oleh

Memaknai “Janji Suci” Baddrut Tamam

Pemilihan lagu yang dibawakan oleh bupati Pamekasan Baddrut Tamam disalah satu stasiun televisi beberapa waktu lalu itu bukan tanpa alasan dan sebab, apalagi karena lagu ini sangat digandrungi oleh kaum millenial.

Ada sebagian kelompok menilai, pemilihan lagu “Janji Suci” sebagai cara pintas bupati Pamekasan untuk mendekati para kaum milenial agar mendapatkan banyak perhatian. Sebagian berasumsi bahwa Bupati ingin menunjukkan bakatnya yang tersimpan melalui suara merdunya. Namun, tafsiran itu masih multitafsir yang bisa dilakukan oleh semua orang.

Terlepas dari itu, melalui janji suci ini, Ada pesan tersirat yang ingin disampaikan untuk masyarakat. “Janji Suci” merupakan komitmen dirinya dengan masyarakat dari sejak awal menghibahkan dirinya untuk terus memberikan layanan dan hasil terbaik melalui program-program yang sudah dan sedang di jalankan.

Berdasarkan literatur kebahasaan Indonesia. Janji memiliki makna yang cukup luas, janji bermakna menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat. Ia sudah berjanji dengan masyarakat Pamekasan dalam lima tahun kepemimpinannya untuk bisa memajukan dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Sementara Kata Suci mempunyai makna yang cukup panjang diantaranya Bersih, Keramat dan Murni. Misalnya Bersih dari korupsi, nepotisme dan kolusi dalam pemerintahannya. Dalam banyak momentum sering kali disampaikan dan tunjukkan tidak ada main-main dan serius dalam membangun kabupatennya sehingga bisa berdaya saing dengan kabupaten maju lainnya di Indonesia. Reformasi birokrasi sekelumit bagian dari tata kelola pemerintah yang bersih.

Tanpa disadari oleh masyrakat, Bupati Pamekasan seyogyanya ingin kembali mengingat janji dan komitmen dengan masyarakat Pamekasan melalui lagu “Janji Suci” yang dibawakan untuk membangun kabupaten yang ia pimpin sehingga bisa menjadi Pamekasan hebat sebagaimana jargonnya.

Tentu masyrakat tau, Janji politik tidak bersifat mengikat. Pemberi janji tidak memiliki kewajiban hukum untuk memenuhi janjinya. Ia bisa sajadan memang seringkalimengingkari janji.

Sang pemberi janji juga tidak bisa dituntut secara hukum. Rakyat yang telah mendengar dan percaya pada janji politik tidak bisa melaporkan seseorang yang telah memberi janji kepada aparat penegak hukum ataupun otoritas lainnya.

janji selalu berdampak etis-moral. Janji selalu berkaitan dengan hati nurani. Jika demikian, janji yang diberikan kepada rakyat mestinya diwujud-konkritkan. Meskipun tidak memiliki kewajiban hukum, tetapi seseorang yang memberikan janji memiliki kewajiban etis-moral untuk memenuhinya.

Saat dia memberi janji, saat itulah dia sedang melakukan “perkawinan politik” dengan rakyat. “Perkawinan politik” tersebut “bermeteraikan” imperatif etis-moral.  Jika demikian, janji itu harus dipenuhi.

Dua tahun mengelola Pamekasan dengan prinsip melayani dan selalu ingin membantu sudah banyak hal positif yang diberikan terhadap masyarakat. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdaryaan masyrakat hingga dan pembangunan.

Kata demi kata yang pernah diucapkan menjadi janji, mesti direfleksikan ulang, diinternalisasi dan diartikulasikan lewat program demarginalisasi.

Tugas konkrit bupati merakit ide,mendesain cara sehingga mampu menjabarkan konsep pembangunan sebagaimana janji politik yang menjadi acuan dalam menjalankan roda pemerintahan.

(MULYADI IZHAQ-PEMUDA PAMEKASAN)

Komentar

News Feed