oleh

Memupuk Rasa Lapang Dada dari Perbedaan Tiga Agama di Desa Pabian

Kabarmadura.id-“Barang siapa mengurus perbedaannya, maka sama halnya ia mengurus kehancurannya sendiri,” ungkap mendiang Gus Dur atau Abdurrahman Wahid yang merupakan presiden keempat Republik Indonesia. Perbedaan adalah rahmat dan anugerah dari Tuhan yang harus selalu disyukuri, dengan adanya perbedaan kita bersatu.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Apa yang dikatakan Gus Dur tentang perdamaian memang benar adanya. Mempermasalahkan perbedaan, utamanya masalah agama yang sering kali dijadikan “gorengan” demi kepentingan-kepentingan pribadi, gololongan, atau kelompok tertentu.

Perbedaan tidak dipandang sebagai rahmat, tetapi seringkali dimaknai sebagai laknat oleh beberapa golongan yang tidak mampu berlapang dada terhadap perbedaan.

Akan tetapi, di Desa Pabian, Kecamatan/Kabupaten Sumenep, perbedaan benar-benar dimaknai sebagai rahmat. Terbukti, meskipun di desa itu dihubi warga yang memmeluk tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Konghucu, mereka tetap hidup damai, harmonis, dan tidak pernah terdengar pertengkaran karena suku, ras, atau agama (sara).

Tempat ibadahnya pun berdampingan, antara gereja dan masjid saling berhadapan, antara klenteng dan gereja berjajar berdampingan. Namun, semua umat di masing-masing agama tetap bisa hidup rukun dan menghormati satu sama lain.

Salah satu umat Kristiani Wagino menyebutkan bahwa kehidupan sosial di sana berlangsung sebagaimana biasanya, tidak ada pertikaian masalah agama atau keyakinan. Semua pihak saling menghormati, bahkan waktu hari raya sekalipun.

“Biasa saja di sini, tidak ada apa-apa, damai-damai saja meskipun berdampingan begitu dekat, masjid di depan kita,” ungkapnya saat ditemui Kabar Madura di  kompleks Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, Senin (25/3).

Di waktu dan tempat terpisah, Kabar Madura juga menemui masyarakat Desa Pabian yang beragama  Islam, Moh Yazid. Dia mengungkapkan, kehidupan sosial yang dirasakan di kampungnya, cukup baik, semua saling menghormati, saling sapa satu sama lain ketika bertemu meskipun beda agama.

“Bahkan, orang-orang Klenteng apabila bulan puasa juga menyiapkan makanan bagi umat Islam untuk  dijadikan menu buka puasa. Sebenarnya yang bermasalah bukan kita dengan agama lain, tetapi bagiamana kita menjalankan ibadah kita sendiri dengan baik dan benar,” jelasnya saat ditemui Kabar Madura, Jum’at (22/3).

Umat Kong Hu Cu bernama Eyon juga mengungkapkan hal sama mengenai kehidupan sosial yang ia hadapi. Saling berbagi satu sama lain juga sudah terbiasa. Namun bagi yang mau dan diperbolehkan di agamanya, karena ada agama ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi dengan alasan-alasan tertentu.

Warga setempat juga tidak menyimpan rasa saling benci, tetap menghormati adanya perbedaan.

“Tujuan kita kan sama, sama-sama kepada Tuhan yang esa, cuma mungkin beda sebutan atau beda tradisi. Namun kita tetap biasa saja di sini, tidak ada apa-apa, damai,” jelasnya saat ditemui Kabar Madura di Klentengnya. (waw)

Komentar

News Feed