oleh

Memetik Inspirasi dari Mahasiswa Pengantar Laundry

Hingga Menjadi Mahasiswa Produktif dengan Karya Literasi

Kabarmadura.id/Pamekasan-Hidup bukan hanya tentang pentas penampilan, tapi bagaimana kamu mampu bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Berjuang selagi sempat karena kita tidak tahu esok akan seperti apa.

Homaizah, Pamekasan.

Ruqoyyah, seorang mahasiswa inspiratif, lahir dari keluarga sederhana dengan semangat juang yang luar biasa, mahasiswi yang akrap di sapa Ruqy ini bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan cara mandiri.

Pada tahun 2017 gadis asal Desa Tlambah, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang ini, resmi menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di Pamekasan. Dengan status yang disandangnya, dia dituntut untuk bisa memenuhi segala kebutuhannya secara mandiri.

“Saya bukanlah gadis yang serba berkecukupan, untuk melanjutkan kuliah saja saya harus menyepakati suatu perkataan dari kedua orang tua saya, bahwa jika saya melanjutkan pendidikan orang tua tidak akan menjamin dapat memenuhi kebutuhan kecuali saya sendiri yang sanggup untuk itu,” ungkapnya kepada Kabarmadura.id, Jum’at (14/8/2020).

Kesadaran akan pentinggnya pendidikan dan cita-cita menuntutnya untuk melakukan berbagai pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Diantaranya dengan menjadi seorang tukang antar laundry ke berbagai kos-kosan.

Bukan hanya itu saja, dia juga pernah bekerja di salah satu kedai mie yang ada di Pamekasan. Atas kepandaiannya dalam membagi waktu dan mencari relasi, akhirnya dia menemukan suatu pekerjaan yang sejalan dengan status yang disandangnya sebagai mahasiswa.

Saat ini dia berjualan buku ke berbagai tempat, mulai dari pondok pesantren, tempat kos. Dirinya juga menerima pesanan pembelian melalui online shop.

“Sejak awal menjadi mahasiswa saya memang tidak berkaca kepada mereka yang lebih mampu secara finansial, akan tetapi yang saya lihat adalah mereka yang mampu secara intelektual, sehingga dari situlah saya mulai berfikir bagaimana agar saya bisa menjadi seperti mereka yang memiliki prestasi akademisi,” tegasnya.

Dari sekian banyaknya aktivitas yang dikerjakan tak membuatnya ketinggalan akan berbagai macam kegiatan kemahasiswaan. Hal tersebut dilakukan di samping untuk mengasah kemampuan, juga sebagai pembuktian kepada orang tua atas keputusan yang dipilihnya.

Saat dirinya menginjak semester akhir, gadis yang kini berusia 21 tahun tersebut berinisiatif untuk mengasah kemampuan di bidang akademisi dengan menggali potensi yang dimiliki semasa menjadi santri.

Kecintaannya terhadap dunia literasi membawanya untuk mengikuti berbagai kegiatan dan pelatihan kepenulisan, salah satunya pelatihan kepenulisan yang bertempat di Surabaya.

Dari berbagai kegiatan dan pelatihan kepenulisan yang dia ikuti, kini dia berhasil menerbitkan tiga novel dengan genre teenlit.

“Alhamdulillah atas kecintaan terhadap dunia literasi membantu saya dalam menerbitkan beberapa karya novel, diantaranya berjudul cinta di pelataran takdir, kopi cinta di meja usia, cincin pernikahan berselimut air mata,” imbuhnya.

Meskipun saat ini perkualiahan dihentikan akibat adanya wabah Covid-19, namun kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap produktif dengan banyak kegiatan yang digandrungiya.

Dia tetap melanjutkan usaha menjadi agen penjual buku sekaligus mempromosikan karyanya sendiri. Selain dari pada itu, dia juga mengisi hari-hari sebagai pemateri kepenulisan di Pondok Pesantren Semar, Desa Ragang, Kecamatan Waru, Pamekasan, hingga dia dipercaya untuk menjadi pembina di lembaga tersebut.

Dari hasil kerja keras dan prestasi yang dia raih, dirinya membuktikan mampu membiayai kebutuhannya sendiri, mulai dari pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) tiap semester, hingga kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dimiliki mahasiswa pada umumnya.

“Alhamdulillah, ini berkat doa kedua orang tua juga,” tutupnya. (02km/pin)

Komentar

News Feed