oleh

Menelusuri Kembali Lambang Kerajaan Sumenep di Masa Pemerintahan Bindara Saod

KM/Moh Tamimi-Sejarah: Lambang Keraton Songennep pada zama dahulu

Berhiaskan Mahkota, Diapit Kuda dan Naga

Setiap kota memiliki sejarah, keunikan, dan misteri tersendiri. Begitu pula Sumenep, Kabupatan di ujung timur Pulau Madura ini memiliki sejarahnya sendiri, sebuah Kabupaten yang pernah menjadi tempat pelarian Sri Narariya Sanggrama Wijaya dari kejaran tentara Singasari yang saat itu dikuasai Jayakatwang.
 Moh Tamimi, Sumenep

Salah satu peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih ada adalah lambang kerajaan Kabupaten Sumenep. Lambang Kabupaten Sumenep saat ini adalah kuda terbang berwarna emas dan berlatar hijau bertuliskan Sumekar di bawahnya. Akan tetapi, yang perlu diketahui bahwa Sumenep dulunya mempunyai lambang yang berbeda dengan yang ada saat ini.

Lambang tersebut saat ini masih terawat dan tersimpan rapi di Museum Keraton Sumenep, tepatnya di Gedung Museum I bagian barat. Lambang tersebut terbuat dari kayu dan menempel di dinding museum sebelah utara. Konon, menurut kepala Museum Keraton Sumenep, Moh Erfandi, lambang itu digunakan sejak pemerintahan Bindara Saod.

Berbeda dengan lambang “Sumekar,” lambang ini cukup rumit karena ada beberapa bentuk gambar yang berbeda dan bukan hanya ada satu gambar binatang, yakni kuda, tetapi terdapat dua gambar  binatang yaitu kuda terbang dan seekor naga.

Dalam lambang Keraton Songennep tersebut, terdapat dua binatang, yakni seekor naga berwarna emas dan seekor kuda berwarna perak, mengapit sebuah mahkota. Naga emas berada di sisi kanan dan kuda terbang berwarna perak berada di sisi kiri. Di bawah mahkota itu terdapat seorang laki-laki yang memegang senjata, di sisi kanannya terdapat taburan bintang dan di sisi kirinya terdapat sebuah rumah. Mahkota yang diapit naga dan kuda terbang beralaskan bunga.

Erfandi menjelaskan, lambang kerajaan itu mempunyai nilai filosofis yang tinggi. Mahkota tersebut adalah mahkota kerajaan, kuda terbang artinya tunduk dalam pemerintahan, naga artinya putra bangsawan ada di bawah jangan diinjak, rumah artinya memberikan perlindungan kepada masyarakat, bintang artinya keagamaan, gambar orang memegang senjata artinya kalau bicara jangan acuh tak acuh, dan bunga artinya kedamaian.

“Oya, artinya kalau memang mau berbicara acuh tak acuh dan hal-hal yang tidak penting mendingan diam saja. Kuda terbang itu adalah kuda terbangnya Jokotole saat bertarung dengan Dempo Abang di awang-awang” jelas Erfan kepada Kabar Madura, Rabu (27/2).

Hanya saja, yang masih menjadi misteri sampai sekarang adalah apa makna lambang dasar putih yang tepat di bawah mahkota, karena meskipun sudah tidak begitu jelas polanya, terdapat pola-pola tertentu di dalamnya. Ketika diraba akan terasa timbulan kayunya. Lagi, siapa yang membuat lambang itu, baik gagasannya maupun yang membuatnya dari kayu tersebut masih menjadi misteri sampai saat ini. Namun yang jelas, lambang kerajaan Sumenep tersebut masih tersimpan rapi di museum. (pai)

Komentar

News Feed