oleh

Meneladani Pesan Maulid dan Spirit Cinta Rasul

Oleh: Holikin, S.Pd.I

Pendahuluan

Tanah Arab dalam kegelapan, kejahiliyahan menyelimutinya. Minuman keras menjadi hal yang biasa. Pembunuhan, pemerkosaan, dan yang paling sadis adalah penguburan bayi perempuan hidup-hidup menjadi tradisi yang lumrah ada kala itu. Arab sempurna menjadi sebuah negeri dengan tingkat kriminalitas yang paling tinggi.

Bermula dari sebuah kisah yang datang dari kerajaan Abrahah. Di sana, tempat para penyembah berhala bertumpah-ruah. Tak tanggung-tanggung, ada ratusan berhala dengan aneka ragam bentuk dan dibuat dari ragam batu berharga. Pada bergulirnya waktu, arca-arca Abrahah sepi pengunjung. Pengunjung yang dulunya ramai menyembahnya kini sepi, hanya ada satu dua orang. Raja Abrahah geram, marah bukan kepalang. Ia mengutus beberapa informan, hendak mengusut penyebab sepinya pengunjung berhalanya. Usut punya usut ternyata penyebabnya adalah, di sana, di Kota Makkah, negeri yang tak jauh dari kerajaan Abrahah, terdapat sebuah bangunan besar yang ditata dengan batu biasa. Tapi uniknya, tak satupun manusia yang mengklaim menjadi pemiliknya. Ia ada sejak lama, sejak para Nabi terdahulu dan batu itu bernama “Ka’bah”, baitullah (rumah Allah).

Kegeraman Abrahah semakin memuncak, ia mengumpulkan para pembesar kerajaannya membahas apa yang harus dilakukan untuk merespons atas keadaan tersebut. Maka, semua bersepakat untuk menghancurkan Ka’bah tersebut.

Keesokan harinya, Abrahah menyiapkan para pasukannya. Pasukan-pasukan terbaiknya. Mereka mengendarai gajah, sebuah kendaraan kebanggaan di zaman itu. Berangkatlah mereka dengan membawa peralatan perang super lengkap, persis seperti hendak bertempur dengan pasukan sebuah negara adidaya.

Setelah mereka sampai di Kota Makkah, tepat sekian puluh meter di depan Ka’bah, dengan pongahnya Abrahah mentitah para pasukannya menyerang Ka’bah. Allah Swt menjawab perilaku Abrahah tersebut dengan mengirim ribuan burung Ababil yang paruhnya sudah mematuk batu kerikil dari neraka Sijjil. Burung-burung Ababil itu melemparkan batu kerikil itu, maka hancurlah Abrahah beserta ribuan pasukan bergajahnya. Peristiwa tersebut Allah nyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Fiil.

Taragedi bersejarah tersebut disebut sebagai ‘Tahun Gajah’, tahun di mana Allah Swt menghancurkan balatentara Abrahah yang mengendarai gajah. Bertepatan dengan tahun itu, lahirlah Nabi agung sepanjang masa, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Pesan Simbolik Kelahiran Nabi

Nabi Saw dilahirkan di tanah Arab, tepatnya di Kota Makkah pada Hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah (‘amal fiil), yaitu tahun di mana Allah Swt menghancurkan pasukan Abrahah yang bergajah. Atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M. Nabi Saw wafat pada hari, tanggal dan bulan yang sama dengan hari kelahirannya, pada tahun 11 Hijriyah. Beliau dikebumikan di tanah Madinah. (Lihat, Al-Rahiqu al-Makhtum, Syekh Mubarak Furi).  Di segenap perjalanan Nabi Saw yang agung terdapat suri tauladan yang sangat mulia untuk kita teladani.

Kelahiran Nabi menjadi sejarah baru bagi pradaban Arab. Bukan karena beliau dilahirkan dari keturunan suku Quraisy yang berpengaruh. Bukan juga karena berada dalam lingkungan yang terhormat. Tapi, karena beliaulah Nabi yang akan membawa risalah agung dari Allah Swt. Bahkan, dunia ini dipersiapkan untuk kelahirannya. Lau laa hu lam tukhraj al-dunya min al-adami (jika bukan karena Muhammad, dunia ini tidak akan pernah diciptakan). (Lihat, Qasidatu al-Burdah, Imam Al-Bushiri).

Sejarahnya tak pernah lekang ditelan masa, tak pernah bosan mengenangnya sepanjang hembusan nafas dunia. Beliau sang Nabi Saw membawa ajaran yang rahmatan lil alamin. Allah Swt berfirman, “Inna arsalnaka rahmatan lil alamin” (Sesungguhnya Kami [Allah] mengutus engkau [Muhammad] untuk rahmat ke seluruh alam).

Menilik peristiwa yang mengiringi kelahiran Nabi, ada beberapa pesan simbolik yang harus kita cerna sebagai pelajaran. Pertama, simbol hewani. Gajah sebagai simbol kebanggaan, kebesaran, dan kecongkakan, namun terkalahkan oleh burung kecil. Peristiwa tersebut bukan tanpa makna Allah hadirkan kepada kita, yang kemudian Dia nyatakan dalam firmanNya. Peristiwa yang sama juga dialami oleh Namrud. Raja adidaya dengan kecongkakan melebihi kapasitas dirinya sebagai manusia, namun ia tewas mengenaskan di tangan seekor nyamuk.

Tak ada kekuatan besar di dunia ini melebihi kekuatanNya. KehendakNya tak terhalangi. KekuasaanNya tak tertandingi. Dunia dan seisinya dalam pengaruhNya, yang tanpa rahmatNya akan binasa. Dengan menghadirkan peristiwa tersebut, Allah menunjukkan kebesaranNya kepada kita, kemudian menunjuk kita agar terus mengagungkan asmaNya.

Di samping itu, kiranya cukup lugas Allah menyampaikan pesan kepada kita, bahwa agar kita senantiasa membunuh karakter hewani yang bersarang di dalam kita dengan koridor langit. Mengapa untuk menghentikan congkak angkuh pasukan bergajah yang hendak merobohkan bangunan yang menjadi patokan para hambaNya bersujud kepadaNya, Allah kirimkan burung Ababil dari langit?  Hal ini mengindikasikan, untuk membunuh jentik-jentik kesombongan hanya mampu dibasmi oleh petuah-petuah langit. Karakter hewan terbang yang hidup melalangbuana di angkasa kemudian mereka lemparkan batu api dari atas, memberikan sinyal dan isyarat akan hal tersebut.

Kedua, simbol kebendaan. Tujuan Abrahah berinisiasi menghancurkan Ka’bah lantaran animo masyarakat terhadap benda-benda yang diagungkannya menjadi berkurang. Karena benda Abrahah ingin menghancurkan benda. Namun bedanya, benda yang dibela adalah benda-benda yang dikultuskan nafsunya, sementara benda yang menjadi sasaran penghancuran adalah sebuah benda yang Allah agungkan.

Demikian itu satu ibrah kepada kita, membela benda yang diinginkan nafsu sangat tercela. Sedangkan membela sesuatu di bawah koridor suci sangat agung di sisiNya. Membela sesuatu yang bersifat kebendaan jika landasannya adalah kebenaran, maka pembelaan semacam itu dibenarkan. Bukan hal nista pembelaan-pembelaan kita terhadap benda-benda yang kita miliki, asal barometernya adalah kebenaran.

Secara fisik, benda yang dibela Abrahah lebih mengagumkan dibanding Ka’bah yang hanya dibangun dari susunan batu gunung berbentuk kubus. Di situlah pelajarannya yang perlu kita cerna, bahwa benda tetaplah benda yang menjadi pembeda adalah siapa pembela di balik benda-benda tersebut? Arca yang terbuat dari logam berharga, namun Abrahah pembelanya? Atau, Ka’bah yang hanya susunan batu biasa namun Allah-lah pembelanya? Memandang benda tetaplah benda, jauh melebihi segalanya adalah pandanglah siapa  yang memuliakan benda tersebut.

Untuk itu, ketika sahabat Umar Al-Khattab mencium Hajar Aswad, seraya dengan lantang Umar berujar, “Engkau hanyalah batu, hanya batu. Jika bukan Muhammad Saw yang menyuruhnya, aku tidak akan pernah menciummu!”

Spirit Cinta Nabi

Nabi Saw berjuang mendakwahkan Islam di tengah-tengah masyarakat Arab yang gemar berperilkau kriminal. Nabi Saw mendapatkan banyak ragam cacian, hinaan, dan pencekalan. Upaya pembunuhan Nabi Saw terus dilakukan oleh musuh-musuh beliau. Mulai dari jebakan sampai pada ancaman yang paling mengerikan. Hingga paman Nabi sendiri yang bernama Abu Thalib pernah berkata kepada beliau agar menghentikan dakwah beliau karena merasa kasihan terhadap beliau yang banyak mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh kaumnya. Namun, Nabi Saw menjawabnya dengan penuh semangat dan keyakinan yang mantap. Nabi bersabda:

“Pamanku, andai mereka mampu menaruh matahari di tangan kananku, dan mampu menaruh rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan pernah berhenti dari urusan (dakwah) ini!”

Dengan semangat juang dan sabarnya Nabi Saw mendakwahkan Islam, akhirnya Islam tersebar luas bukan hanya di tanah Arab saja, namun juga tersebar hingga ke pelosok-pelosok bumi, dan pada akhirnya sampai juga kepada kita. Bumi benar-benar tersirami oleh cahaya Islam.

Nabi Saw memang sangatlah pantas untuk kita cintai. Secara fisik Nabi Saw diciptakan sempurna, akhlak dan budi pekertinya luar biasa mulia. “Wainnaka la’ala khuluqin adhim” (Dan sungguh terdapat dalam dirimu [Muhammad] adalah perangai yang mulia).

Mencintai Nabi Saw adalah sebuah manivestasi (wasilah /perantara) dari mencintai Allah Swt. Mencintai Nabi Saw adalah wajib hukumnya. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) maka kalian akan dicintai Allah.”

Bagian dari cara kita mencintai Nabi Saw adalah mengenal nama-nama keluarga dan sahabat-sahabat beliau, kemudian senantiasa mengikuti jejak-jejak dan meneladani perangainya yang luhur.

Mencintai Nabi Saw seharusnya lebih dari mencintai diri kita sendiri. Cinta yang kita layangkan untuk baginda Nabi Saw adalah cinta yang total, tidak setengah-setengah.

Ada satu kisah, suatu saat ada salah satu sahabat Nabi Saw datang menemui Nabi dengan berkata, “Ya Rasul, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri!” Merespons perkataan sahabat tersebut, Nabi Saw bersabda, “Tidak, sahabatku. Seharusnya kamu mencintaiku lebih dari cintamu pada dirimu sendiri!” Kemudian sahabat tersebut berkata, “Ya. Wahai Nabi, aku mencintaimu lebih dari cintaku pada diriku sendiri!”

Penutup

Nabi Saw sebagai uswah (teladan) dan qudwah (panutan) kita sebagai umatnya, dari sekian peristiwa yang terjadi dalam hari kelahirannya, dapat kiranya kita ambil pelajaran agar kita senantiasa meyakini ajaran yang beliau bawa, mengikuti dan menjalankan sunah-sunah serta semua perintah beliau, mencintai dan mengagumkan ahlul bait (keluarga) beliau, mencintai dan mengagumkan para sahabat-sahabatnya, menghormati dan mengagumkan para ulama sebagai pewaris estafet perjuangan beliau, turut mendakwahkan ajaran dan sunah-sunah beliau, gemar bershalawat kepadanya sekaligus menjawab shalawat bila nama beliau disebut, senantiasa mengagungkan kebesaran Allah Swt, tidak menjadi manusia yang sombong, tidak menjadi manusia yang perusak, tidak memiliki sikap yang sewenang-wenang, serta tidak menjadi manusia pembangkang, menyayangi dan senantiasa peduli pada alam dan lingkungan sekitar, senantiasa menebar kasih-sayang di antara sesama, dan lain sebagainya.

Semoga kita benar-benar menjadi manusia muslim yang cinta Nabi Saw, dan semoga mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak. Amin.

*)Penulis adalah guru dan tinggal di sebuah pulau terpencil di Kab. Sampang

 

 

Komentar

News Feed