oleh

Meneladani Sosok Pemimpin Perempuan, Aisyatul As’adiyah

Kabarmadura.id/Pamekasan-Bagi perempuan yang hidup di wilayah Madura, menjadi kelas kedua bagi mereka sudah terbiasa, bekerja di wilayah domestik merupakan kewajiban yang mutlak. Kondisi sosial yang mengharuskan banyak perempuan Madura tidak berani mengenyam pendidikan tinggi. Belum lagi pernikahan dini yang masih banyak terjadi di pulau Madura.

MUALLIFAH, LARANGAN

Akan tetapi, isu tersebut hanya ada pada masyarakat Madura dahulu. Saat ini perempuan Madura harus bisa menunjukkan semangat dan kepercayaan dirinya akan bakat yang dianugerahkan oleh Allah.

Saat ini bagaimana caranya perempuan Madura bisa tampil ke ranah publk dengan membawa kemampuan yang dimilikinya, merangkul banyak perempuan lainnya. Saling memberdayakan satu lain.

Sebab setiap perempuan memiliki daya masing-masing, hanya saja banyak yang belum menemukan dayanya sendiri. Tugas perempuan yang sudah menemukan kemampuannya, yakni bersama saling merangkul.

Begitulah kalimat yang mengawali sosok Aisyatul As’adiyah untuk menjadi perempuan berdikari, hingga tampil sebagai perempuan organisatoris, menjadi wirausahawan muda Pamekasan. Bahkan dirinya juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan Pamekasan.

Salah satu hal yang bisa menjadikan dirinya mandiri saat ini, yakni motivasi hidupnya untuk mengabdi kepada pondok pesantren mendiang keluarganya. Menjalani amanah sebagai seorang pengasuh pondok pesantren di Madura, bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan.

Namun dirinya tetap optimis menjalankan amanah yang disematkan di pundaknya. Dirinya selalu meyakini, karomah kyai, serta doa kedua orang tua, serta gurunya selama ini, akan menjadikan dirinya kuat menghadapi segala tantangan yang ada.

“Selama saya mengabdikan diri pada pondok ini, keberkahan serta kemudahan Insyallah saya dapatkan. Doa kyai, orang tua, guru, serta keluarga, sahabat menjadikan saya semangat serta bisa menjalankan amanah ini dengan baik” ungkap Ning Diah (sapaan akrabnya), Senin (13/1/2020).

Baginya, mengelola pendidikan pesantren tentunya tidak mudah, tantangannya semakin besar. Apalagi di zaman teknologi, anak-anak sudah harus melek teknologi agar bisa mengetahui informasi dari seluruh dunia. Tentunya, hal tersebut menjadi fokus utama ning Diah untuk perkembangan pesantren.

Oleh karenanya, dirinya ingin mengembangkan pondok pesantren sebagai wahana keilmuan agama dan sains yang bersatu padu menjadi satu kesatuan yang utuh. Menurutnya, santri harus memiliki pengetahuan yang luas, informasi yang beragam supaya tidak tertinggal oleh arus globalisasi.

“Saya terus mengupayakan yang terbaik untuk pondok pesantren, dengan berkoordinasi kepada para ustadz serta pengajar di pondok. Tentu hal ini bukanlah hal mudah. Akan tetapi, dengan dukungan orang tua, barokah kyai, barokah guru,saya bisa mengembangkan pondok pesantren sesuai kemampua,  serta usaha saya beserta para keluarga besar pondok,” tukasnya.

Ning Diah sendiri merupakan alumni Magister Ekonomi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Perempuan kelahiran 7 Desember 1990 ini mengenyam pendidikan sarjana di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep pada tahun 2009-2013.

Pengalaman organisasi yang pernah digeluti, menjadikan Ning Diah sebagai perempuan mandiri. Organisasi yang pernah digelutinya, yakni Ketua Pimpinan Komisariat IPPNU MTS Al-Huda 2003-2004.

Ketua Pimpinan Komisariat IPPNU MA Al-Huda 2006-2007. Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Larangan Pamekasan 2013. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Huda Sumber Nangka Duko Timur Larangan Pamekasan 2013- sekarang.

Wakil Ketua Fatayat PAC Larangan Pamekasan 2016-2017. Pembina PC IPPNU Kabupaten Pamekasan 2017-2019. Anggota HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) 2018, Dewan Pengawas Syariah USPSS Al-Huda Sumber Nangka 2018. (pin)

 

 

Komentar

News Feed