oleh

Menelisik Perjuangan Moh Fudholi

Dirikan dan Kembangkan Madura Idea Foundation

Kabarmadura.id/Pamekasan-Berangkat dari Kepedulian dan Kegelisahan atas kegelisahan pemuda madura terkait pengembangan sumber daya manusia (SDM), kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas di bawah garis kemiskinan, budaya Madura yang mulai hilang, serta wordview, mindset pemuda Madura yang mayoritas tidak terarah. Membuat Moh Fudholi berfikir keras untuk menuntaskan persoalan itu.

ALI WAFA, PALENGAAN

Tanpa planning, tanpa target yang jelas dengan zaman yang kian berkembang, Fudholi di perantauan banyak memikirkan kondisi yang memprihatinkan tengang Madura. Dirinya berfikir keras bagaimana merubah dan membuat Madura berkemajuan.

Kegelisahan itu terus memuncak sampai Fudholi lulus S2. Ada ketakutan untuk pulang ke Madura sampai salah satu temannya mengatakan, “sehebat apapun dan sukses bagaimanapun jika tak mampu mengabdi untuk desanya maka sama saja dengan bohong”. Kalimat ini yang membuat dia tersentak untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Akhirnya pada 2008, Fudholi memutuskan pulang ke Madura dan belajar tentang batik Madura. Dengan modal nekad, Fudholi mulai berdagang batik bahkan dikirim ke Jawa ke teman-temannya di IAIN Surabaya. Dia juga masuk ke  ke setiap toko di Bangkalan, hingga kemudian Kiai Mudatstsir Baddrudin yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Palengaan, meminta dirinya mengajar di STAIMU.

Bulan pertama mengajar di STAI Miftahul Ulum, Fudholi merasa bosan, karena saat di Surabaya, dirinya biasa berkumpul dengan teman-teman pergerakan berdiskusi tentang sosial, agama, budaya dan lain sebagainya.

Akhirnya, Fudholi membangun persepsi untuk bisa mengabdi di masyrakat melalui jalur pergerakan dan mulai mempengaruhi mahasiswa STAIMU untuk membangun kekuatan, hingga kemudian pada 2012 Fudholi mendirikan Gusdurian Madura.

Melalui wadah itu, dirinya mulai masuk ke semua organisasi kemahasiswaan dan mengajak mereka kembali berdialog tentang kondisi masyarakat Pamekasan secara khusus dan Madura secara umum, serta potensi-potensi yang bisa dikembangkan.

Gusdurian menjadi besar, kajian dan penelitian dilakukan guna mencari solusi terkait permasalahan masyakarat, baik dinamika sosial, konstruk sosial, relasi sosial hingga sosial politik.

Kemudian, pada 2014 Fudholi memutuskan keluar dari Gusdurian. Namun ternyata masih banyak yang berharap gusdurian berdiri. Antara 2014-2015 adalah masa transisi bagi pemikiran dan gerakan Fudholi. Disanalah Fudholi mengenal Nova Haryanto salah satu staf khusus Ibu Khofifah Gubernur Jawa Timur.

Fudholi mulai bercerita terkait ide-idenya tentang Madura, tentang pemuda dan masyarakat, tentang kemiskinan dan ketidakadilan sosial, serta ekonomi. Kemudian dia mengajaknya untuk membuat rumah perubahan mulai mengumpulkan teman-teman Madura alumni universitas se Indonesia di seluruh Madura. Meski rencana itu kurang menarik dan bisa dikatakan gagal.

Akhirnya Fudholi kembali mengumpulkan beberapa orang dari berbagai keahlian, meneruskan ide-ide besarnya lalu berdirilah Madura Idea Fundation dengan hanya sembilan orang anggota saat itu, tanpa kegiatan hanya duduk berdiskusi di warung kopi.

“Alhamdulillah sejak 2016 MIF sudah ada di empat kabupaten di Madura. Kami sumbangan, mencari donatur untuk memberikan bantuan pada masyarakat,” pungkasnya. (pin)

Komentar

News Feed