oleh

Meneladani KH Masjkur dan Ruhana Kuddus

Kabarmadura.id –Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk enam tokoh. Salah satu dari enam tokoh tersebut, adalah KH Masjkur, yang merupakan ulama dan pejuang kemerdekaan dari Jawa Timur.

Dalam dunia jurnalistik, Presiden Joko Widodo juga memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kuddus. Perempuan satu ini, dikenal sebagai tokoh pers dari Sumatera Barat dan menjadi perempuan pertama yang berjuang merebut kemerdekaan melalui jalan pers.

Sejumlah tokoh Madura memiliki pandangan beragam terhadap keduanya. Namun secara umum, cukup mengapresiasi pemberian gelar tersebut. Sebab, kedua tokoh tersebut memiliki catatan perjalanan yang luar biasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain KH Masjkur dan Ruhana Kuddus, tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko) dari Sulawesi Tenggara,
Prof dr M Sardjito dari DI Yogyakarta, KH Abdul Kahar Mudzakkir dari DI Yogyakarta dan  A A Maramis dari Sulawesi Utara.

 

KH Masjkur

KH Masjkur, tokoh Nahdlatul Ulama dari Jawa Timur yang mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Jadi Teladan bagi Rakyat

Ketua DPRD Sumenep Abdul Hamid Ali Munir

 

Ketua DPRD Sumenep Abdul Hamid Ali Munir memberi apresiasi khsusu untuk KH Masjkur, putra Jawa  Timur yang juga tokoh ulama yang dilabeli sebagai pahlawan nasional.

Menurutnya, perjuangan KH Masjkur melalui Laskar Sabilillah, PETA dan juga BPUPKI adalah pembuktian bahwa ulama juga berperan besar dalam proses berdirinya negara ini.

“Sebagai warga Jawa Timur, gelar pahlawan untuk KH Masjkur menjadi kebanggaan yang patut diteladani dana ketulusannya dan peran totalnya untuk ikut membangun negara ini,” ucap Ketua DPRD Sumenep Abd Hamid Ali Munir.

Baginya, tidak mungkin predikat sebagai pahlawan nasional akan disandangkan kepada sejumlah tokoh jika kualitas dan perannya tidak bermakna bagi bangsa Indonesia ini. Karena menurutnya, kemerdekaan Indonesia ini bukanlah sebuah hadiah tetapi berkat perjuangan para bangsa terdahulu.

Sehingga menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, siapa pun berhak atau berkesempatan mendapatkan gelar pahlawan, namun tentunya gelar tersebut diraih tidak semudah membalik telapak tangan.

Makanya perlu sikap nasionalisme yang tinggi dan terangsang inspirasi untuk meneladani perjuangan tokoh-tokoh tersebut. Karena pahlawan bukan melulu tentang tumpah darah, tetapi tetap membina dan memotivasi bangsa agar tetap satu ideologi merupakan perjuangan yang tidak mudah tercapai.

“Tidak mustahil bagi siapa saja mendapatkan gelar pahlawan nasional, tetapi yang pasti harus sikap bermanfaat kepada bangsa yang selalu ditabur secara terus menerus,” katanya, Minggu (10/11). (ara/bri/waw)

 

Pejuang Sabilillah Inspirasi Rakyat

SYAFIUDDIN: Ketua PC GP Ansor Pamekasan

Ketua PC GP Ansor Pamekasan Syafiuddin memiliki pandangan dari sudut sejarah terhadap KH Masjkur. Menurtnya, tokoh yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama ini sangat mungkin bisa menginspirasi bagi warga Jawa Timur.

Perjuangannya melalui Laskar Sabilillah selalu menjadi perbincangan bagi seluruh generasi bangsa ini. Laskar Sabilillah adalah sebuah kekuatan total yang komandani para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan dengan menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda yang akan kembali menguasai Indonesia.

“Gelar Pahlawan bagi KH Masjkur  bagi kami warga Jawa Timur adalah penghargaan yang membanggakan dan tentunya bagi kami di Ansor menjadi penyemangat bahwa peran serta dalam membangun bangsa ini bisa dilakukan dari berbagai sisi sesuai kemampuan kita,” Ketua PC GP Ansor Pamekasan Syafiuddin. (bri)

 

PCNU Sampang: Jadikan Momentum Bersyukur

MAHRUS ZAMRONI: Sekretaris PCNU Sampang

Sampang-Sekretaris PCNU Sampang Mahrus Zamroni cukup mengapresiasi dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk tokoh ulama Jawa Timur, KH. Masjkur.

Sebagaimana diketahui KH Masjkur tercatat memiliki riwayat luar biasa dalam perjuangan meraih kemerdekaan Republik Indonesia.

Kendati sebagai ulama, KH Masjkur juga turut berjuang di medan peperangan. Saat Hindia Belanda (kini Indonesia) diduduki Jepang, sosok satu ini sudah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahkan, juga tergabung dalam tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Semasa revolusi, tepatnya 10 November 1945, saat Surabaya akan dikuasai tentara Sekutu yang diboncengi Belanda, tokoh Nahdlatul Ulama ini turut melawan dan menjadi pemimpin barisan Hizbullah.

Menurut Mahrus Zamroni, hari pahlawan harus dijadikanmomentum bersyukur kepada yang kuasa, karena kita semua bisa hidup tidak ikut berdarah-darah, berjuang nyawa, keluarga bahkan harta demi menegakkan kemerdekaan.

“Berkat para pejuang para pahlawan terdahulu, termasuk pejuangan salah satu tokoh NU yang baru saja mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasionalini, patut kita patut bersyukur,” ujarnya.

Diera milenial ini, tegasnya, para generasi sudah banyak yang tidak tersambung secara sejarah dengan para generasi masa lalu. Maka oleh karenanya, harus disambungkan kembali dengan meningkatka jiwa patriotismenya.

“Kedepan, kami harap para generasi melienial ini dapat mempunyai jiwa yang besar untuk berkarya, pantang menyerah untuk berkarya dan dapat memberikan yang terbaik dalam membangun bangsa tercinta ini,”tukas Mahrus,

Bertempatan pada tanggal 10 November, diperingati sebagai hari pahlawan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang menggelar upacara peringatan momentum hari pahlawan serta mengajak masyarakat untuk mengingat dan meneladati perjuangan para pahlawan terdahulu, pada Minggu (10/11).

Sedangkan bertepatan pada momentum 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang menggelar upacara bendera.

Bupati Sampang Slamet Junaidi mengatakan, pada setiap pertemuan, perlu ditekankan semangat perjuangan, yakni tentang bagaimana dapat mengingat para pejuang-pejuang terdahulu yang sudah mendahului.

Maka, kedepannya, karena perang fisik dan penjajahan sudah tidak ada lagi, jadi masyarakat, khususnya para pemuda Indonesia di Sampang harus memiliki inovasi baru tentang bagaimana memaknai dari pada perjuangan para pahlawan

“Berjuang itu bukan hanya perang senjata, tetapi kita saatnya sekarang bagaimana terus berjuang dapat melakukan inovasi-inovasi baru dalam membangun dan membuat program-program nyata yang pro rakyat,”ucapnya kepada Kabar Madura, pada Minggu (11/10).

Seluruh abdi negara di lingkungan Pemkab Sampang juga diajak mengimplementasikan semangat dan pemikiran para pejuang dalam kehiduoan sehari-hari kepada sesama.

“Tentunya, Kami mengajak kepada seluruh ASN, masyarakat sampang, marilah berjuang membuat program nyata dalam membangaun Sampang yang kita cintai ini, sehingga visi Sampang Hebat Bermatabat dapat terwujud,”terangnya.(sub/waw)

 

Ruhana Kuddus

Ruhanna Kuddus, pahlawan pers nasional dari kalangan perempuan.

Inspirasi bagi Jurnalis Masa Kini

KM

Sumenep-Pemberian gelar pahlawan terhadap 6 tokoh nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November kemarin  menjaid ajang untuk mengenang jasa-jasa para tokoh nasional; dalam perannya memperjuangkan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Uniknya, gelar pahlawan untuk 6 orang tokoh  tahun ini berasal dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari kalangan jurnalis, Ruhanna Kuddus.

Anugerah gelar Pahlawan  bagi  Ruhanna Kuddus tersebut  sebagaimana disampaikan Penasehat Perstuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep Ahmad Rifaie harus menjadi penyemangat bagi para jurnalis jika peran mereka dalam membangun bangsa sangat penting.

“Gelar pahlawan untuk Ruhanna Kuddus adalah  bukti bahwa pahlawan tidak selalu berasal dari insan jurnalis yang berada di garda paling depan melakukan pertempuran atau terlibat langsung dalam kontak senjata. Peran jurnalis juga sangat penting dalam perannya membangun negara ini,” ungkap Rifaie.

Dia menegaskan ucapan terima kasihnya kepada Presiden Joko Widodo melalui dewan gelar Republik Indonesia atas penganugerahan gelar pahlawan untuk jurnalis pertama dari kalangan perempuan ini.

Rifaie yang saat ini juga menjabat sebagai anggota Komisi Informasi (KI) Sumenep menegaskan, gelar pahlawan terhadap Ruhanna Kuddus harus menjadi cambuk bagi para jurnalis masa kini dalam peran sertanya membangun bangsa ini. (ara/bri/waw)

 

PWI Bangkalan: Pers adalah Ajang Perjuangan

ABD. AZIS: Ketua PWI Pamekasan

Bangkalan-Dinobatkannya wartawan perempuan pertama di Indonesia, Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional, mendapat perhatian khusus dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangkalan Mohammad Amin.

Mohammad Amin sangat mengapresiasi gelar yang diberikan kepada Rohana Kudus. Aminmengungkapkan, dunia pers dulu merupakan dunia perjuangan. Maka dari itu, pantaslah seorang Rohana Kudus diberikan gelar pahlawan.

“Meski sekarang pers kita bergeser menjadi pers kapitalisme. Namun, demikian kita berharap nantinya akan tumbuh dan akan ada gelar-gelar kepada wartawan dari pemerintah,” ujarnya.

Dirinya juga berharap, wartawan harus memiliki jiwa perjuangan untuk bangsa ini. Sehingga, melalui perjuangan dalam tulisan-tulisannya dapat menjadi penyambung lidah rakyat.

“Untuk itu, ini juga menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah agar ada gelar untuk wartawan-wartawan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Bangkalan Mohammad Fahad menegaskan, bahwa Hari Pahlawan merupakan hari untuk mengingatkan agar tetap berjuang dalam memperjuangkan rakyat kecil yang masih tertindas setelah kemerdekaan.

Dengan adanya penobatan gelar tersebut, dirinya berharap agar menjadi cambuk semangat dan membuktikan bahwa tidak semua pejabat negara tidak memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Poinnya, kalau dulu pahlawan itu sebagai pejuang sejati untuk membela rakyat dan bangsa bahkan rela mengorbankan nyawanya. Kita sebagai penerus perjuangan masyarakat dan bangsa harus bisa memperoleh prestasi untuk membangun negara yang lebih maju,” tukasnya. (ina/waw)

 

PWI Pamekasan: Saatnya Menyerap Nilai dari Ruhana

ABD. AZIS: Ketua PWI Pamekasan

Pamekasan-Gelar Pahlawan pada jurnalis Ruhana Kuddus menguatkan peran dan identitas kepada publik bahwa jurnalis memiliki peran penting dalam ikut membangun dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Sebab selama ini peran jurnalis dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari kungkungan penjajah kurang nampak, meskipun pada hakikatnya mereka ikut andil besar.

“Dengan demikian, gelar kepahlawanan yang diberikan kepada jurnalis Roehana Koeddoes pada Hari Pahlawan kali ini sebagai bentuk peneguhan bahwa kelompok profesi kita ini juga ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan,” kata Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz.

Ruhanna Kudus juga sebagai bukti, perempuan pejuang di Indonesia lahir dari berbagai kalangan. Ibu Kartini, Dewi Sartika dan Tjut Nyak Dien adalah penguat peran serta perempuan dalam perjuangan Indonesia, termasuk Ruhanna Kudus yang mengekspresikan perjuangannya   sebagai insan jurnalis.

Aziz juga mengajak agar semangat kepahlawanan dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini Indonesia perlu terus digencarkan melalui profesi jurnalis.

“Salah satunya melalui upaya untuk memupuk persatuan dan kesatuan bangsa melalui tulisan di masing-masing media di mana kita bertugas,” kata Aziz.

Ruhana Kuddus lahir pada 20 Desember 1885 di Koto Gadang, Kecamatan Koto, Kabupaten Agem, Sumatera Barat. Ayah Ruhana Kuddus bernama Muhammad Rasyad Maharajja Sutan seorang Hoofd Jaksa yang rumahnya dijadikan sekolah, tempat bermain, membaca buku dan lain sebagainya.

Hal itu secara tidak langsung Ruhana sejak kecil sudah mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Melayu dan Belanda. Beranjak dewasa Ruhana pergi merantau bersama ayahnya. Ia mulai bersentuhan dengan dunia luar yang membuatnya kenal dengan berbagai keterampilan dan kerajinan tangan.

Setelah sekian lama, sampailah Ruhana menjadi seorang penulis dan memimpin surat kabar perempuan Redaksi Sunting Melayu. Hal tersebut membuat namanya tercatat dalam sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang memimpin surat kabar.

Melalui surat kabar tersebut, Ruhana dan PK Amai menarik perhatian pemuka Belanda di Batavia (Jakarta). PK Amai merupakan Perkumpulan Karadjinan Amai Setia. PK Amai bertujuan untuk membangkitkan semangat pemberdayaan perempuan minang kabau serta membekali mereka dengan ilmu dan keterampilan.

Para pemuka Belanda di Batavia (yang sekarang kota Jakarta) mengundang Ruhana untuk ikut serta dalam Pameran Internasional di Belanda. Itu untuk menunjukan kreativitas hasil kerajinan tangan dari perempuan Kota Gadang yang fasih berbahasa Belanda tersebut.

PK Amai tercatat telah mendapat sejumlah penghargaan, seperti Bronzen Ster (1941) dan Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1987). Tak hanya itu PK Amai juga mendapatkan Penghargaan Kebudayaan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007). (rul/waw)

 

 

 

 

Komentar

News Feed