Menelisik Sosok Amira, Guru Muda SMPN 2 Bangkalan yang Mengajar Sembari Jadi Pelatih Tari di Sanggar Tarara

  • Whatsapp
(FOTO: AMIRA FOR KM) INSPIRATIF: Amira (tengah), guru muda SMPN 2 Bangkalan dikenal sebagai sosok yang tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga menjadi pelatih tari di Sanggar Tarara.

KABARMADURA.ID | Perjalanan perempuan satu ini untuk menjadi guru terbilang cukup mulus. Bagaimana tidak, usai menjalani sidang skripsi, keesokan harinya, ia menerima tawaran menjadi guru tidak tetap (GTT) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Bangkalan. Sosok tersebut bernama Amira.

HELMY YAHYA, BANGKALAN

            Sebelum dipercaya menjadi guru, perempuan kelahiran Bangkalan, 26 Oktober 1998 itu mengenyam pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Universitas Surabaya (Unesa).

Mira dikenal sebagai sosok guru yang akrab dengan para siswanya. Bahkan, guru-guru yang lainnya mengenal dia sebagai guru muda yang memiliki semangat dan kegigihan dalam mengajar dan mendidik. Ia dipercaya untuk mengampu mata pelajaran Seni Budaya.

“Saya berharap ilmu yang saya dapat sedikitnya bisa bermanfaat bagi saya pribadi dan untuk murid saya,” ungkap Mira.

Selain mengajar seni budaya. Selain itu, ia juga diamanahkan untuk menjadi pelatih ekstrakurikuler tari di SMPN 2 Bangkalan dan SDN Pejagan 1. Tidak hanya itu, ia juga menjadi penari dan sekaligus pelatih di Sanggar Tarara.

“Ya meskipun sementara, untuk kegiatan ekstrakurikuler selama pandemi vakum,” ucapnya.

Di sisi lain, Amira sendiri beranggapan bahwa profesinya sebagai guru tidak menjadi tumpuan utama dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab itu, ia juga berjualan masker untuk menambah pemasukannya. Ia juga kerap kali mengisi acara yang diinisiasi oleh Sanggar Tarara.

“Saya mengajar ekstrakurikuler Tari di SMPN 2 Bangkalan kurang lebih hampir 4 tahun, dan saya paham betul bagaimana saya harus bertahan,” terangnya.

Ia mengaku menikmati profesinya sebagai guru. Meskipun awalnya sempat ragu untuk terjun ke dalam dunia pendidikan, karena merasa tidak ada dasar untuk mengajar. “Saya mengajar kelas VII. Kesan pertama saya, saat pertama mengajar dengan tatap muka, para siswa sangat antusias belajar seni budaya,” pungkasnya.

 

Reporter: Helmi Yahya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *