oleh

Membaca Perasaan Wong Liyan

Oleh: Pujiah Lestari* 

Sekolah agama Kristen yang formal dan berasrama laiknya pesantren, hanya ada di tingkat perguruan tinggi. Pendidikan di dalamnya untuk mencetak calon pendeta atau guru dalam agama Kristen. Kurang lebih sama artinya dengan mencetak kader-kader yang digembleng agar menjadi ustaz dan mubalig di lingkungan pesantren. Tradisi ngaji dan baca Alquran – yang biasanya dilakukan selepas magrib – sejenis dengan pelajaran dalam materi penginjilan yang tidak formal, karenanya tidak terdaftar di Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Agama.

Pada jurusan filsafat di perguruan-perguruan tinggi Islam seperti UIN (dulu IAIN) diajarkan materi-materi tentang perbandingan agama. Masyarakat kita memang masih awam dalam soal ilmu filsafat maupun perbandingan agama. Karena itu, terlalu kaku dan rigid dalam menyikapi perbedaan agama, juga tidak ada itikad dan kemauan untuk memahami tradisi pada agama-agama minoritas di lingkungan kita.

Karena mayoritas masyarakat kita muslim, dan salah satu agama minoritas yang paling dominan adalah Kristen, ada baiknya saya jelaskan perihal tradisi dan amalan masyarakat Kristiani. Lagipula, penganut agama ini masih yang terbesar di dunia. Supaya tidak banyak salah-paham yang kemudian berurusan dengan tindak pidana – yang merepotkan kita sendiri – maka kesalah-pahaman ini akan saya luruskan dalam tulisan ini.

Tenang saja, saya bukan hendak membagi-bagi sembako, juga bukan mau mengobok-obok iman Anda. Masalahnya, karena ketidakpahaman sebagian masyarakat kita, minimnya ilmu pengetahuan ini seringkali dimanfaatkan petualang-petualang politik untuk mengadu-domba mayoritas dengan minoritas. Menjelang natal dan tahun baru lalu, cukup banyak anak-anak muda yang berurusan dengan kepolisian karena perilaku anarki yang disebabkan oleh karena kebodohan dan ketidakpahaman tadi.

Sesekali ada yang menampik, buat apa? Bukankah cukup bagi kita Islam saja. Nanti dulu, sekali lagi ini bukan khotbah penginjilan, juga bukan untuk menukar-nukar iman Anda dengan sekantong kresek sembako. Jadi, dengan membaca tulisan ini, Insya Allah ilmu Anda semakin bertambah, dan kalau ilmu bertambah, maka iman pun semakin kuat dan mantap.

Dalam agama Kristen ada istilah “ibadah Minggu”, yang tidak harus di gedung gereja, tetapi bisa juga di ruang terbuka, balai pertemuan, maupun di salah satu kediaman jemaat. Jumlah mereka tidak terbatas, bisa dua orang, sepuluh atau duapuluh orang. Ibadah ini dimaksudkan untuk saling mengikat tali persaudaraan dalam satu iman. Pada agama Islam kita mengenal istilah ukhuwah islamiyah dan ukhuwah imaniyah. Bentuknya seperti silaturahmi antar saudara atau kawan, tapi fokus utamanya adalah berdoa dan berzikir bersama-sama.

Di negeri lain – termasuk di Timur Tengah – ibadah seperti ini tidak bermasalah, tak pernah menimbulkan gejolak karena kesalah-pahaman. Tetapi di beberapa daerah di negeri kita – karena sikap intoleransi – seringkali menuduh kegiatan tersebut sebagai “penginjilan terselubung”. Oleh karena miskin ilmu tadi, mereka itu selalu saja menganggap sebagai penyimpangan dan kesesatan.

Ada alasan yang seringkali terlontar dari mulut orang yang mengaku tokoh masyarakat, seolah-olah ibadah ini hanya boleh di gereja saja, sedangkan rumah bukan tempat ibadah. Logika seperti inilah yang membuat mereka punya alasan untuk membubarkan ibadah di dalam rumah. Padahal dalam Islam, setiap aktivitas sehari-hari, baik yang bersifat sakral maupun profan, kalau diniatkan untuk kebaikan, maka juga bernilai ibadah. Emangnya kita berdoa, berzikir maupun beristighfar, hanya boleh di masjid saja?

Kegiatan mereka yang lainnya adalah upacara sakramen, yakni pembaptisan dan perjamuan kudus. Di dalam Islam, kurang lebih sama dengan akikah, tetapi dalam baptis pada umumnya dilakukan ketika masih bayi, dibacakan syahadah dan perjanjian bahwa kelak si bayi akan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Setelah anak itu balita, ia akan menerima materi-materi tentang cerita kenabian, hingga menyampaikan kesaksian di depan jamaah bahwa ia siap menerima doktrin-doktrin ajaran agama.

Pada sakramen kedua ada perjamuan kudus yang disimbolisasi dengan makan sepotong roti dan minum anggur. Ini bukan berarti orang Kristen suka mabuk-mabukan. Hanya ungkapan penyatuan diri dengan ajaran Isa Al-Masih. Dalam persekutuan Alkitab, doa, dan paduan suara, ketiga bentuk ibadah inilah yang seringkali kurang dipahami oleh mayoritas muslim di negeri ini. Padahal, ia sejenis pengajian, yasinan, tahlilan atau selamatan, yang bisa dilakukan selain hari Minggu, dan juga bisa diadakan di rumah siapa saja di antara salah satu jamaah (tidak mesti di gereja).

Tak usah khawatir dengan kegiatan ini. Abaikan saja. Juga tak perlu Anda menandingi mereka dengan menyetel musik keras-keras, dengan lagu Metallica, Guns ‘N Roses, Skid Row maupun Pearl jam. Jadi, kalau terdengar suara kidung (nyanyian), tak usah merasa kerepotan. Itu hanya kegiatan internal saja. Lagipula, mereka juga tak pernah usil dengan adanya suara azan, pengajian, atau salawatan dari pengeras suara di masjid-masjid.

Kalau orang Kristen sedang berkidung, kurang lebih sama saja dengan kasidahan atau marawis di lingkungan pesantren. Sah-sah saja kan? Tapi tak usah didramatisir dengan laporan hoaks, seakan-akan mereka bernyanyi dengan suara keras di tengah malam, sehingga mengganggu para tetangga yang sedang tidur pulas. Juga tak perlu disikapi secara nyinyir seakan-akan mereka sedang menyembah ubur-ubur dalam persekutuannya dengan Dimas Kanjeng, Brajamusti, dan sederet oknum yang menyamar jadi orang pintar, orang suci, dengan memolitisasi agama dan Tuhan sebagai alat legitimasi mereka.

Lalu, muncul pertanyaan cerdas dari pemikir muslim, seorang mufti ulama besar Syekh Muhammad Abduh: “Kenapa umat Islam terbelakang ketimbang mereka?” (Limadza ta’akharal muslimun wataqaddama ghairuhum?)

Ketahuilah, sejak masih bayi hingga balita, anak-anak Kristiani sudah diberi materi tentang pengembangan imajinasi melalui sekolah-sekolah Minggu. Pada sekolah Minggu memang didominasi monolog oleh para pendidik, tetapi difokuskan untuk menyampaikan cerita-cerita kenabian yang termaktub dalam kitab suci. Sejak bayi, orang Kristen sudah terbiasa dengan dongeng-dongeng yang menghibur, kisah-kisah imajinatif yang membuat pikiran mereka dilatih agar melampaui batas-batas.

Hal-hal yang diajarkan pada sekolah Minggu adalah hikmah yang terkandung pada kisah-kisah kenabian, terutama jejak-langkah kehidupan Nabi Isa alaihissalam. Dengan sendirinya mengandung pelajaran tentang kebaikan, kejujuran, keberanian, solidaritas, kesetiakawanan sosial dan seterusnya.

Lagipula, untuk anak-anak masih balita di sekitar kita, ngapain juga ditakut-takuti dengan buku-buku komik tentang kiamat, siksa api neraka, beranak dalam kubur, suster ngesot dan seterusnya? Jangan-jangan, faktor keterbelakangan mental masyarakat kita – seperti yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh – justru karena selama ini kita telah mengalami salah urus, dan juga salah asuh. Jadinya, ya kaya begini ini, ilmunya sedikit ngelmunya getol. Bodoh tapi mengaku pintar.

*) Esais dan kritikus sastra kontemporer Indonesia

 

 

Komentar

News Feed