Membangun Kemandirian Pesantren dengan Program Santri-Entrepreneur

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BELAJAR: Salah satu santriwati Pondok Pesantren Al-Hidayah saat mencoba memotong kain untuk membuat seragam santri.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Program “Santri Entrepreneur” yang sebelumnya digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan sudah mulai berjalan. Seperti melakukan penataan dan pendampingan  usaha santri dari dasar.

Selama di pesantren, para santri bisa menggali gagasan dan ide kreatifnya terkait dunia usaha. Hal tersebut bisa dilakukan dengan belajar dari hal-hal sederhana. Semisal menjual kebutuhan sehari-hari di ruang lingkup pondok pesantren.

Bacaan Lainnya

Salah satu santri Yayasan Al-Hidayah, sekaligus pengurus koperasi, Nur Imalah, menyampaikan, bahwa dirinya juga masih baru belajar menjahit dan mendesain pakaian. Sehingga dirinya mengaku cukup merasa kesulitan. “Awalnya, dulu saya sangat kesusahan, mengingat ini adalah pertama kalinya,” katanya.

Santri senior yang akrab disapa Ima itu tengah menjalankan program pondok yang didukung pemerintah daerah yaitu mencoba belajar menjahitkan dan membuat seragam untuk santri dan siswa di lingkungan sekolah tersebut. “Awalnya saya kira tidak mungkin, tapi setelah dibimbing oleh instruktur atau pelatihnya, ternyata lumayan mudah,” terangnya.

Proses yang membutuhkan waktu cukup lama tersebut juga memberikan para santri pelajaran agar sabar meskipun sudah berupaya maksimal. “Dengan memiliki usaha mandiri, saya kira pesantren bisa lebih hemat dan mandiri, bahkan bisa mendapatkan keuntungan,” jelasnya.

Ima juga mengaku, dari hasil belajar membuat seragam tersebut, dirinya merencanakan akan belajar membuat desain baju santri dengan tampilan yang lebih milenial. Sehingga nantinya bisa dikembangkan dan menjadi kepuasan bagi dirinya. “Saya sudah punya beberapa gambaran singkat, tapi memang ini butuh waktu untuk menguasainya,” ceritanya.

Sedangkan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskop UM) Bangkalan Iskandar Ahadiyat menjelaskan, program Santri Entrepreneur merupakan atensi pemerintah. Agar santri juga bisa berkarya dan juga mendapatkan pengalaman berharga. “Dengan belajar di pondok, waktu mereka lebih bisa diatur, jadi harusnya bisa melahirkan karya baru,” paparnya.

Lelaki yang akrab disapa Yayat tersebut juga menjanjikan bahwa pemerintah akan hadir untuk melakukan pembinaan. Bahkan juga menjadi mitra penjualan dan membuka jaringan agar lebih luas. Sehingga para santri bisa lebih mandiri. “Kalau nanti mereka sudah berkembang, tentu kami juga akan menjadi bagian dari promosinya,” pungkasnya. (km59/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *