Melihat Perjuangan Warga Mencari Air Bersih di Musim Kemarau

  • Whatsapp
BERSYUKUR: Sejumlah warga di Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung Sampang menyambut antusias kedatangan tangki bermuatan bantuan air bersih.

Kabarmadura.id/Warga Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung, Sampang, terpaksa harus mengantri hingga berjam-jam untuk memenuhi kebutuhan memasak dan mandi sehari-hari. Bahkan, warga harus menempuh jarak hingga puluhan kilometer ke desa tetangga, hanya untuk mendapatkan air pada musim kemarau tahun ini.

JAMALUDDIN, SAMPANG

Siang itu, terik matahari begitu menyengat. Dari kejauhan terlihat puluhan orang berjejer bersama tumpukan jeriken di samping sebuah sumuar kecil di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.

Satu persatu dari mereka, tampak bergantian mengisi jeriken dengan air menggunakan timba kecil. Setelah jeriken penuh dengan air, mereka menyunggi jeriken tersebut ke rumah masing-masing. Hal itu ternyata dilakukan warga setiap hari, hanya untuk mendapatkan air di tengah kemarau berkepanjangan yang terjadi di wilayah setempat.

Sahri (40), salah satu warga Dusun Bangsal, Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung ini mengatakan, dirinya terpaksa harus mengantri air ke sejumlah sumur di desa tetangga yang masih menyisakan air untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sebab, sejumlah sumur yang menjadi sumber air di rumahnya telah kering sejak beberapa bulan lalu. Meski harus mengantri hingga berjam-jam dan menempuh jarak hingga puluhan kilometer, dirinya bersama sejumlah warga lain tetap sabar demi memenuhi kebutuhan .

“Ini terpaksa dilakukan, karena semua sumber air di sumur-sumur warga di desa ini sudah kering,” ujarnya, kemarin (14/10)

Desa Gunung Eleh, merupakan salah satu dari puluhan desa di Kabupaten Sampang, yang rawan krisis air bersih saat kemarau tiba. Desa Gunung Eleh, merupakan satu dari 67 desa mengalami kekeringan. Kekeringan di desa ini tergolong kering kritis, puluhan warga yang tidak mampu membeli air bersih, terpaksa harus mencari air ke desa tetangga yang masih memiliki sumber air yang mencukupi.

Bahkan tidak heran rasanya, ketika satu unit mobil tangki berisikan 7.000 liter lebih air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, yang datang ke desa tersebut, langsung diserbu oleh puluhan warga yang sudah mengantri untuk mendapatkan air.

Warga yang sejak beberapa bulan terakhir kesulitan air, tampak berdatangan dari berbagai arah dengan menenteng jeriken untuk mendapatkan air. Diiringi dengan sorak soray dan gelak tawa tanda kebahagiaan, puluhan warga memadati sebuah  tandon air yang sudah dipersiapakan untuk pengambilan air yang didistribusikan oleh BPBD Sampang tersebut.

“Selama ini warga kesulitan untuk mendapatkan air, antri dari pagi baru bisa ngisi jeriken dengan air di sore hari,” ungkapnya.

Dirinya berharap, bantuan air tidak hanya datang dari pemerintah kabupaten, melainkan dari pihak lain yang ingin berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan. Sebab, jika tidak mampu beli, warga harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk mendapatkan air, lantaran sudah tidak ada sumur yang bisa memenuhi kebutuhan warga.

Sementara itu, Kepala Desa Gunung Eleh Akhmad Mohtadin menyampaikan, untuk menangani masalah krisis air yang ada di desanya tersebut, pihaknya hanya bisa mengajukan permohonan bantuan air ke BPBD Sampang.

“Selain itu, juga ada bantuan air dari anggota DPRD Kabupaten Sampang, meski saat ini bantuan tersebut belum bisa merata di seluruh penjuru desa,” jelasanya. (pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *