oleh

Menelisik Perjalanan Hidup Moh. Subhan, Berbekal Kehidupan Pesantren, Abdikan Diri di Dunia Pendidikan

Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Kalimat itu merupakan salah satu motto hidup yang sulit untuk dilakukan oleh sebagian besar orang. Banyak orang cenderung lebih menyukai untuk menerima, bukannya memberi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Moh. Subhan yang selalu ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Muhammad Subhan, merupakan pria kelahiran Sampang, 19 Maret 1979. Sosok sederhana ini, menjadi salah satu panutan yang layak diteladani oleh generasi muda hari ini. Pribadi santun yang melekat pada dirinya terbangun mulai ia ditempa di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Bettet, Pamekasan.

Berbekal pengalaman hidup di pesantren yang diajarkan untuk selalu memberikan manfaat, kini dia mendapat amanah besar yang melibatkan kepentingan masyarakat. Kendati demikian, layaknya alumnus pesantren, dirinya tetap menjadi pribadi ramah dan santun, meski kesuksesan melekatinya.

Tak hanya jiwa kesantrian, jiwa aktivis dan akademisi turut melengkapi pengalaman hidupnya. Semasa kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan (kini IAIN Madura), ia terlibat aktif dalam gerakan-gerakan literasi dan juga gerakan sosial bersama organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“Prinsip yang terus saya pegang sedari dulu hidup di pesantren hingga kini, adalah amanah, istikamah dan akhlaqul karimah. Atau basaha sederhananya, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki akhlak mulia,” ungkapnya, Kamis (13/2/2020).

Berbekal prinsip tersebut, dirinya terus dipercaya untuk mengemban amanah besar. Bahkan, saat ini dia aktif di kepengurusan Nahdlatul Ulama, hingga diamanahi Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan sejak 2014 hingga sekarang.

Selain itu, pria yang dikenal supel dan berkarisma ini, turut mengabdikan diri di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, sebagai kepala Bagian Akademik dan Administrasi Keuangan (BAAK).

Tak hanya itu, pria asal Jrengik, Kabupaten Sampang ini harus rela cuti dari dunia akademik saat dipercaya untuk menjadi Komisioner Komisi Pelimilihan Umum (KPU) Kabupaten Pamekasan pada 2014 hingga 2019 lalu.

Sebagai seorang akademisi, Moh. Subhan seringkali dihadapkan dengan berbagai kegiatan literasi berbasis informasi. Tak ayal, kini dirinya dipercaya menjadi Direktur NU Online Pamekasan, yang dimanfaatkannya untuk mencounter isu-isu lokal, maupun nasional agar terjadi keseimbangan dalam proses penyampaian informasi.

“Kuncinya kita ramah, santun dan bisa bertanggung jawab terhadap amanah, semuanya akan mudah,” pungkasnya. (pin)

Komentar

News Feed