oleh

Menangkal Pikiran Negatif

Penulis: Muhammad Aufal Fresky  (Staff Ahli Majalah NEW FATWA)

Ada sebagian orang berbondong-bondong ikutan kelas motivasi bagaimana meraih kesuksesan dalam hidup. Sebagian lagi mengikuti seminar dan pelatihan tips sederhana menjadi orang kaya. Apalagi saat ini banyak motivator yang menawarkan tips dan trik menjadi merdeka secara finansial di waktu muda. Membludak pula yang mengikutinya. Hal tersebut cukup memancing rasa penasaran saya terkait minat milenial yang begitu besar menjadi orang sukses dengan jalan ikut seminar. Karena tidak dipungkiri lagi, ada seminar-seminar yang menawarkan jalan pintas menjadi orang yang sukses. Sebelumnya, cukup Anda ketahui bahwa tulisan ini sama sekali tidak ada niatan menyindir para peserta atau penyelanggara seminar motivasi tersebut. Karena saya rasa hal tersebut adalah ikhtiar yang positif untuk mengembangkan diri.

Mengikuti acara seminar atau kelas motivasi adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri. Merupakan usaha dari setiap orang yang menginginkan adanya tambahan ilmu atau kemajuan cara berpikir. Karena biasanya, acara-acara tesebut membawa perubahan mindset. Juga menambah ilmu, jejaring, dan skill-skill tertentu. Tak heran jika ada beberapa acara seminar yang mengharuskan calon pesertanya membayar uang pendaftaran hingga jutaan rupiah.  Biasanya, pemateriya adalah orang yang professional di bidangnya dan diakui kredibilitasnya sebagai public speaker atau motivator. Sebagian dari kita kadang berpikir negatif, untuk apa ikut-ikutan acara seminar yang berbiaya mahal, mending uangnya dibuat modal untuk jualan, sudah jelas menjanjikan.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan orang yang berpandangan semacam itu. Karena pada dasarnya setiap dari kita memiliki latar belakang dan cara berpikir yang berbeda pula. Namun, satu hal yang perlu diluruskan adalah mengenai ketidakbermanfaatan acara tersebut dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, yang namanya ilmu itu tidak ada yang tidak berfaedah. Setiap ilmu pasti akan ada manfaatnya bagi pemiliknya. Ilmu akan mengangkat harkat dan derajat manusia di dunia, maupun di akhirat kelak. ilmu lebih utama dibandingan permata. Untuk mendapatkannya tentu saja perlu kemauan yang kuat, perjuangan, dan pengorbanan. Kita dituntut untuk berkorban tenaga, waktu, bahkan biaya untuk mendaptkan ilmu. Mengikuti acara seminat adalah salah satu cara untuk memperoleh ilmu. Dan membayarnya adalah salah satu bentuk pengorbanan kita. Jadi wajar saja jika ada seminar yang berbayar. Apalagi pemateri yang didatangkan adalah orang yang berbobot, tempatnya di hotel, dapat makan pula. Lalu, kenapa harus gratisan? Silahkan renungkan sendiri/

Terkadang kita terperangkap oleh pikiran negatif yang kita ciptakan sendiri. Pikiran negatif tersbut ibarat penjara mental bagi setiap dari kita yang hendak bekembang. Sehingga, orang-orang yang pikirannya selalu negatif tidak akan pernah berkembang secara optimal. Bahkan perjalanan menuju kesuksan akan menjadi stagnan. Tidak ada kemajuan selangkah pun. Karena dihantui rasa takut dan ragu. Selalu melihat segala sesuatuny dari sudut pandang yang negarif. Rasa-rasanya kita wajib hukumnya membuang jauh-jauh pikiran negatif yang memasung langkah kita untuk berlari cepat menuju kesuksesan. Sekali lagi, percayalah bahwa pikiran negatif bisa membelenggu kita.

Terkait bahaya pikiran negatif, saya akan mengutip kisah yang disampaikan oleh Purnadina lwat bukunya yang berjudul Remaja Revo: Tekad Pantang Menyerah. Dia bercerita bahwa beberapa tahun silam, sebuah peristiwa luar biasa terjadi di Eropa. Para ilmuwan diberi ijin untuk mengadakan suatu percobaan berbahaya. Yakin percobaan yang dilakukan pada seorang narapidana yang sebelumnya sudah divonis mati oleh pengadilan setempat. Narapidana tersebut kemudian diikat, ditutup matanya, dan diletakkan di atas meja percobaan. Lengan narapidana itu ditoreh sedikit, yang sebenarnya tidak sampai mengeluarkan darah. Tapi kepada narapidana itu diberitahu bahwa darahnya akan terus mengalir sampai dia mati. Dijelaskan juga jika darahnya perlahan-lahan mengalir ke baskom seperti yang narapidana dengar dan rasakan.

Ilmuwan itu terus berbicara tentang perkembangan darah yang mengalir ke lengan narapidana. Alhasil, kondisi narapidana semakin lemah. Ia merasakan bagaimana kengerian akibat mati karena darahnya mengalir seperti pipa yang mengalai kebocoran. Pokoknya si narapidana itu semakin putus asa akan hidupnya yang harus mati dengan cara mengenaskan kehabisan darah.

Akhirnya, ilmuwan itu mengatakan bahwa narapidana kini telah berada di ambang kematian. Narapidana pun semakin gelisah tak karuan dan kondisi tubuhnya benar-benar menjadi lemah dan tak berdaya. Dengan semua sugesti buruk yang merasuki pikirannya, perlahan-lahan narapiana itu mati dengan sendirinya. Benar-benar mati menghembuskan nafas terakhirnya.

Dari ceritu di atas dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa pikiran negatif sangat berbahaya jika dibiarkan bersemayam dalam akal kita. Oleh karenanya, sudah saatnya kita mengkal pikiran-pikiran semaca itu untuk meraih masa depan yang lebih gilang gemilang. Yakinlah bahwa masa depan akan dapat digenggam oleh orang-orang yang berpikiran positif, selalu optimis dalam melangkah. Kesuksesan tidak akan begitu saja didapatkan oleh orang-orang yang berpikiran buruk atas segala sesuatu, mudah mengeluh, dan gampang menyerah. Jadi kuncinya, mulailah sedari awal kita membasmi hingga ke akar-akarnya pikiran negatif. Mulailah untuk berpikir positif, apapun yang terjadi dalam hidup ini. Bukankah mentari pagi akan bersinar setelah melewai gelap malam? Jadi teruslah berjalan. Lanjutkan perjuangan. Karena perjalanan kita masih panjang.

 

 

Komentar

News Feed