Menelisik Peran FKUB Sumenep, Organisasi yang Konsisten Menjaga Persatuan dan Keharmonisan Sosial

  • Whatsapp
(FOTO: KM/Horri for KM) KOMPAK: Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumenep menjadi wadah dalam menciptakan kehidupan yang lebih rukun dan harmonis.  

KABARMADURA.ID –  Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Setiap warga negara juga memiliki kesempatan untuk berperan di dalamnya. Seperti halnya, orang-orang yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumenep, yang konsisten dalam mengupayakan keharmonisan masyarakat.

MOHAMMAD RAZIN, SUMENEP

Ketua FKUB Sumenep KH Mahfudz Rahman menuturkan, bahwa jika ada situasi yang mengancam kerukunan atau yang memicu keretakan sosial, maka FKUB harus berperan di dalamnya untuk meredakan atau bahkan menangkalnya.

Ia juga menambahkan, dalam mencapai kerukunan di tengah masyarakat, pihaknya mengakomodir dan memberikan kesempatan generasi muda untuk saling berbagi pengalaman terkait bagaimana mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. Terutama, bagi pemuda yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka diberikan panggung untuk bisa sharing seputar kerukunan sosial di luar negeri.

“Taruhlah otaknya Amerika hatinya Sumenep. Semua anak daerah harus berlomba-lomba menjadi sosok yang menginspirasi dan saling rangkul membangun Kota Keris ini,” ungkap Kiai Mahfudz, sapaan akrabnya, Minggu (26/9/2021).

Senentara itu, FKUB Sumenep sendiri memiliki peran dalam menegakkan misinya: menjaga, merawat, dan meramu kerukunan antarumat beragama. Seperti makna harfiahnya, agama adalah tidak adanya kekacauan. Orang yang beragama pasti menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian.

“FKUB Sumenep punya simbol kerukunan, tepatnya di Desa Pabian. Di sana ada tiga rumah ibadah yang berdampingan; yaitu gereja, klenteng, dan masjid. Itu sejak lama. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, ketiganya sudah berdiri kokoh,” imbuhnya.

Organisasi tersebut juga memiliki kegiatan rutin. Semisal, menyelenggarakan dialog bersama para tokoh agama. Tujuannya untuk tetap menjaga kerukunan di tengah masyarakat.  “Kita kan terdiri dari lintas agama. Mulai dari Kristen, Konghucu, Islam dan beberapa agama lain. Itu sebagai wadah agar persatuan antarumat terap utuh,” pungkasnya.

 

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *