oleh

Membangun Polisi yang Beradab

Program membaca karya sastra bagi kepolisian Meksiko pernah menjadi headline di harian-harian Meksiko dan Amerika Serikat. Pada tahun-tahun pertama pelaksanaan program begitu rumit dan banyak mengalami pertentangan. Di kelas-kelas, ketika mentor membahas karya Octavio Paz maupun Gabriel Garcia Marquez, mereka semuanya bungkam. Jarang ada polisi yang mau mengangkat tangan untuk bertanya atau menanggapi bahasan karya sastra.

Entah paham entah tidak, para polisi itu wajib mengikuti kelas sastra. Bagi yang tidak mengikuti program itu terancam tidak akan naik pangkat, atau kenaikan pangkatnya akan terhambat. Kepala kepolisian tetap menekankan pentingnya membaca karya sastra. “Bagaimanapun membaca karya sastra dengan tekun adalah cara terbaik untuk meningkatkan kualitas agar seorang polisi berbudaya, berwawasan, dan mampu memahami pikiran orang lain,” demikian kata Eric Lopez, yang ditunjuk pemerintah sebagai koordinator program membaca sastra tersebut.

Selama bertahun-tahun program terus dijalankan. Semua polisi harus membaca buku-buku yang ada dalam daftar, di antaranya karya-karya Cervantes, Juan Rulfo, Carlos Fuentes, hingga karya-karya Agatha Christie, Edgar Allan Poe dan seterusnya. Mungkin pada awalnya mereka bungkam, tapi nanti saat mereka mulai akrab dengan karya sastra, tentu mereka akan menikmatinya dan mendapatkan manfaat besar dari kegemaran mambaca karya sastra.

Lama kelamaan mereka pun berhasil menemukan cara untuk bersenang-senang dengan sastra. Karya-karya itu diterjemahkan ke dalam bahasa kepolisian, dengan memasukkan kode-kode yang biasa mereka gunakan dalam komunikasi antar polisi.

“Sekian alfa kemudian, di hadapan regu 44, Kolonel Aureliano Buendia akan 60 pada senja yang samar-samar ketika ayahnya 26 dia untuk 62 es.” Itu adalah versi kepolisian Meksiko untuk pengantar novel Gabriel Garcia Marquez (Seratus Tahun Kesunyian): “Bertahun-tahun kemudian, di hadapan regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia akan teringat pada senja yang samar-samar ketika ayahnya mengajak dia menemukan es.”

Sudah menjadi kebiasaan polisi membawa buku sastra ke mana-mana, baik dalam bentuk novel, antologi puisi maupun cerpen. Selanjutnya, program itu terus ditingkatkan pada kelas menulis. Program ini menjadi lebih mudah, karena mereka sudah banyak membaca. Buku-buku memperkaya kosakata mereka hingga membuat mereka mampu berkomunikasi secara lebih baik dengan warga yang sedang mereka bantu, atau dengan para kriminal yang mereka tahan. Pada akhirnya, komunikasi yang baik akan memperbaiki pandangan orang tentang dunia kepolisian yang selama ini dianggap orang kasar yang menjijikkan.

Bagaimana dengan Kita?

Pernah juga saya menghadiri pembahasan novel tentang radikalisme (Pikiran Orang Indonesia) yang diselenggarakan oleh para jurnalis yang tergabung dalam Lingkar Kajian Untuk Pencerahan (Lingkaran) di Kota Serang. Saat penyampaian esensi dari novel tersebut, nampak para hadirin yang terdiri dari kalangan santri, LSM, para kiai hingga mahasiswa, semuanya diam dan bungkam seribu basa. Ketika saya menghadiri acara bedah bukunya di pesantren modern Al-Bayan, lagi-lagi para hadirin bungkam dan kewalahan menanggapi penjelasan dari sang penulis buku.

Saya menilai bahwa kedalaman karya sastra memang sulit dicerna oleh orang-orang yang masih tertutup kalbunya. Menurut kesaksian penulisnya, Hafis Azhari, ketika dia membahas novel Perasaan Orang Banten (POB) yang dihadiri oleh kalangan seniman di Rumah Dunia, juga mereka terbungkam seribu basa. Padahal, mereka itu menamakan dirinya sebagai seniman.  Apakah mereka tersinggung ketika tradisi dan budayanya dikulik sedemikian mendalam, seperti yang dirasakan pula oleh pihak kepolisian Meksiko ketika rahasia hidup mereka dibongkar habis-habisan oleh Gabriel Garcia Maquez hingga Octavio Paz?

Kenapa karya sastra begitu tabu dan menakutkan bagi mereka? Tergantung mereka itu siapa. Sebab, sudah dijelaskan dalam kata pengantar buku POB tersebut bahwa, karya yang ditulis berdasarkan hati, hanya akan dapat dinikmati oleh para pembaca yang membuka mata-hatinya. Jadi, kalau hati kita terselubung oleh kabut misteri, mistik, tahayul dan kebohongan, memang sulit untuk mencerna sebuah karya sastra yang baik.

Pada prinsipnya, karya sastra yang baik ditulis dari kelapangan hati dan jiwa, serta dengan niat-niat baik untuk mencerdaskan umat. Bersifat memberdayakan pembaca dan bukan memperdayakan, bersifat mencerdaskan umat dan bukan meninabobokan. Bersifat membangun kemandirian dan kemerdekaan umat, dan bukan memperalatnya.

Karya Sastra yang Baik

Membaca karya sastra harus kembali ke titik nol. Hati harus bersih dan terbebas dari prasangka. Pada tahun pertama program membaca sastra di institusi kepolisian Meksiko (2003), tidak sedikit menghadapi berbagai rintangan dan hambatan. Karena kita semua tahu, sebelum program itu diberlakukan, dunia kepolisian di sana sarat dengan manipulasi, korupsi, dan uang suap. Wani piro untuk terbebas dari jeratan hukum. Dari urusan kriminal sampai pelanggaran lalu lintas, akan terselamatkan jika mereka memiliki uang sebagai tebusannya.

Banyak polisi Meksiko berpakaian preman dan menyamar sebagai jawara, tukang palak, bandit, hingga komplotan mafioso. Pihak polisi yang mestinya berfungsi selaku pengayom dan pelindung rakyat, justru menjadi bagian dari masalah yang sama-sama tukang madat, mabok, madon, dan berbagai skandal korupsi lainnya. Di jalan-jalan raya, polisi Meksiko berperan sebagai penadah uang sogok dari para pelanggar hukum dan lalu lintas.

Namun, setelah mereka diwajibkan membaca karya sastra, terjadilah revolusi mental yang luar biasa di kalangan para aparatur negara. Ketika Partai Revolusi Demokratik memenangkan suara terbanyak dalam pemilu, pemerintah baru secara serius mengkampanyekan anti korupsi dalam skala masif, melalui kampanye membaca karya sastra.

Hal ini patut menjadi bahan kajian serius bagi pemerintahan Jokowi dan Ma’ruf Amin, seorang wakil presiden kiai dan ulama asal Banten, yang karakteristik masyarakatnya telah dibuka secara jujur oleh penulis dari daerahnya sendiri. Wassalam. ***

PENULIS: SUPADILAH ISKANDAR

Generasi milenial, pengamat sastra mutakhir Indonesia.

 

Komentar

News Feed