oleh

Menelusuri Kisah Hasyim, Juru Kunci Makam Raja-Raja Bangkalan Selama 30 Tahun

KABARMADURA.ID-Sosok lelaki tua yang menjaga makam R Sultan Abdul Kadirun di Bangkalan patut diacungi jempol. Kegigihan Moh Hasyim masih terlihat jelas walaupun usianya sepuh.  Ia setia dan telaten mendampingi dan menceritakan sejarah kepada setiap pengunjung yang datang.

HELMI YAHAYA, Bangkalan

Makam raja yang cukup bersejarah di kerajaan Madura sebelah barat kini sepertinya tidak begitu diminati oleh masyarakat. Juru kunci makam, Hasyim, mengungkapkan, jumlah pengunjung selalu turun setiap harinya. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, hanya ada sekitar 30 orang yang berkunjung dan berziarah di makam kerajaan tersebut. “Selama 30 tahun saya menjaga dan berada disini hanya di 3 tahun terakhir ini pengunjung nyaris tidak ada,” katanya.

Moh Hasyim sendiri merupakan warga asal Sampang, mengaku sudah menjadi penjaga makam sejak tahun tahun 1990. Saat itu dirinya sudah berusia 50 tahun. Tetapi sudah tidak lagi memiliki keluarga. Sehingga sempat melakukan perjalanan sebagai musafir dan berhenti di Bangkalan, kemudian menginap di area makam Raja Raden Sultan Abdul Kadirun. “Saya dulu hanya berniat beribadah, karena usia sudah tua dan ingin lebih dekat dengan Allah,” ulasnya.

Setelah malam itu menginap di area makam, ia didatangi mimpi, dirinya didatangi oleh rombongan kerajaan. Bahkan dalam mimpinya tersebut, ia ditarik dan seolah diminta untuk menetap di area makam tersebut. Dalam mimpinya juga, Hasyim diberikan banyak seserahan dan membuat dirinya sangat puas. Lalu ia terbangun dari tidurnya. “Saya merasa, mimpi itu meminta saya untuk menetap di sini, dan  menjaga makam,” ulasnya.

Setelah itu, ia memutuskan untuk menetap dan menjadi juru kunci di area makam. Bahkan selain itu, ia juga merawat dan membersihkan makam para raja itu. “Dulu saya pakai alat seadanya, lalu setelah beberapa bulan, akhirnya ada bantuan dari pemerintah,” ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur, karena meski dirinya hanya mengurus makam, ia selalu mendapatkan kebutuhannya, baik makan, dan pakaian. Selain diberikan oleh pengunjung, ia juga mendapatkannya dari pengurus Yayasan Takmir Masjid Agung. “Ini mungkin seserahan yang diberikan keluarga kerajaan dalam mimpi saya,” paparnya.

Lelaki yang saat ini berusia 80 tahun itu mengaku sangat betah dengan kondisinya saat ini. Selain ditemani banyak musafir lain yang silih berganti. Baginya para musafir itu adalah cerminan dirinya pada saat beberapa tahun lalu ketika dirinya baru tiba di Makam Raden Sultan Abdul Kadirun itu. “Saya sering bertukar cerita dan pakaian dengan mereka, jadi saya sudah menganggapnya seperti keluarga,” paparnya.

Ia mengaku sering mengalami kejadian magis di area makam. Salah satunya terjadi pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Kliwon dirinya mengaku selalu melihat suasana ramai dan penuh di area makam. “Ini yang awalnya membuat saya kaget, semua seperti nyata, tapi ketika keesokan harinya saya tanya petugas di luar, ternyata tidak ada rombongan masuk,” jelasnya.

Ia mengaku terharu, dan dirinya berharap kepada para warga, khususnya pemuda di Bangkalan, agar menyempatkan diri berkunjung ke makam raja-raja tersebut. “Saya harap makam ini bisa benar-benar ramai, ini makam raja, dan mereka memiliki jasa yang besar di masanya,” pungkasnya. (maf)

Komentar

News Feed