oleh

Menelisik Cara Belajar Faisol Amrullah

Memasyarakatkan Kitab Kuning Demi Kebutuhan Umat

Kabarmadura.id/Pamekasan-Bagi Faisol Amrullah, belajar bukan hanya untuk memperkaya cakrawala pengetahuan dan memenuhi kebutuhan edukasi diri sendiri, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan umat. Itulah spirit yang mendorong Faisol Amrullah untuk terus menambah wawasan keilmuan dalam bidang fiqih.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Semangat belajar Faisol dipupuk semenjak dirinya menuntut ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan. Saat dirinya nyantri di Bettet, Faisol memiliki rasa haus tersendiri untuk memahami berbagai macam kitab klasik atau yang biasa disebut dengan kitab kuning.

Rasa haus itu semakin menggebu saat Faisol bertemu dengan sekumpulan santri yang berdialog, serta berdiskusi dengan begitu alot dengan menjadikan kitab kuning sebagai bahan kajian mereka. Distulah Faisol semakin ingin tahu bagaimana sebenarnya cara membaca kitab kuning dan memahami isinya.

Dari situlah pria kelahiran Pamekasan 30 Mei 1986 itu mulai giat belajar, serius menekuni ilmu alat, seperti nahwu, sharaf dan ilmu alat lainnya, guna mampu membaca dan memahami isi dari kitab klasik sebagai kitab turats atau kitab warisan para ulama salaf, karena bagi Faisol bisa membaca dan memahami isi kitab kuning baginya unik dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Faisol memahami, kitab kuning bukan hanya sebagai bahan ajar santri, akan tetapi lebih dari itu, baginya kitab kuning merupakan kebutuhan pokok yang akan selalu dibutuhkan oleh umat dan akan selalu bisa beradaptasi dengan umat.

Menurutnya, umat hari ini mustahil untuk bisa memahami dan menyimpulkan isi dari Al-Qur’an dan hadist jika dia tidak tahu dan paham betul dengan Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud-nya. Oleh karenanya, kitab kuning adalah solusi untuk bisa memahami dan menelurkan suatu hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.

“Bohong kalau orang tidak bisa baca kitab kuning bisa memahami Al-Qur’an dan hadits, itulah sebabnya bisa baca kitab kuning itu unik,” ucap pria asal desa Banyumas Klampar Proppo tersebut, Rabu (25/3/2020).

Sebagai seorang santri, berbagai jenis kitab klasik pernah Faisol pelajari, mulai kitab yang paling ringan hingga kitab mutawwalat antar madzhab yang isinya sangat luas. Faisol tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya, karena menurutnya untuk bisa membaca kitab kuning dirinya memerlukan waktu bertahun-tahun, maka saat dirinya sudah bisa membaca Faisol terus belajar dan menelusuri isi dari kitab kuning, sebagaimana yang ingin diketahui.

Dalam memahami dan menjadikan kitab kuning sebagai solusi umat, menurut Faisol kitab kuning dan fiqih adalah yang paling dekat dengan umat, sebab dalam setiap aktivitas hidup manusia semuanya telah diatur dengan rapi oleh fiqih, mulai kita membuka mata hingga kita menutup mata semua diatur oleh fiqih dan itu dijelaskan lengkap di kitab kuning.

Tidak hanya selesai di belajar, alumnus Universitas Islam Madura tersebut mengembangkan potensinya dengan bergabung ke dalam forum bahtsul masail, yang di dalamnya sering berdiskusi tentang ilmu agama dan fiqih.

Berbagai forum bahtsul masail dia ikuti, hingga bahtsul masail antar kelas, hingga bahtsul masail antar pesantren se Jawa-Madura, bahkan dirinya pernah dipercaya untuk menjadi moderator dalam bahtsul masail antar pesantren se Jawa-Madura oleh Forum Bahtsul Masail antar Pesantren (FBMP).

Untuk bisa sampai ke titik itu bukanlah hal yang mudah, Faisol harus berproses belajar bertahun-tahun di pondok pesantren, kini bapak satu anak itu melanjutkan kegemarannya melalui Nahdlatul Ulama. Dirinya didapuk sebagai Ketua Lembaga Bahtsul Masail Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (LBM MWC NU) Kecamatan Proppo, serta Pengurus Cabang LBM NU Pamekasan.

Menurut Faisol, NU adalah tempat paling ideal untuk mengamalkan segala ilmu yang didapatkan semasa berada di pondok pesantren. Sebab di NU tersedia lembaga yang mewadahi setiap pegiat kitab klasik, dan diorientasikan pada kebutuhan umat akan suatu referensi hukum sebagai landasan mereka dalam melaksanakan ubudiyah sehari-hari.

Karena bagi Faisol, umat hari ini bukan hanya butuh wawasan agama tapi juga butuh wawasan kebangsaan, dan yang jarang diketahui masyarakat adalah bahwa kitab kuning juga mengajarkan wawasan kebangsaan, bagaimana cara mencintai bangsa dan negeri sendiri, sebagai tempat tumpah darah.

“Berjuang untuk hidup dan hidup untuk berjuang, termasuk berjuang di NU melalui LBM,” pungkas mantan aktivis PMII tersebut. (pin)

 

Komentar

News Feed