oleh

Melihat Perjuangan Musrifah Buktikan Perempuan Bisa Berdikari

Patahkan Stigma “Perempuan” Hanya Pelayan di Dapur

Kabarmadura.id/Sampang-Sulit rasanya bagi mayoritas perempuan yang lahir di wilayah pedesaan untuk menanggalkan stigma “perempuan tugasnya hanya di dapur”. Namun hal itu tidak berlaku bagi Musrifah. Aktivis milenial yang mampu mematahkan stigma “perempuan hanya bertugas sebagai pelayan di dapur”.

JAMALUDDIN, SAMPANG

Musrifah merupakan gadis yang terlahir di Dusun Mangngar, Desa Pajeruan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang. Meski terlahir di tengah masyarakat desa, dirinya mempunyai tekad kuat untuk menggapai keinginannya berada di perguruan tinggi, meskipun hal itu sempat dilarang oleh orang tuanya.

Terlahir sebagai gadis desa, Musrifah harus terganjal dengan stigma miring tentang perempuan yang dinilai tidak bisa berbuat banyak di luar dapur. Terlebih, dirinya merupakan anak tunggal dari pasangan Sayyidah dan H. Muhtarom, yang merupaka keluarga perantauan.

Diceritakan Musrifah, saat menyampaikan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, dirinya sempat terbentur dengan restu orang tua. Orang tuanya sempat berfikiran, setinggi apapun pendidikan yang ditempuh, perempuan hanya akan menjadi “pelayan” di dapur.

Stigma seperti itu lanjut dia, sudah menjadi sebuah mindset masyarakat di desanya. Namun demikian, Musrifah malah menjadi larangan itu sebagai pelecut semangat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Dirinya bertekad untuk membuktikan, bahwa perempuan tidak selamanya ada di dapur.

“Saya sempat dilarang kuliah. Bahkan saya sempat ditanya buat apa kuliah kalau hanya akan ke dapur juga. Tapi saya bertekad, melalui bangku kuliah, saya akan membahagiakan ibu saya,” katanya, Senin (20/1/2020).

Meski harus melawan restu orang tua yang tidak mengizinkannya untuk kuliah. Dirinya tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dirinya baru mendapatkan restu orang tua, setelah dirinya berada di semester III.

Restu dari orang tua itu pun, semakin menjadi cambuk bagi Musrifah untuk lebih giat lagi dalam mencari ilmu. Walaupun pada saat itu, ibunya masih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Jiran Malaysia.

“Saya tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan orang tua. Sebab itu yang membuat saya semakin semangat untuk membahagiakan orang tua,” ungkapnya.

Saat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Institusi Agama Islam Nazhatut Thullab (IAI NATA) Sampang, dirinya diberi amanah untuk menjadi Presiden Mahasiswa (Presma) IAI NATA.

Meski sempat pesimis, namun berkat tekad kuat untuk membuktikan jika perempuan bisa berbuat lebih dari apa yang difikirkan oleh masyarakat desa, serta mengingat janjinya pada kedua orang tua untuk membuktikan perempuan tidak selamanya di dapur, dirinya meneguhkan tekad menerima amanah besar tersebut.

“Saya hanya ingin membuktikan bahwasanya perempuan juga memiliki kesempatan yang sama seperti laki-laki, bahkan bisa lebih,” tutup aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu. (pin)

Komentar

News Feed