oleh

Mencari Titik antara Dua Cahaya

Oleh : Bagis Syarof (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Saat ada dua cahaya dalam sebuah ruang, maka di situ sudah pasti ada titik yang bisa dijangkau oleh keduanya. Saat ada dua pendapat yang berlawanan, maka di situ sudah pasti ada temu. Tidak semua yang berbeda, harus bermusuhan, tidak semua yang kontras harus dijatuhkan. Terkadang mereka butuh rangkulan, agar bisa menemukan sebuah gagasan bersama yang lebih cemerlang.

Sains dan agama—dua cahaya—diklaim, acapkali berbenturan. Bahkan dua cabang pengetahuan tersebut tidak mendapatkan titik temu, karena   para ahli dari keduanya tidak mau menerima satu sama lain. Mereka terfokus terhadap apa yang mereka tekuni. Para ahli sains selalu tekun belajar tentang sains sampai sangat mendalam. Begitupun orang-orang yang konsisten mempelajari tentang agama. Akhirnya, mereka bentrok secara pemikiran ketika menghadapi permasalahan kompleks. Contoh, yang marak diperbincangkan, pandemi COVID-19.

Menurut pandangan sains, untuk mengatasi pandemi ini, pemerintah harus mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak, menjaga imun tubuh, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah,   selalu menjaga kebersihan diri, dan lainnya. Menurut orang sains, protokol kesehatan tersebut dilakukan untuk menekan penyebaran virus Corona, agar tidak semakin meluas, agar pandemi ini cepat berakhir.

Golongan agamais—yang tidak mengerti dan belajar sains—menentang atas kebijakan tersebut. Mereka tetap melaksanakan berbagai acara tanpa mentaati protokol kesehatan yang sudah diperintahkan. Dalam pandangan mereka, virus Corona, adalah ciptaan Tuhan. Manusia pun hidup atas kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa mencampuri otoritas Tuhan terhadap mahkluknya. Kalau ditakdirkan mati karena corona, maka akan mati, kalau tidak ditakdirkan mati karena corona maka tidak akan mati.

Pemikiran barat modern—sains, dimulai oleh Discates, dengan mengambil pengetahuan melalui perhatian terhadap manusia (subyek) dan alam semesta (obyek). Segala ilmu pengetahuan berasal dari dua komponen tersebut, yaitu manusia dan alam (hlm. 24). Tidak ada komponen Tuhan dalam pemikiran barat modern, karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris dan rasional. Mereka meyakini bahwa dengan sains sudah cukup untuk menjelaskan segala hal yang ada di dunia ini. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini, disebut sebagai kaum ekstrimis sains.

Haidar Bagir di salah satu esai dalam buku ini, Sains itu, produk khayal, mengatakan bahwa, tidak semua sains itu ditemukan dari segala hal yang bersifat rasional dan empiris. Bahkan, Enstein mengatakan bahwa, pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi atau khayalan bisa merangkul segalanya. Dan masih banyak ilmuan sains, yang menemukan hal  baru dari imajinasinya. Jadi, ahli sains tidak boleh terlalu pongah dan mengesampingkan pendapat lain, kalangan agamais. Karena tidak semua hal dalam dunia, harus rasional dan empiris, tapi bisa saja imajinatif atau intuitif.

Pemikir agamais tidak lebih juga bersikap seperti ekstrimis sains. Mereka tidak menerima keberadaan sains dalam kehidupan. Mereka lebih meyakini hal yang bersifat imajinatif, Tuhan dari pada hal yang bersifat rasional dan empiris. Mereka cenderung akan memberontak jika keyakinannya diganggu oleh golongan lain, termasuk golongan sains.

Contohnya, ketika pemerintah Indonesia, mengimbau  kepada seluruh masyarakat untuk tidak melaksanakan solat berjamaah di masjid dulu, karena dikahawatirkan, kerumunan di masjid akan menjadi klaster penyebaran virus corona. Bagaimana sikap masyarakat agamais ketika dilarang solat jamaah? Mereka melontarkan protes kepada pemerintah. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan, kami lebih takut kepada Tuhan dari pada Corona. Sungguh miris bukan?

Kelompok masyarakat tersebut bisa bertindak sekeji itu, karena mereka tidak tersentuh oleh sains. Mereka hanya belajar tentang agama, sampai lupa untuk belajar sains. Agama, salah satunya Islam, tidak pernah menolak keberadaan sains. Sejak zaman kenabian, sudah ada sains pengobatan. Pada masa khalifah, dua sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib, ahli di bidang teknologi pertanian, dan Salman al-Farisi, ahli bidang teknologi (hlm. 78). Jadi, dalam sejarah peradaban agama Islam, tidak ada penolakan terhadap keberadaan sains, di dalam masyarakat beragama.

Menurut Ulil Absar, dalam artikelnya, Hubungan Agama dan Sains, sebenarnya antara agama dan sains tidak ada pertentangan. Negara di Asia, tidak  mempermasalahkan agama dan sains, seperti Jepang, Korea dan lainnya. Berbeda dengan Eropa. Mereka para sainstis Eropa memusuhi agama, karena mereka mengalami trauma masa lalu terhadap agama. Dulu, raja-raja di sana, menggunakan agama sebagai alat politik untuk kepuasan hasrat dirinya. Kekejaman, kekerasan, dan segala hal yang tidak berperikemanusiaan pun dilakukan atas dasar agama. Oleh karena itu, kelompok saintis membenci agama, karena trauma masa lalu.

Agama dan sains merupakan dua cahaya yang sama-sama membantu memberikan petunjuk terhadap peradaban manusia. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya harus sama-sama digunakan untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik dari sebelumnya.

Judul Buku      : Sains “Religius” Agama “Saintifik”

Penulis             : Haidar Bagir dan Ulil Absar Abdalla

Penerbit           : PT. Mizan Pustaka

Cetakan           : Pertama, Agustus 2020

Tebal               : 172 halaman

ISBN               : 978-602-441-178-7

Komentar

News Feed