Menangkal Cyberbullying

  • Whatsapp

Kemajuan teknologi memanjakan sebagian besar masyarakat kita. Mulai dari masyarakat kota hingga ke pelosok daerah sudah menjadi pengguna internet. Semisal Jejaring sosial yang menjadi salah satu primadona sebagian besar kawula muda. Mereka terhubung dengan berbagai elemen hanya dengan mengakses media sosial. Pengguna internet di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Internet Word Stats, dinyatakan bahwa pada November 2015 pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 78 juta orang. Sedangkan menurut survey dari We Are Social Data pengguna internet di Indonesia pada januari 2016 mencapai 88,1 juta dengan 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif. Bertambahnya pengguna internet sebenarnya tidak menjamin perilaku penggunya menajdi lebih beradab. Buktinya, masih sering kita lihat betapa banyak remaja kita saling ejek, saling menghina, dan menghujat di media sosial.

Bukankah perilaku semacam itu menjadi penanda bahwa sebagian remaja masih belum siap dengan pesatnya kemajuan. Seolah kaget, sebagian dari kita justru tidak mampu menghadapi kecanggihan teknologi. Banyak dari kita yang semakin pintar menjadi pengguna media sosial, tapi justru nilai-nilai kemanusiaan semakin merosot. Tidak percaya? Coba tengok saja sebagian netizen yang kerap kali saling fitnah dan menjelek-jelekkan satu pihak/ golongan di dunia maya. Tidak sedikit contohnya, para remaja kita yang doyan membully kawannya sendiri di media sosial. Aktivitas saling membully di medsos itu biasa kita kenal dengan istilah cyberbullying.

Lebih jelasnya lagi, cyberbullying merupakan kejadian di mana seseorang diejek, dipermalukan, diintimidasi, dan dihina melalui media internet; termasuk di dalamnya media sosial dan sejenisnya. Biasanya cyberbullying  menimpa remaja di bawah umur 18 tahun, sedangkan kalau kejadian tersebut terjadi pada orang yang umurnya di atas 18 tahun disebut dengan cybercrime atau cyberharassment. Sebenarnya yang membedakan cyberbullying dengan bullying adalah terletak pada media yang digunakan. Kalau bullying dilakukan secara langsung, semisal ketika seseorang remaja SMP berjumpa dengan kawan mainnya, lalu tiba-tiba mengejek tampilan fisik kawan. Beda halnya dengan cyberbullying di mana antarindividu atau anarkelompok tidak saling bertatap muka, tapi bisa saling melemparkan cemoohan, ejekan, dan hinaan melalui media sosial. Semisal menggunakan facebook, twitter, instagram, dan semacamnya.

Biasanya yang  mendorong seseorang membully orang lain yaitu dikarenakan rasa benci, amarah, dendam, iri, atau bisa juga karena sekadar mencari hiburan di jagad media sosial. Dengan kata lain hanya sebatas untuk have fun. Dorongan semacam itulah yang membuat seseorang tega menyakiti teman sebayanya hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya. Sementara pihak korban akan mengalami kerugian seperti terganggunya mental, psikis dan jiwanya. Saya beri contoh kasus biar lebih jelas: Semisal ada seseorang remaja SMA yang marah karena kekasihnya direbut teman sekelasnya; kemudian dia melampiaskan amarahnya tersebut dengan membongkar aib temannya di medsos, melecehkan dan mempermalukannya. Yaitu dengan cara menggugah foto tidak pantas, mengancam melalui surel, dan memperolok-olok dengan kasar. Begitulah kira-kira bullying di medsos. Sehingga korban merasa cemas, ketakutan, sakit hati, kecewa, hilang kepercayaan dirinya, atau lebih parahnya lagi bisa jadi bunuh diri.  Bahkan saya rasa dampak cyberbullying lebih parah; alasannhya karena merupakan kekerasan secara simbolik yang merusak mental dan jiwa seseoarang. Lebih parah daripada hanya menyakiti fisik. Kalau kekerasan secara fisik, sebulan dua bulan insyaAllah bisa sembuh. Lantas bagaimana kalau hati dan mentalnya yang diserang? Belum tentu setahun dua tahun bisa terobati.

Secara teoritis, bentuk dari cyberbullying sendiri dibagi menjadi dua yaitu cyberbullying by direct attact, yaitu aktivitas membully secara langsung dengan cara mengirimkan pesan-pesan yang merugikan salah satu pihak dengan menggunakan akun medsosnya sendiri. Artinya yang dituju jelas dan langsung disampaikan melalui updet status misalnya, atau melalu pesan langsung. Lalu selanjutnya, ada yang namanya cyberbullying by proxy, yaitu ketika sang pelaku membobol akun orang lain untuk kepentingan dirinya dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Cyberbullying by proxy biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki intelektualitas di atas rata-rata, artinya orang tersebut mampu menguasai teknologi secara mumpuni. Hanya saja penggunannya yang keliru.

Selanjutnya, bagaimana terkait koridor hukum di negeri ini, apakah sudah ada peraturan terkait aksi bullying di jagad maya? Tentu saja ada. Saya pernah membaca sebuah jurnal ilmiah berjudul Fenomena Cyberbullying Pada Remaja, penulisnya bernama Machsun Rifaudin. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa cyberbullying di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang menyatakan bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat diaksesnya informasi Elektronik dan atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik. Kemudian dalam Pasal 27 ayat (4) UU ITE yang menyatakan bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diakesnya  Informasi Elektronik dan atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan atau pengancaman. Dalam UU ITE memang tidak dijelaskan secara spesifik mengenai cyberbullying, namun unsur penginaan, pencemaran nama baik, dan pemerasan dapat dimasukkan dalam ranah cyberbullying.

Jika koridor hukum sudah jelas; sekarang bagaimana kita selaku masyarakat berupaya mencegah cyberbullying agar tidak semakin meluas dan menjadi penyakit yang menghambat kemajuan bangsa dan negara. Ada peribahasa menyatakan, ‘sedia payung sebelum hujan’, jadi jangan menunggu hujan turun, lebih baik mempersiapkan payung. Begitu pula dengan cyberbullying, jangan menunggu ada kasus baru grusa-grusu ingin menindak. Lebih baik melakukan pencegahan sedini mungkin.

Berbagai elemen mestinya saling mendukung dan menguatkan dalam mencegah anak-anak kita menjadi pelaku cyberbullying. Seperti mengadakan acara seminar dan sosialiasi tentang cyberbullying oleh institusi pendidikan baik kampus, sekolah dan lembaga lainnya . Begitu juga dengan orang tua tidak kalah pentingnya agar mewanti-wanti anaknya agar menjadi pengguna internet yang bijak, mengajarkan putra-putrinya bagaimana menggunakan media sosial dengan santun, ramah, dan penuh keadaban. Jangan biarkan buah hatinya berkembang menjadi remaja-remaja miskin adab; tidak tahu etika berkomunikasi. Pun demikian dengan pemerintah, harus terjun langsung melalui program-program strategis dan sistematis yang bertujuan membina mental dan moralitas generasi mudanya, termasuk di dalamya bagaimana bermedia sosial dengan penuh kesantunan.

Akhir kata, saya berharap masing-masing dari kita bisa belajar menahan diri dari ucapan-ucapan dan perangai yang bisa merugikan orang lain. Mari mulai perubahan dari diri sendiri dari hal-hal yang terkecil. Kalau bukan kita yang mulai, lantas siapa lagi yang akan memperbaiki bangsa ke depannya? Hindari cyberbullying mulai dari sekarang. Wujudkan kesejukan dalam bermedsos. Mari bersama menangkal cyberbullying

 

Penulis: Muhammad Aufal Fresky (Esais/ Kader Penggerak Nahdlatul Ulama)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *