oleh

Menakar Kekuatan Kandidat Bupati Sumenep dengan Diskusi Politik

Kabarmadura.id/SUMENEP-Dalam rangka membuka ruang berpikir kalangam milenial dalam menakar calon Bupati dan Wakil Sumenep, yakni Achmad Fauzi-Dewi Khalifah dan Fattah Jasin-KH Muh Ali Fikri, Ruang Tengah Sumenep (RTS) menyelenggarakan diskusi pilkada bertajuk ‘Achmad Fauzi vs Fattah Jasin, Sabtu (15/8/2020).

9 Desember mendatang, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep 2020 akan diselenggarakan. Wawasan kalangan milenial dinilai penting dibuka dengan diskusi yang menghadirkan pembicara Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan, Pegiat Literasi dan Komunikasi Politik IAIN Madura Moh Zuhdi, dan Ketua Fraksi PKB Sumenep M Muhri yang sayangnya tidak hadir.

Pemilihan bupati dan wakil bupati Sumenep, yang akan diselenggarakan 9 Desember 2020 mendatang, semakin menarik untuk diperbincangkan, utamanya guna menakar kekuatan masing-masing bakal calon yang akan bertarung dalam konstalasi politik lima tahunan itu.

Ketua Ruang Tengah Sumenep (RTS), Abdul Gani menyampaikan, ruang diskusi yang digagasnya pada dasarnya tidak untuk mendukung salah satu bakal calon yang bertarung pada Pilkada Sumenep. Tujuan diskusi itu tiada lain untuk memberikan gagasan bagi masyarakat Sumenep guna menentukan pemimpinnya selama lima tahun ke depan.

Dinilainya, penting untuk memberikan pencerahan kepada calon pemilih di Sumenep melalui diskuisi-diskusi yang digelar oleh RTS. Oleh karenanya, diskusi yang digelar di Cofee Tabularasa itu bukan untuk pertama dan yang terakhir.

“Ke depan, kami mengagendakan diskusi pilkada dalam bentuk serial, target kami 6-7 kali, bahkan di bulan November nanti, kami akan mempublis kepada media hasil dari angket jejak pendapat yang kami sebarkan,” jelasnya.

Sementara itu, Darul Hasyim Fath memaparkan, bahwa untuk memastikan jalan pikiran dan garis keberpihakan atas kaum marginal adalah keniscayaan bagi PDI Perjuangan sebagai partai dengan histori yang terasosiasi dengan pendiri republik ini.

“PDI Perjuangan telah sejak lama memilih kebudayaan sebagai jalan dialektika, itu sebabnya memastikan aspirasi dengan mendengar dari jarak terdekat denyut kebatinan rakyat kewajiban seluruh kader tanpa kecuali. Pilkada sebagai momentum konsolidasi ideologi bagi partai, sebagai mesin penggerak menjemput mandat kedaualatan,” terang wakil ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Sumenep itu.

Terhadap kegiatan tersebut, Darul mengapresiasi gagasan komunitas RTS yang memiliki geliat intelektual untuk mencerdaskan masyarakat. Sehingga para pihak yang punya konsen terhadap proses demokrasi, geliat intelektual seperti yang dilakukan RTS harus didukung.

Untuk itu, politisi asal Masalembu yang hadir sebagai kader partai itu merasa terpanggil untuk memberikan pendidikan politik kepada generasi milenial, sebab kaum muda acapkali menjadi penggandrung skeptisisme.

“Dari dulu, dari jaman Yunani kuno, anak muda itu punya skeptisisme. Kalau gampang menjadi fanatik, tiba-tiba menjadi barisan yang loyal tanpa alasan, itu bukan anak muda. Keraguan menjadi pilihan para pemuda, dan itu normal,” pungkas Darul.

Pegiat Literasi dan Komunikasi Politik IAIN Madura Moh Zuhdi yang turut hadir pada diskusi itu menyampaikan, dengan latar belakang berbeda, dua kandidat pada Pilkada Sumenep itu memiliki magnet kuat, utamanya dari sudut pandang rekomendasi sejumlah partai yang telah dikantongi.

“Kedua figur calon sama-sama memiliki kapasitas, tidak mungkin partai tiba-tiba menjatuhkan rekomendasi tanpa ada nilai yang bisa meyakinkan partai. Politik itu dinamis, tidak hanya bisa dimaknai kepentingan untuk mencapai kekuasaan, tapi ada seni di dalamnya,” tuturnya.

Berkenaan dengan kekurangan dan kelebihan dua calon, menurutnya, setiap orang memiliki sudut pandang beragam. Sebab dari segi pengalaman, di antara figur itu sudah terlihat, baik dari background birokrasi, politisi, kiai hingga santri. (ong/waw)

Komentar

News Feed