oleh

Menciptakan Semangat dan Optimisme Baru

Oleh: Ahmad Wiyono*

Tahun 2019 telah berlalu, tahun anyar 2020 telah datang, pada awal pergantian tahun inilah masyarakat kita biasa menyebut tahun baru. Sebagaimana lazim kita lihat di Indonesia, pergantian tahun kerap dijadikan momentum untuk menggelar sejumlah event, baik yang dilaksanakan oleh lembaga, organisasi maupun perorangan. Sayang, tak semua event menyambut tahun baru tersebut bernilai positif, banyak yang justu hanya bersifat hura-hura.

Sedianya pergaantian tahun dijadikan refleksi untuk menhitung jumlah usia yang sudah berlalu agar manusia bisa menata segala hal yang belum tercapai di hari kemarin bisa diperjuangkan pada hari berikutnya, demikian pula kegagalan tahun kemarin mestinya diupayakan untuk diperbaiki tahun ini dan yang akan datang. Inilah refleksi yang seharusnya hadir dalam setiap jiwa manuisa agar tahun baru tak hanya menjadi media hura-hura yang tak menghasilkan manfaat apa-apa.

Islam sebagai agara rahmatan lil alamin selalu hadir untuk memberikan rambu bagi segenap manusia agar senantiasa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, termasuk dalam menyambut pergantian tahun. Seperti yang diulas dalam buku berjudul Khutbah-Khutbah Imam Besar ini. Pada salah satu babnya, buku ini membahas tentang tata cara menyambut pergantian tahun yang baik dan bermanfaat, tentu dengan tidak mengenyampingkan nilai-nilai rekreatif dalam momentum tahunan tersebut, namun demikian, aturan main menyambut pergantian tahun yang diulas dalam buku ini menitikberatkan pada pentingnya menjadikan momentum tahun baru sebagai media muhasabah (instrspeksi diri) bahwa umur manusia terus berjalan tak kenal waktu.

Refleksi tahun baru yng diurai dalam buku ini diawali dengan sebuah perntanyaan, yaitu bagaimana gerangan kehidupaan di hari-hari mendatang, setelah pergantian tahun apakah kehidupan kita akan lebih baik, atau justru sebaliknya. Refleksi menegaskan pentingnya resolusi setiap personal, namun demikian, buku ini memberikan penegasan agar resolusi tersebut berpedoman pada dogma dan ajaran-ajaran islam yang sudah ada, sehingga serangkaian kegiatan pergantian tahun tidak kebablasan. Penulis sengaja mengutip kisah Lukman dalam buku ini sebagai referensi reflektif dalam menyambut masa depan melalui resolusi pergantian tahun tersebut.

Lukman pernah memberikan nasehat kepada puternya; “Wahai anakku, gantungkanlah harapanmu kepada Allah dengan harapan yang tidak membuat kamu merasa aman dari siksaan. Takutlah karena Allah dengan rasa takut yang tidak menjerumuskan kamu untuk putus asa dari rahmat Allah, sebab orang mukmin itu mempunyai dua hati; satu hati yang mengharap dan satu hati lagi yang merasa takut. (7-8).

Salah satu pesan penting yang disampaikan buku terbitan Imania ini dalam kaitannya dengan pergantian tahun adalah pentingnya membangun optimisme baru. Resolusi yang digerakkan secara personal merupakan buah dari optimisme yang dibangun oleh manusia, maka membangun optimisme baru adalah kunci keberhasilan dalam menyambut tahun baru. Dalam pandangan penulis, optimsime akan berimplikasi pada banyak hal, diantranya adalah kekuatan mental untuk mewujudkan segala impian yang sudah ditata pada tahun sebelumnya, termasuk juga kebernain untuk selalu bangkit dari keterpurukan yang dialami baik karena sengaja atau pun di liuar dugaan.

Optimisme yang kadang juga diistilahkan dengan penghargaan, atau dalam bahasa Arab disebut roja’, memiliki beberapa makna. Roja’ bisa berarti harapan, angan-angan, dan bisa juga berarti takut. Roja’ dalam arti harapan yakni rasa optimisme seorang hamba setelah melakukan berbagai ketaatan dan secara maksimal telah berusaha menghindarkan diri dari segala larangan. (hal. 12).

Selain mengulas makna tahun baru, buku ini tentunya  juga membahas banyak tema lain yang berkaitan dengan khaznah islam dan kebangsaan. Ssemua isi buku ini meruoakan hasil tuisan para imam besar yang sudah pernah disampakan dalam kegiatan khutbah, terutama khutbah Jum’at. Sedikitnya ada 53 khutbah yang sudah disajikan dalam buku setebal 330 halaman in, semua sudah melalui proses edit yang menjadikan bahasa buku ini sangat renyah dan mudah dipahami. Bagi anda yang ingin memperkaya referensi seputar keislaman, buku ini sangat pas dibaca. Selamat membaca.

Peresensi Ahmad Wiyono; Penggerak Literasi Madura, bermukim di Pamekasan

Judul Buku      : Khutbah-Khutbah Imam Besar

Penulis             : KH. Nasaruddin Umar

Penerbit           : Imania

Cetakan           : 2018

Tebal               : 330 Halaman

ISBN               : 978-602-8684-26-4

 

Komentar

News Feed