Memaknai Kemerdekaan di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

Misdar Mahfudz
Ketua IKA FISIB UTM dan Alumnus Magister Sosiologi UNAIR

Tepat pada tanggal 17 Agustus bulan ini Indonesia memasuki 75 tahun merdeka. Bila diibaratkan dengan usia manusia, maka sudah sangat dewasa dan semestinya mewujudkan apa yang sudah menjadi mimpi-mimpi kemerdekaan. Sebagaimana termaktum secara jelas dan gamblang dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945. Alinea ke-2 negara Indonesia yang merdeka: bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Bacaan Lainnya

Dalam momentum yang sangat baik ini, bagaimana kita memaknai kemerdekaan di wabah Covid-19? Untuk menjawab ini agar relevan dengan realitas saat ini, maka saya memaknai kemerdekaan saat ini ketika Indonesia bisa merdeka dari wabah wabah Covid-19, dan bisa mewujudkan apa yang sudah dicita-citakan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Bung Karno, yaitu berdaulat dalam politik, berdikari bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Merdeka dari Pandemik

Kemerdakaan yang sesungguhnya tidak hanya selalu diperingati dengan acara seremonial. Namun, miskin praktik. Misal, menaruh bendera di tiang depan rumah yang dihiasi dengan lampu kerlap kerlip, di jalanan, di perkantoran, bahkan di toko-toko pun ikut meramaikannya. Namun, semua itu hanya euforia, sebab kita abai untuk menerjemahkan hari kemerdekaan; tidak mengikuti protokol kesehatan dan tidak peduli dengan sesama yang sudah menjadi korban terdampak Covid-19.

Padahal, sebagaimana sering diungkapkan oleh Gus Mus, salah satu tokoh karismatik Nahdlatul Ulama, Indonesia adalah rumah kita. Harus dirawat dan dijaga dari berbagai ancaman terutama para investor asing yang ingin menguasai negara ini termasuk para broker politik yang kepentingannya untuk kelompok dan golongannya. Di sinilah terkadang lahir politik oligarkis kerjanya hanya mempertahankan status qou dari rezim ke rezim.

Dulu para pendiri bangsa ini berjuang melawan para penjajah Jepang dan Belanda yang ingin merongrong dan menguasai ibu pertiwi. Namun, para pendiri bangsa tidak pernah gentar dan tak pernah takut lapar demi mempertahankan Indonesia dari cengkraman Belanda dan Jepang meskipun nyawa yang jadi taruhannya dan tak sedikit yang gugur di medan perjuangan.

Nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa ini mestinya menyentuh nurani dan memotivasi kita untuk berjuang melawan Covid-19. Sebab, tidak ada kemerdekaan di berbagai negara yang diraih oleh hanya segelintir orang ia butuh kerjasama antar elemen anak bangsa.

Kemerdekaan harus dilakukan secara berjamaah dan membutuhkan pengorbaan baik fisik, psikologis, dan finansial. Jika para pendiri bangsa ini melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan, maka, saat ini kita dituntut untuk menjaga diri kita dan membantu orang lain dari wabah Covid-19, paling tidak, mengikuti seluruh protokol kesehatan. Sebab, persoalan kemanusiaan adalah jauh lebih penting dari apapun sebelum melangkah pada kepentingan ekonomi, politik dan sosial budaya.

Presiden pertama Bung Karno secara jelas mengingatkan kita beberapa tahun yang silam: perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah tapi, perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri. Dulu kita mungkin tidak setuju dengan perkataan Bung Karno tersebut. Sehingga muncul pertanyaan; mana mungkin ada yang lebih sulit dari berjuang melawan penjajah di tengah keterbatasan?

Namun, pernyataan Bung Karno menemukan relevansinya dan kita rasakan saat ini. Kepentingan golongan dan kelompok sudah menjadi bayang-bayang kita saat ini saling merendahkan, caci maki, dan berbagai perbuatan yang tidak menyenangkan kepada saudara kita hampir kita lihat setiap hari. Inilah yang dinyatakan Bung Karno bahwa melawan saudara sendiri benar-benar sulit dan dilematis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana kita mafhum, kemerdaan melawan penjajah memang sudah selesai. Namun, penjajahan secara ekonomi, politik, dan budaya hingga kini belum selesai pun keadilan belum sepenuhnya kita tegakkan ada yang egois untuk memikirkan kepentingan diri sendiri di atas kepentinngan rakyat.

Itulah yang penulis kritik bahwa menaruh hormat pada sang kaka merah putih namun masih suka bertikai utuk kepentingan diri dan kelompoknya maka, semua itu tidak bernilai apa-apa. Sebab sudah menegaskan sikap patriotisme dan nasionalisme yang mestinya didahulukan agar cita-cita kemerdekaan para pendiri bangsa bisa diraih.

Tiga Prinsip Berdikari

Selain kita harus merdeka dari wabah Covid-19 maka, pada momentum kemerdekaan ini semestinya yang harus menjadi diskursus dan kita lakukan adalan mengubur sikap egoisme (mau menang sendiri), mementingkan kepentingan golongan dan kelompok.

SaatnyaIndonesia bersatu padu bergotong royong untuk menerapkan tiga prinsip berdikari yang digagas dan dicita-citakan oleh Bung Karno sebagai proklamator kemerdekaan: berdiri dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam bidang politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dengan berdaulat secara politik negara ini diharapkan tidak mudah diatur dan didikte oleh siapa pun dan negara mana pun. Selain itu, negara Indonesia tidak akan menjadi negara pengemis terutama pada kaum imperialis. Dengan kekuatan politik semacam itu maka, Indonesia akan disegani oleh negara mana pun. Dan salah satu syarat untuk mewujudkan itu maka, harus menghindari bertikai, caci maki, menyebar hoaks, sikap intoleran, dan politik identitas yang akan memecah belah persaudaraan sesama anak bangsa.

Berdiri secara ekonomi berarti kita harus bersandar pada dana dan tenaga yang memang sudah ada ditangan kita dan menggunakannya semaksimal mungkin. Menghindari utang yang berlebihan yang menjadi penyebab Indonesia tersandera oleh kepentingan imprealis dan kapitalis pun Indonesia harus terhindar dari resesi ekonomi yang menjadi bayang-bayang paling menyeramkan belakangan ini pasca wabah.

Berkepribadian dalam kebudayaan artinya menggali dan mempertahankan kekayaan budaya yang sudah kita miliki sebab, hal itu akan menjadi kekuatan untuk Indonesia dimasa yang akan datang. Dan itulah menurut penulis makna kemerdekaan saat ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *