oleh

Melintasi Ngerinya Segitiga Bermudanya Sumenep

(Catatan Perjalanan Wartawan Kabar Madura Fathor Rahman ke Pulau Masalembu)

Kabarmadura.id-Siapa yang mendengar segitiga bermuda, yang muncul pertama kali mungkin terkesan ngeri. Namun kali ini bukan segitiga bermuda di perairan Antlantik, namun di Kepulauan Sumenep. Lokasinya di antara Pulau Masalembu, Masakambing dan Pulau Kramean.

Banyaknya kecelakaan laut di perairan ini, kemudian dikenal publik dengan istilah segitiga bermuda yang penuh mistis. Bahkan, menarik perhatian peneliti untuk mengungkap misteri di perairan itu agar terkuak secara ilmiah.

Sejak tahun 1980-an, tercatat sembilan kapal yang hilang di perairan Masalembu, yang kemudian disebut-sebut sebagai salah satu perairan yang mengerikan. Salah satunya KM Tampomas II, bahkan sampai dimonumenkan melalui lagu oleh Iwan Fals dengan judul yang sama dengan nama kapal itu.

Hingga akhirnya, nama kapal penumpang milik PT Pelni itu dijadikan sebuah jalan di Kecamatan Masalembu.

Tentunya, jika orang seperti saya, termasuk orang lain–yang sebelumnya tidak pernah datang–apalagi yang mendengar cerita segitiga bermuda, mungkin berpikir ulang untuk ke Pulau Masalembu.

Namun, karena rasa penasaran untuk tahu seperti apa pulau yang masih masuk Kabupaten Sumenep itu, keingginan ke sana justru semakin tinggi. Sayang, jika berangkat dari daratan yang dimulai dari Pelabuhan Kalianget, jaraknya sama seperti jarak tempuh ke Kalimantan.

Jarak Pulau Masalembu dari Pelabuhan Kalianget sekitar 128 mil atau kurang lebih 12 jam perjalanan laut, sama dengan jarak dari Pulau Masalembu ke Kalimantan. Pulau/Kecamatan Masalembu memiliki tiga pulau, yakni Pulau Masalembu sendiri, Masakambing dan Kramean.

Sejarahnya, Pulau Masalembu yang terdiri dari tiga pulau, Masakambing, Kramean, dan Pulau Masalembu sendiri. Sekitar 1981, kemudian terbentuk entitas baru sehingga menjadi empat desa, yaitu Desa Masalima di Pulau Masalembu, Desa Masakambing di Pulau Masakambing, Desa Kramean di Pulau Kramean dan Desa Sukajeruk di Pulau Masalembu.

Lokasi Pulau Kramean, lebih dekat ke Kotabaru, Kalimantan Selatan. Namun pulau tersebut masuk Kabupaten Sumenep.

Kembali ke ketertarikan Saya untuk datang ke Pulau Masalembu. Selain menjalankan tugas sebagai jurnalis, ada banyak cerita menarik tentang Masalembu. Termasuk pulau yang dihuni banyak dihuni perempuan cantik berhidung mancung, berbibir merah, bermata bulat dan berkulit putih.

Itulah yang semakin memantik rasa penasaran terhadap penghuni Kampung Bugis itu. Terlebih, mereka diketahui tidak memakai Bahasa Madura.

Terpenting, anggota DPRD Sumenep Darul Hasyim Fath asal Masalembu sekaligus sahabat saya, berhasil meyakinkan untuk ikut serta Safari Kepulauan ke Masalembu, bahwa Saya, kata Darul, tidak akan menemukan sesuatu di planet bumi ini, seperti yang ada di kampung halamannya.

Selain itu, satwa langka di Masalembu juga menarik perhatian, salah satunya Kakaktua jambul kuning. Kemudian alam yang eksotis dengan hamparan laut yang bersih, berpasir putih dan berair bening juga menjadi alasan untuk singgah sejenak.

Kegiatan Pemkab Sumenep bertajuk Safari Kepulauan itu mengantarkan Saya untuk ikut rombongan bupati Sumenep bersama jajaran OPD di lingkungan Pemkab Sumenep ke Masalembu.

Layaknya kegiatan pemerintahan pada umumnya, sebelum naik ke atas kapal Darma Kencana IX, apel bersama dilakukan.

Sekitar pukul 17.00, Jumat (15/11/2019), ratusan rombongan yang ikut Safari Kepulauan, satu per satu naik ke atas kapal, termasuk para jurnalis bersiap untuk berangkat ke Masalembu. Selama 12 jam, rombongan Safari Kepulauan, termasuk penulis mulai melintasi lautan dari centimeter hingga mil bermalam di atas kapal.

Setibanya di Pulau yang memiliki tiga suku, Bugis, Mandar dan Madura itu, rombongan disambut Pemerintah Kecamatan Masalembu dan warga setempat. Disusul berbagai kegiatan pemerintahan selama dua hari di pulau tersebut.

Di samping meliput dan mengikuti kegiatan Pemkab Sumenep, para jurnalis yang penasaran dengan Pulau Masalembu, karena baru pertama menginjakkan kaki di pulau yang juga banyak memiliki kuliner khas itu, kemudian berkeliling pulau untuk mendapatkan informasi menarik guna menjadi bahan tulisan hingga angel menarik yang disukai redaksi dan menarik pembaca dari 14 media yang ikut rombongan Pemkab Sumenep.

Kehidupan masyarakatnya, bagi penilaian penulis, tidak bisa menikmati fasilitas layaknya di daratan. Seperti listrik yang belum 24 jam, jaringan telekomunimasi yang baru satu vendor yang ada di Masalembu.

Namun karena sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, sehingga kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak seperti para jurnalis yang ‘tersiksa’ karena kesulitan sinyal dan listrik yang tidak 24 jam.

Soal infrastruktur, seperti jalan, di Kecamatan Masalembu nampak sangat parah jika dibandingkan kecamatan kepulauan lainnya di Sumenep. Hal itu tentunya butuh perhatian Pemkab Sumenep.

Dari empat desa yang ada, hanya di Desa Masalima kondisi jalannya yang sudah cukup bagus. Sementara di desa lainnya, seperti Desa Sukajeruk, yang sempat saya lalui, kondisi jalannya masih sangat memprihatinkan.

Mengitari Pulau Masalembu, ternyata banyak disambut senyum ramah masyarakat setempat. Sapaan ramah itu membuat para jurnalis tidak kesulitan berselancar untuk kebutuhan tulisan dengan sudut pandang menarik.

Masyarakatnya juga banyak yang kreatif. Terbukti, ada banyak kerajinan yang dibuat masyarakat setempat. Seperti songkok, topi, dan berbagai kerajinan hasil kreativitas anak-anak setempat.

Pengalaman dua hari pulau/kecamatan berpenduduk 29 ribu itu, seketika melupakan ngerinya segitiga bermuda. Sehingga Saya berkeinginan untuk kembali lagi. Bukan karena apa-apa, di Masalembu banyak ditemukan hal yang tidak ditemukan di darat dan di sejumlah pulau lainnya di Sumenep.

Pada 2013 lalu, Saya pernah ikut Safari Kepulauan tahun 2013, pengalaman itu tidak seperti ketika ke Masalembu. Jadi, saya sudah pernah singgah di semua kecamatan di kepulauan Sumenep.

Apalagi, meski melintasi segitiga bermuda, rombongan selamat hingga di Pelabuhan Masalembu dan pulang kembali menuju Pelabuhan Kalianget. Kendati tidak bisa dipungkiri, perasaan khawatir terus menemani pikiran saat melintasi perairan Masalembu. Sebab, sesekali kapal harus bergetar lantaran dihantam ombak. Di sepanjang perjalanan, tidur pun tidak bisa nyenyak.

Minggu (17/11), sekitar jam 9.00 rombongan naik ke kapal bersiap untuk menuju Pelabuhan Kalianget. Otomatis, itu mengingatkan saya kembali pada segitiga bermuda, apalagi pengalaman ini menjadi kali pertama perjalanan laut terlama.

Namun sekitar jam 23.00, akhirnya sampai dengan selamat di Pelabuhan Kalianget. Kekhawatiran tentang segitiga bermuda, sebagaimana dirasakan sebelum hingga pulang, tidak terjadi pada rombongan kami. Syukur Alhamdulillah.

Komentar

News Feed