oleh

Menelisik Motivasi Cerpenis Madura, Zainal A. Hanafi

Kabarmadura.id/Pamekasan-Menulis dengan redaksi bahasa Madura bukanlah perkara yang mudah. Sebab, antara bahasa lisan dengan tulisan tentu berbeda. Akan tetapi, Zainal A. Hanafi ini belajar secara ototidak dari beberapa tulisan-tulisan berbahasa Madura, serta dongeng versi Madura. Tambahan wawasan itu, yang saat ini menghantar dirinya meraih sukses di bidang kepenulisan bahasa Madura.

MUALLIFAH, PAMEKASAN

Cerpenis asal Madura satu ini, memiliki tujuan yang mulia yakni mempersembahkan karyanya dengan membawa lokalitas Madura di kancah nasional. Bahkan, kesibukannya sebagai seorang guru tidak membuat semangatnya surut dalam menulis cerita pendek berbahasa Madura.

Aktif di komunitas Kotheka, salah satu komunitas budaya di Pamekasan, tulisannya selalu memuat tentang lingkungan sekitar. Baik tentang pencemaran lingkungan, serta masalah-masalah lingkungan yang terjadi di tengah masyarakat.

Salah satu tujuan dari karya tulisnya itu, yakni untuk menyadarkan masyarakat yang membaca tulisannya, bisa menjaga lingkungan dengan baik. Tak heran kemudian, jika penulis satu ini mengirimkan naskah tulisannya untuk kemudian dimuat di beberapa media besar nasional di Indonesia, agar apa yang ditulisanya tentang lingkungan bisa dibaca khalayak ramai. Bahkan, salah satu tulisan berjudul ‘Sapi-Sapi Karapan’ dan ‘Meminta Kado Malaikat pada Ibu’, berhasil dimuat oleh media mainstream di Indonesia.

Kepada Kabar Madura, pria kelahiran Pamekasan 10 Maret 1995 ini menceritakan, kebiasaan membaca sudah ditekuni sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan kebiasaannya membaca komik horor yang sering dijajakan di sekolah-sekolah seharga Rp500, menjadi motivasi awal dirinya untuk menekuni dunia cerpenis.

Bahkan, kebiasaan menulis cerpen alumnus Madrasah Aliyah (MA) Bustanul Ulum Sejati Camplong ini, terus dikembangkan hingga dirinya mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Madura (UNIRA). Bahkan, meski sudah duduk di bangku kuliah, kebiasaan membaca buku yang dilakukan dari sekolah dasar tidak pernah surut, malah semakin meningkat.

“Dari dulu saya menulis, menulis apa saja. Ketika ada buku berbahasa Madura yang terbit di Sumenep, dengan judul “Embi’ Celleng Ji Monentar “ sejak itulah saya ingin menulis cerpen berbahasa Madura. Terus menulis dengan bahasa sehari-hari di Madura,” ungkap pecinta buku sastra ‘Saman’, karya Ayu Utami tersebut. (pin)

Komentar

News Feed