oleh

Menelusuri Jejak Kesolehan Almarhum Kiai Baidowi

Dikenal Qonaah, Jenazah Dimakamkan 3,4 Tahun Masih Utuh

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Di Desa Batuporo Barat, Dusun Banbalang, Kecamatan Kedungdung, Sampang dikejutkan dengan jasad seorang kiai yang dikubur selama 3,4 tahun masih dalam keadaan utuh. Padahal sudah meninggal 2017 lalu, bahkan pada saat proses pemakaman dengan kondisi hujan deras.

Jamaluddin, Kedungdung

Awal mula jasad kiai Achmad Baidowi  itu diketahui saat makam mengalami ambruk akibat guyuran hujan yang sangat deras, sehingga dilakukan perbaikan serta dilakukan penambahan kain kafan. Saat dievakuasi untuk diperbaiki jasadnya sama sekali tidak ada perubahan.

Kuburan yang ambruk tersebut pertama kali ditemukan oleh putranya yang sekarang mengganti peran almarhum dalam mengasuh Madrasah Dakwatut Tauhid dan menjadi Imam Masjid Darul Iman di Kampung Batu Olet.

Kemudian meminta tolong kepada masyarakat setempat untuk membenarkan kembali makam yang ambruk itu. Para santri dan warga sekitar dengan membongkar kuburan almarhum. Kejadian tersebut ditemukan sekitar pukul 13.00 siang usai redanya hujan dan usai sholat berjamaah.

“Saat saya solat berjamaah di masjid terjadi hujan deras, kemudian setelah hujan reda kami keluar dan tiba-tiba kuburan abah saya itu ambruk, setelah itu kami bersama anak cucu almarhum dan masyarakat setempat melakukan penggalian untuk diperbaiki. Dan kami tidak menyangka jasad almarhum masih utuh dan tidak bau apa-apa,” ucap kiai Sofyan Ahmad Baidowi, putra ke empat almarhum.

Ditambahkannya, dalam hidupnya almarhum sama sekali tidak punya musuh dengan masyarakat setempat, bahkan saat ada masyarakat yang tidak suka pada beliau. Namun almarhum terus mendatangi rumahnya, agar rasa tidak suka tersebut hilang. Selain itu, beliau sering gali sumur dengan sendirinya. Kebetulan desanya masuk pada wilayah kekeringan. Dan itu tidak hanya puluhan sumur yang digali oleh beliau, tetapi sudah ratusan sumur, dan hingga saat ini sumur tersebut masih digunakan oleh masyarakat.

Kemudian, almarhum tersebut sangat istiqomah, sehingga ketika ada undangan sesibuk apapun beliau tetap hadir. Dan itu yang menjadi antusianya masyarakat setempat. Sehingga beliau dikenal dengan julukan kiai Bal Jabal (Nung Gunung) oleh masyarakat.

Kendati demikian, pejalanan beliau di waktu menimba ilmu di Pondok Pesantren Perajjen Camplong Sampang, setelah mengaji kaitab kuning dan alquraan beliau berhikhidmah dan mengembala kambing milik gurunya. Karena taatnya lada guru beliau jarang pulang ke rumah. Dan waktu itu katanya jarang ada kiriman, sehingga ketika merasa lapar beliau melipatkan batu di lipatan sarungnya.

“Beliau hobi gali sumur untuk masyarakat, bahkan dalam rumah masih ada sumurnya. Selain itu beliau itu tidak mau dengan bantuan-bantuan dari orang yang memiliki kepentingan. Jika amalan yang dibaca dengan istiqomah oleh beliau memang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Batuporo Barat, Nurul Jedid menuturkan, kiai yang mempunyai julukan bal jabal itu sering melakukan silaturahmi kepada masyarakat. Guna untuk memberikan contoh akhlak yang baik kepada masyarakat setempat.

“Yang paling saya kenang itu rasa kasih sayang dan akhlak beliau, dan bagi saya dan masyarakat setempat beliu ini adalah panutan. Dan jika masyarakat lainnya mengikuti perjalannya, insya Allah akan dikaruniai seperti beliau, dan ini sebagai mukjizat,” singkatnya. (mal/mam).

 

Komentar

News Feed