Mempertanyakan Keaslian Barang Peninggalan Nabi


Mempertanyakan Keaslian Barang Peninggalan Nabi
Taufiqurrahman

Apakah barang peninggalan nabi yang ada dan disimpan sampai sekarang di banyak tempat itu asli?

Banyak orang yang meragukannya—bahkan yang disimpan di Turki sekalipun, yang diyakini paling (mendekati) asli, masih diragukan juga oleh sebagian orang.

Keragu-raguan ini muncul karena tidak mudah memastikan keaslian barang yang berasal dari 14 abad lalu.

Jangankan barang fisik yang mudah rusak karena waktu, hadis saja yang nonfisik masih ada yang palsu. Apalagi, terkait barang peninggalan nabi ini kita tidak punya metode verifikasi yang jelas sebagaimana terkait hadis kita punya ilmu hadis. 

Kalaupun barang yang diklaim peninggalan nabi itu dilakukan uji radiokarbon, kita tetap belum bisa memastikan ia benar-benar peninggalan nabi atau bukan.

Sebab, uji radiokarbon hanya bisa menentukan usia barang, bukan pemilik asal. Bisa jadi hasil uji radiokarbon memang menunjukkan barang itu berasal dari 14 abad lalu. Tetapi, itu tidak bisa memastikan barang tersebut benar-benar milik nabi. Bisa jadi punya sahabatnya atau malah punya musuh-musuhnya. Kita tidak bisa tahu dengan pasti.

Lalu bolehkah meyakini sesuatu tanpa bukti memadai?

Pertanyaan ‘boleh’ di sini terkait dengan penilaian etis, bukan penilaian epistemik. Secara epistemik, jelas tidak dibenarkan meyakini sesuatu tanpa justifikasi memadai. Namun, secara etis, ada dua jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Jawaban pertama, impermisivisme, menjawab ‘tidak boleh’ dengan mengacu pada prinsip Clifford: “Selalu salah, di mana pun, dan bagi siapa pun, untuk meyakini sesuatu tanpa bukti memadai”. 

Jawaban kedua, permisivisme, menjawab ‘boleh’ karena, jika mengikuti pandangan impermisivis, kita dipaksa bersikap agnostik pada banyak hal, termasuk pada doktrin religius.

Dua jawaban itu punya plus-minus masing-masing. Impermisivisme memang menjaga kita agar tidak mudah jatuh pada keyakinan yang salah tetapi, pada saat yang sama, ia justru mempersulit kita untuk sampai pada keyakinan yang benar.

Permisivisme, sebaliknya, memang mempermudah kita sampai pada keyakinan yang benar tapi, pada saat yang sama, ia juga membuat kita mudah terjerumus pada keyakinan yang salah.

Masing-masing punya kelebihan; masing-masing punya risiko. Sekarang Anda tinggal pilih mau risiko yang mana; cepat sampai ke tujuan dengan risiko mudah tertipu atau tidak mudah tertipu dengan risiko lama sampai ke tujuan.

Jika Anda tidak memilih dua-duanya, maka kemungkinannya Anda memilih pilihan ketiga, yaitu menjadi si penipu.(*)

_____
*) Taufiqurrahman, Magister Filsafat UGM dan peneliti Filsafat Akal Budi.