Mencari Hiburan Berkualitas 

Opini161 views

Oleh: Hafis Azhari*)

Rasulullah pernah menyatakan bahwa, “Allah telah menjadikan salat sebagai hiburan bagiku.” Pengertian hiburan biasanya dikonotasikan sebagai “liburan” atau “berlibur” dalam mengisi waktu-waktu senggang agar pikiran dan perasaan kita merasa rileks dan santai. Sifat manusia untuk mencari hiburan bisa dalam bentuk apa saja. Saat-saat santai biasanya diisi oleh kesenangan atau keceriaan bersama keluarga, saudara-kerabat maupun teman-teman terdekat.

Ketika kita berada di luar negeri, tentu kita merasa kangen untuk bersantai bersama teman-teman setanah air, kemudian saling bersenda-gurau dalam bahasa Indonesia. Saat kita berada di Jerman maupun Jepang, akan merasa nyaman bagi kita jika menjumpai sesama teman sebangsa, bahkan lebih leluasa lagi jika kita berjumpa dengan teman-teman sesama satu agama dan kepercayaan.

Bersama orang-orang terdekat, kita bisa lebih rileks dalam mendapatkan hiburan. Bermain game atau mendengar alunan musik merdu dari penyanyi idola, tanpa terasa waktu telah kita nikmati dalam beberapa menit, bahkan beberapa jam saja. Seorang teman saya sering menolak diajak tamasya oleh keluarganya, karena dia lebih memilih seharian di dalam kamar untuk mendengar musik-musik kesukaannya. Berarti, dia lebih menikmati alunan musik ketimbang kenikmatan pemandangan yang mencerahkan mata saat berwisata.

Sesuatu yang lebih nikmat, itulah yang terus-menerus dicari dalam hidup manusia. Jika kita merasakan kenikmatan dengan berhubungan biologis (bersama istri), maka hal tersebut menjadi sesuatu yang mesti diupayakan, meskipun hanya beberapa saat tak terasa waktu berlalu. Pihak lelaki harus bersabar ketika sang istri menolak karena rasa capek dan lelah, atau karena alasan tertentu yang tak dikemukakan kepada suaminya. Begitupun sebaliknya. Namun, pelampiasan untuk mencari hiburan lain, tentu harus berpijak dalam koridor yang tidak dilarang oleh agama.

Kita bisa mendengar musik atau bercengkerama dengan anak-anak. Dan bagi seorang penulis atau sastrawan, biasanya diekspresikan dalam karya prosa maupun puisi-puisi indah. Pada prinsipnya, semua itu adalah pencapaian yang ditempuh manusia untuk meraih kenikmatan hidup yang lebih utama, maupun prioritas yang lebih membahagiakan.

Lama kelamaan, manusia akan merasa suntuk jika mendapatkan hiburan dalam satu jenis saja, misalnya mendengar musik, menonton film atau pergi ke warung bakso di alun-alun kota. Jika sang suami punya kemampuan, sang istri harus diberi kesempatan untuk memilih yang lebih cocok baginya. Karena boleh jadi, kenikmatan hiburan di tempat tidur akan menjadi hal menarik bagi pihak lelaki, sementara si istri membutuhkan yang lebih prioritas pada hal-hal lainnya.

Baca Juga:  Dikotomi Pendidikan

Dalam khutbah terakhir Rasulullah di Padang Arafah, beliau menyarankan agar umat Islam menjaga istri-istri mereka. Sebab, para suami punya hak atas istrinya, sebagaimana para istri yang juga punya hak atas suaminya. “Perlakukan para wanita dengan baik-baik, dan bersikaplah santun di hadapan mereka,” tegas Rasulullah. Di sisi lain, seperti dikemukakan di atas, Rasulullah menyatakan bahwa Allah menjadikan salat sebagai hiburan baginya.

Oleh karena itu, sejauh mana kualitas salat kita selama ini, jika kita lebih mementingkan aktivitas lain yang dianggap lebih “menghibur” dalam sehari-hari kehidupan kita?

“Bukankah sudah dijamin masuk surga, lalu untuk apa rajin melakukan salat?” canda Aisyah pada Rasulullah sang suami. Dalam hal ini, tentu saja kualitas salatnya Aisyah berbeda dengan kualitas salatnya Rasulullah yang sudah melampaui kesatuan imanen antara roja, khauf dan mahabbah. Konon, ketika bersatunya ketiga unsur tersebut, manusia seakan dibawa terbang melayang ke alam surga, saat menikmati ibadah salat.

Lalu, kenikmatan apa lagi yang perlu diperjuangkan, jika manusia sudah mencapai fase kenikmatan surgawi, yang derajatnya mencapai 99 persen, melampaui seluruh kenikmatan yang hanya satu persen saja dianugerahkan untuk kehidupan manusia di dunia ini?

Bagaimana kita sanggup meneladani jejak Rasulullah, hingga menjadikan kegiatan salat sebagai hiburan utama dalam hidup, seperti apa yang dinyatakan pada Aisyah, “Bukankah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?” (afala uhibbu an akuna abdan syakura).

Jika kenikmatan itu sudah diperoleh dalam hidup manusia, niscaya urusan-urusan duniawi yang gegap-gempita dan menyilaukan mata, sudah dianggap lewat dan tak menarik lagi bagi pencapaian hidup. Itulah sifat “qana’ah” yang mesti diutamakan, sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Tirmidzi: “Di antara kalian yang bangun di pagi hari dengan badan yang sehat, nyaman di rumah bersama keluarga, dan punya nafkah untuk menghidupi mereka, maka kalian telah menggenggam dan memiliki seluruh dunia ini.”

Untuk apa manusia merasa cemburu, dengki dan iri hati terhadap capaian-capaian yang diraih orang lain, baik dari sisi kemegahan, kecantikan maupun tingginya kekuasaan dan kedudukan duniawi? Apalah arti kecantikan wanita, jika manusia sudah melampaui batasan kemakmuran awal yang sifatnya hanya penglihatan nisbi, ilusi optik, atau sekadar pandangan kasat mata yang menipu?

Baca Juga:  Urgensi Literasi Media di Era Post Truth

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin pernah menyatakan, bahwa penyebab tidak khusyuknya salat adalah karena penglihatan dan pendengaran yang membuat pikiran seseorang tidak fokus dan rileks (tuma’ninah). Baginya, penglihatan dan pendengaran manusia adalah sumber utama bagi tipuan dan godaan dalam hidup ini.

Untuk itu, jagalah penglihatan dan pendengaran kita, dari segala hiruk-pikuk fitnah, hoaks, maupun gosip-gosip yang berseliweran di sana-sini. Tidak ada gunanya menguping dan mencari-cari kesalahan orang, bahkan tidak bermanfaat kita mencari-cari kesalahan istri maupun sanak-saudara sendiri, karena hal tersebut dapat menipu dan memicu kedengkian dalam hati sanubari kita. Beruntunglah orang yang mampu membaca kekurangan dirinya ketimbang sibuk mengorek-ngorek kesalahan orang lain. Karena pada hakikatnya, Tuhan Yang berhak menghakimi kesalahan seseorang, apakah suatu kesalahan itu bisa ditoleransi atau tidak. Sepenuhnya dalam penghakiman Allah Yang Maha Pemaaf dan Pemberi taubat yang tidak terbatas.

Suatu hari, Ibrahim bin Adham pernah ditanya oleh seorang perampok yang memukuli dirinya, “Wahai Ibrahim, mengapa kau memaafkan saya? Padahal saya sudah merampas harta yang kau miliki, serta memukuli Anda?”

Dengan tenang dan sabar, Ibrahim menjawab, “Karena apabila saya tak memaafkan, Anda akan dihisab atas perbuatan Anda, dan saya tidak memperoleh pahala dari Allah. Sedangkan bila saya memaafkan, bagi saya adalah pahala kebaikan, dan bagi Anda adalah ampunan dari Allah. Ada dua keuntungan dan dua kerugian di sini, lalu untuk apa saya harus memilih yang merugi?”

Kualitas kesufian semacam itu yang didambakan oleh kita yang sedang mencari puncak kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Ibrahim bin Adham telah mencapai maqam di mana kenikmatan rohani telah melampaui kenikmatan materi yang bersifat fana dan semu belaka. Itulah yang dimaksud “kemenangan rohani” dalam artikel saya terdahulu (NU Online). Seringkali kita menghabiskan keseharian kita, hanya sibuk untuk mencapai kemenangan dan kenikmatan materi belaka. Padahal, kemenangan dan kenikmatan rohani itulah yang semestinya kita pejuangkan secara optimal.

Bagaimanapun, kenikmatan rohani harus kita utamakan dalam pencapaian tujuan hidup, bahkan harus diprioritaskan sebagai misi perjuangan kaum beragama. Meskipun hak-hak manusia lain (liyan) untuk mendapatkan kenikmatan materi, perlu kita pahami sebagai bagian dari proses yang akan terus mencapai muara spiritualitas dan religiusitas yang lebih luhur (islami).

 

*) Penulis Novel ”Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *