oleh

Meneladani Perjuangan Mbah 70 Tahun Penjual Bubur

Bertahan Berjualan Bubur Sobih Sejak 1972

Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Kalimat itu seakan menjadi pelecut nenek Sumrah dalam menjalani sisa hidupnya. Di usianya yang sudah renta, Mbah 70 tahun ini tidak ingin hidup dengan bertumpu pada pemberian orang, dirinya tetap berjualan tajin (bubur) Sobih meski usianya tak lagi muda.

MOH. SAID, BANGKALAN

Terik mentari begitu sangat menyengat kulit siang itu. Dari kejauhan, terlihat seorang Mbah paruh baya menyunggi sebuah keranjang berisikan barang dagangan. Sesekali Mbah yang tampak begitu kelelahan itu menawarkan dagangan pada orang yang ditemui.

Raut wajah penuh kebahagiaan tidak bisa ia sembunyikan ketika ada seseorang yang membeli dagangannya. Maklum, berjualan tajin Sobih merupakan ladang penghasilan untuk dirinya menyambung hidup.

Setiap hari, Mbah Sumrah berkeliling di area Stadion Gelora Bangkalan (SGB) menuju arah Alun-Alun Kabupaten Bangkalan. Meski usianya tak lagi muda, namun Mbah Sumrah mengaku tetap semangat untuk mencari penghasilan sendiri. Dirinya tidak ingin berpangku tangan, apalagi haru bergantung pada pemberian orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya berjualan sejak tahun 1972 berjualan tajin,” ujarnya, Selasa (810)

Kepada Kabar Madura, Mbah Sumrah bercerita, dengan menaiki angkot setiap hari dirinya berangkat dari Desa Sobih Kecamatan Burneh menuju wilayah perkotaan Bangkalan. Meski kedua kakinya sudah tidak sesehat saat dirinya masih muda, namun sesampainya di wilayah perkotaan, Mbah 70 tahun itu mampu berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk menjajakan Tajin Sobih yang dia bawa.

Jika seluruh jualannya laku, Mbah Sumrah hanya memperoleh penghasilan Rp50 ribu setiap harinya. Meski terbilang kecil, namun dirnya mengaku sangat bersyukur karena penghasilan itu bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya bersama keluarganya.

Berjualan Tajin Sobih sudah dilakukan dirinya secara turun temurun. Rasanya Tajin Sobih buatannya pun berbeda dengan Tajin Sobih pada umumnya. Pasalnya, Tajin buatannya, memiliki resep berbeda yang merupakan turunan dari sesepuhnya, sehingga menjadi ciri khas di Kabupaten Bangkalan.

“Andaikan saya punya modal, saya pasti buat warung untuk jualan Tajin Sobih,”  ucapnya. (pin)

Komentar

News Feed