Memimpin dengan Hati

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)

Benar apa yang diucapkan Haji Agus Salim, bahwa memimpin adalah bersedia untuk menderita. Rasa-rasanya ungkapan tersebut relevan di segala zaman. Lebih-lebih saat ini, di mana pragmatisme dunia birokrasi mencabik-cabik tatanan demokrasi yang mati-matian dibangun para pendahulu. Belum lagi berbicara integritas beberapa pemimpin skala nasional maupun lokal yang mulai berada di ujung tanduk. 

Selain itu, ditambah lagi tumpang tindih kebijakan dan ketidaktegasan dalam menangani pandemi membuat kepercayaan publik merosot tajam. Rakyat dibuat bingung melihat tingkah polah pejabat yang kata orang Jawa ‘sak karepe dewe’ (seenaknya sendiri). Rasa-rasanya mereka pura-pura tidak paham, bahwa amanah besar ada di pundaknya. Bukankah tugas pemimpin itu adalah melayani, bukan minta dilayani. Mestinya, mereka menjalankan amanah rakyat seoptimal mungkin. Bukan sekadar ongkang-ongkang kaki di ruangan ber-AC, lalu seenaknya tunjuk sana-sini. Seakan-akan rakyat adalah pelayan dan mereka majikannya.

Apakah mereka terbuai dengan kekuasaan hingga lupa daratan? Ibarat kacang yang lupa pada kulit, mereka amnesia kepada pemilihnya. Janji-janji manis saat kampanye sebatas ‘lips service’. Pada akhirnya karakter aslinya terkuak ketika menjadi pejabat negara. Topeng palsu yang dipakai berlapis-lapis tidak mampu menutupi kebusukan tindak-tanduknya ketika menyalahgunakan kekuasaan. Rakyat sudah mulai jeli, mana yang tulus mengabdi, dan mana yang pura-pura. Sungguh, pejabat semacam itu, biasanya pintar bersandiwara. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Saya percaya, setiap kelicikan pasti akan menemukan jalan buntu, dan cepat atau lambat akan terlihat.

Kejujuran menjadi pondasi utama dalam memimpin. Kita lebih memilih pemimpin yang intelektualitasnya biasa-biasa tapi jujur, dibandingkan pemimpin dengan titel berderet-deret tapi lihai dalam menipu. Tentu saja pemimpin yang intelek, jujur, dan amanah menjadi pilihan ideal. Tapi, jumlah orang-orang semacam sepertinya mulai langka. Buktinya, berita terkait korupsi masih sering menghiasi media massa. Itu artinya, sebagian pemimpin kita adalah ‘perampok berdasi’. 

Patut kiranya apabila rakyat mempertanyakan kembali kesungguhan pengabdian para pemimpinnya. Sebab, ada yang bertahun-tahun menjabat, belum memberikan dampak apa pun. Kunjungan ke mana-mana, tapi hasilnya nihil. Rapat berkali-kali tapi belum membuahkan kebijakan pro-rakyat. Adanya, berbagai proyek pembangunan justru menjadi bancakan bersama. Gila betul. Padahal gaji dan tunjangannya lebih dari cukup. Sifat tamaknya yang membuat uang negara tetap diembatnya. Kita hanya kebagian ampasnya saja.

Kritik tajam para aktivis muda, tokoh masyarakat, pengamat, akademisi, dan warga secara umum, dianggapnya angin berlalu. Ironinya lagi, penegakan hukum kasus korupsi sama sekali tidak menimbulkan efek jera. Sebagian dari mereka senyum manis sembari melambaikan tangan ke kamera bak peragawati ketika ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seolah-olah perbuatannya bukan aib. Itu yang membuat rakyat semakin muak dengan koruptor. Bukannya meminta maaf dan menyesal, yang terjadi hanyalah pembelaan yang membabi buta. 

Sebenarnya, pemimpin yang kita harapkan adalah pemimpin yang ucapan dan tindakannya selaras, alias tidak bertolak belakang. Kita tidak terlalu membutuhkan orang yang jago retorika namun minim tindakan nyata. Jago membual, tapi miskin prestasi. Mencitrakan diri sebagai sosok pengayom yang peduli nasib orang kecil, tapi realitanya berbicara lain. Kita menginginkan pemimpin yang cerdas spiritual, emosional, dan intelektual. Pemimpin yang siap menjadi tulang punggung rakyat, bersedia berkorban untuk kepentingan rakyat.

Percayalah, rakyat lebih respek kepada pemimpin yang tidak hanya peka melihat problematika sosial yang terjadi. Namun, langsung turun tangan memberikan solusi terbaik. Sebab, keteladanan pemimpin berpengaruh terhadap rakyat yang dipimpinnya. Setiap ucapan dan perilaku pemimpin menjadi sorotan rakyat. Sebab itu, menjadi bijaksana adalah sebuah keharusan bagi setiap pemimpin.

Pemimpin yang dicintai dan disegani rakyat, biasanya memiliki sisi kemanusiaan yang sangat tinggi. Artinya, ia mampu memimpin dengan hati. Bersedia mendengar setiap keluh kesah rakyat. Memprioritaskan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Ia sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat. 

Akhirnya, saya menilai bahwa pemimpin di negeri ini harus memimpin dengan hati yang tulus. Memimpin dengan cinta. Memimpin dengan penuh belas kasih, dan senantiasa berpatokan pada nilai-nilai kebaikan. 

*) Penikmat sastra asal Desa Klampar, Pamekasan

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *