Membumikan Al-Quran di Bumi Nusantara

  • Whatsapp

Peresensi         : Supadilah

Kebenaran kandungan Al-Qur’an tak lekang oleh waktu. Selalu relevan pada setiap zaman. Karena kebenarannya itu pula banyak orang yang tercelupkan hidayah dari Allah. Kewajiban Muslim terhadapAl-Qur’an adalah membacanya, mentadaburi, menghafalkan, dan mengamalkannya. Meskipun banyak yang tidak bisa menunaikan kewajiban tersebut.

Bacaan Lainnya

Menilik kebiasaan salafussalih, kita dianjurkan agar membaca Al-Qur’an sesering mungkin. Meskipun para ulama berbeda pendapat dengan hal ini. Ada pendapat tiga hari sekali, sepekan sekali, atau satu tahun dua kali. Bahkan ada yang satu hari sekali.

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, makruh hukumnya tidak mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 40 hari. Hal ini mengandung pertimbangan jika lewat dari itu, tentunya interaksi denganAl-Qur’an sangat minim.

Mengkhatamkan Al-Qur’an itu bukan perkara ringan. Betapa banyak Muslim yang bahkan membacanya saja tidak pernah khatam dalam seumur hidupnya. Namun, banyak juga mereka yang rutin mengkhatamkan Al-Qur’an. Nah, salah satunya adalah mereka yang tergabung dalamorganisasi One Day One Juz (ODOJ). Dari namanya, kita pun mafhum jika mereka yang tergabung memiliki kebiasaan membaca satu juz dalam satu hari.

Selain itu, ada ODALF yaitu program tilawah setiap hari setengah Al Qur’an, ODOL Kids yaitu program tilawah anak setiap hari satu lembar Al-Qur’an,  ODOJ Star yaitu program tilawah setiap hari dengan jumlah bebas minimal satu ayat Al-Qur’an.

Dari laman milik ODOJ, saat ini anggotanya berjumlah lebih 115.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga seluruh dunia di antaranya Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, Australia, Amerika, Mesir, Turki, dan lainnya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari anggota ODOJ yang menceritakan pengalaman mereka bergabung di ODOJ. Vera Andriani Djakfar mengaku dalam Bisikan Cinta Dari Al-Qur’an, merasakan betapa banyaknya ayat Al-Qur’an yang relevan. Banyak aktivitasnya yang mendapat ‘teguran’ dari Al-Qur’an. Seakan Al-Qur’an ‘berbicara’ padanya. Saat dia mengalami sakit, marah, kecewa, atau memubazirkan makanan selalu ada ayat Al-Qur’an yang menegurnya.

Dulu, meskipun memiliki pondasi memahami Al-Qur’an yaitu penguasaan bahasa Arab, dia tetap kewalahan rutin tilawah Al Qur’an. Bergabung dalam ODOJ menguatkannya.

Ada saatnya berat menyelesaikan tugas sehingga pernah keluar atau diam dari aktivitas dalam komunitas. Untunglah ada anggota lain yang menjadi pengingat. Meskipun Al-Qur’an telah berkali-kali dibaca akan tetapi serasa baru pertama kali membacanya. Banyak yang awalnya dipaksa, didukung lingkungan, dan ikut komunitaslah yang membuat jadi istikamah.

Buku ini berisi tulisan dari penulis dengan latar belakang yang beragam. Bahkan, seorang penulis merupakan narapidana. Namanya Mas Armu. Karena perusahaannya pailit, dia harus mendekam di sel. Di sana, dia secara rutin mengkhatamkan Al-Qur’an setiap Jumat. Awalnya dia takut kalau mengganggu narapidana lainnya. Akan tetapi justru mereka terkesima lalu meminta untuk membaca dengan lebih keras dan rutin.Tenang, kata mereka saat mendengarkan tilawahnya.

Komunitas ODOJ memanfaatkan media sosial dalam kegiatannya. Pelaporan harian menggunakan layanan SMS, aplikasi BBM, hingga WhatsApp.

Ada yang tidak mampu bertahan di ODO. Salah satu faktor yang sangat luhur dalam komunitas ini adalah persaudaraan atau ukhuwah diantara mereka yang sedemikian beratnya. Itulah yang membuat mereka bisa bertahan hingga bertahun-tahun di ODOJ. Saling mengingatkan dalam kebaikan menjadi kekuatannya.

“Baca Al-Quran kenapa dipamer-pamerkan, sih? Udahlah, kalau mau ibadah itu yang ikhlas. Nggak perlu dipamerkan.” Begitulah ujaran yang bisa meragukan keraguan dan tantangan ikut ODOJ. Nah, keraguan tersebut terjawab dalam buku ini.

Berbagai berkah didapatkan dari keterlibatan dalam ODOJ.Kita banyak kesibukan. Waktu terasa singkat. Sehari-hari sudah repot. Pastinya kewalahan untuk mengaji satu juz sehari. Namun begitu masuk ODOJ, justru merasakan bahwa waktu lebih longgar. Jadwalnya malah menjadikan disiplin. Buku ini menjadi sekelumit saksi bahwa ‘ngodoj’ itu penuh perjuangan sekaligus nikmat, berkah dan membuat bahagia. ODOJ menjadi berkah bagi bumi Nusantara. Meski tidak terlihat kasat mata pasti Allah memberikan limpahan berkah kepada negeri ini sebab terlantunkan ayat-ayatNya di bumi Nusantara. Tertarik dengan kisah perjuangan mereka? Bagaimana mereka jatuh bangun hingga merasakan satu keluarga/saudara ODOJ-ers? Simak di buku ini.

Judul                : Kutemukan Cinta-Mu, Tiada Hari Tanpa Dia

Penulis             : @onedayonejuz

Penerbit          : PenerbitRepublika

Cetakan           : Cetakan 1, Februari 2020

Halaman         : viii+273 halaman

ISBN                 : 978-623-745-8425

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *