Mendamaikan Teori Evolusi Darwin dengan Agama

  • Whatsapp

Oleh: SlamatMakhsun*

“Jika Tuhan tidak mencegah kejahatan, Tuhan tidak Mahakuasa; jika Tuhan mampu mencegah kejahatan, tetapi tidak melakukannya, Tuhan tidak bijaksana. Kenyataannya, kejahatan ada—bagaimana bisa?”

Kata-kata di atas, sedari dulu sampai sekarang masih menjadi perdebatan.  Bagaimana mempertahankan argumen kitab suci, sehingga Tuhan diterima dan disembah oleh kalangan yang menentangnya. Pasalnya, para ilmuwan yang bertujuan menghilangkan kejahatan cum segala masalah kehidupan manusia, seringkali menjadi pihak oposisi terhadap agamawan yang mencoba memaksakan interpretasi kitab suci kepada akademisi tersebut.

Sebutlah Darwin, yang mencetuskan teori evolusi asal-usul manusia yang mendapat kecaman keras dari pihak Gereja dan orang Kristen Eropa. Bagi Darwin, teori evolusi adalah sebuah teori yang menjelaskan asal-usul makhluk hidup di dunia ini, yang pada mulanya berasal dari satu sel. Dari satu sel itu, kemudian berkembang dan berevolusi sehingga membentuk bermacam organisme seperti manusia, tumbuhan, dan hewan, yang begitu banyak memiliki susunan sel.

Hal itu ia peroleh dari berbagai pelayaran ke berbagai pulau dan benua. Ia menyimpulkan bahwa antara satu makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya memiliki keterikatan. Seperti burung pemakan daging dengan burung pemakan biji-bijian, memiliki perbedaan yang menonjol dalam paruh dan cakarnya. Hal itu karena berkaitan dengan rantai makanan. Burung pemakan daging memiliki cakar dan paruh yang tajam agar mudah menggenggam dan memakan mangsa. Burung pemakan biji-bijian mempunyai cakar yang tidak terlalu tajam untuk memudahkan bertengger di pohon atau tumbuhan yang ada menghasilkan biji-bijian. Juga paruh yang agak tumpul dan lebar, agar mudah dalam ‘mengunyah’ biji-bijiannya.

Sama halnya dengan manusia, yang memiliki susunan kerangka tubuh seperti kera. Menurut Darwin, manusia berasal dari evolusi kera selama berjuta-juta tahun. Hal yang membedakannya hanya dari volume otak. Manusia memiliki volume otak yang besar dibanding kera; maka wajar saja jika manusia disebut makhluk yang cerdas.

Berbeda hal dengan agamawan, para ilmuwan ingin menemukan Tuhan dengan jalannya sendiri. Mereka berambisi ingin mencari Tuhan dalam berbagai penelitian ilmiah yang dilakukan.

Sejatinya, keimanan terhadap agama harusnya berdasar wahyu dan pondasi kepercayaan  yang kokoh. Hal itu sebagai wujud representasi bahwa agama adalah sakral dan memang diciptakan oleh Tuhan, bukan manusia. Jika agama harus tunduk dan berdasar penelitian ilmiah, maka apa bedanya Tuhan dan manusia?

Kesalahan yang saya temukan yaitu banyak agamawan maupun ilmuwan yang sering mencampuradukkan agama dan sains. Kenyataannya, kedua hal itu sangat berbeda. Sains berhubungan dengan problem dunia yang bersifat materiil dan tampak. Sedangkan agama berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan. Agama bergerak dalam ranah kejiwaan dan psikologi (perasaan) manusia.

Ada kalanya kebenaran agama didukung oleh sains. Tapi, sejauh ini yang saya dapati, sains dibenturkan dengan agama. Penyebabnya manusia salah dalam menafsirkan teks-teks agamanya. Seperti dalam kasus Galilei Galileo, yang dihukum mati oleh Gereja karena hipotesa penelitiannya bertentangan dengan ayat-ayat yang ada di Injil. Lantas, setelah Galileo mati, apakah sains semakin meredup? Tidak. Sains semakin berkembang pesat. Berbagai universitas, lembaga, dan pemerintah teurs menginvestasikan jutaan dollar untuk pengembangan sains, dan ribuan paper hasil penelitian akan terus dipublikasikan setiap tahun dalam jurnal-jurnal ilmiah.

Saya tekankan lagi, agama dan sains menjawab persoalan yang berbeda. Sains  tidak memiliki ketentuan yang pasti untuk mendukung atau menolak inspirasi, realitas, atau nilai suatu agama. Nilai atau tujuan dari alam semesta dan keberadaan manusia, bukanlah persoalan sains. Sehingga, pada waktu yang sama, banyak ilmuwan yang tetap kukuh dalam kepercayaan agamanya.

Agustinus, yang juga diikuti oleh Gelileo, mengatakan bahwa jika nalar menuntun untuk menemukan kebenaran yang tampak tidak sesuai dengan interpretasi agama, maka seharusnya minggir. Interpretasinya diganti. Karena yang salah adalah tafsir manusia atas agamanya.

Lalu, apakah teori Darwin mengeksklusi keyakinan agama? Tidak. Jika kita berpikir, terjadinya banjir, hujan, atau bencana alam lainnya, karena adanya hukum alam. Yaitu sebab akibat yang telah di ‘setting’ oleh Tuhan. Bukan karena Tuhan murka kepada manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk mengelola bumi, lalu jika bumi rusak, bukan karena Tuhan, tapi manusia yang gagal mengurusnya. Oleh sebab itu, Tuhan mengkaruniai  akal bagi manusia agar bisa berpikir sebagai bekal mengurus dunia.

Buku ini menguraikan pemikiran Darwin dan sangkutpautnya dengan agama. Ulasan di dalamnya menggunakan bahasa yang jelas dan logis. Sehingga akan memberikan pemahaman dan wawasan baru bagi para pembacanya.

)*Pegiat Literasi di Garawiksa Institute, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga.

Judul Buku      : Sumbangsih Darwin untuk Sains dan Agama

Panulis             : Francisco Jose Ayala

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Pertama, November 2020

Tebal Buku      : 290 Halaman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *