebarkan Islam dengan berbagai pendekatan, di antaranya adalah melalui tradisi Maulidan dan serta melalui tarekat Khalwatiyah (halm 69).

Buku Hilful ini, selain membahas sejarah dan proses islamisasi di Indonesia Timur, ada beberapa bab khusus yang digunakan untuk membahas beberapa jaringan ulama di Nusantara yang sebagian di antaranya, juga berkaitan erat dengan proses islamisasi di Indonesia Timur. Data-data otoritatif, seperti BO Sangaji Kiai, Lontara Gowa, Lontara Wajo, Panambo Lombok, Babul Quwai’id, Jawharat al-Ma’arif adalah seabrek refrensi yang menjadi bahan 132 halaman ini.

*) Pembaca buku di Garawiksa Institute Yogyakarta

 Judul Buku      : Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur

Penulis             : Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Oktober, 2020

Tebal               : 132 halaman

ISBN               : 978-623-7378-80-8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed