Mengais Hikmah Hidup pada Atun, Sang Pembecak Tangguh

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ROYCHAN FAJAR) TEGAP BERDIRI: Atun dengan becak kuningnya saat menunggu penumpang di pinggir jalan.

KABARMADURA.ID – Di usainya yang sudah menginjak 80 tahun, Atun, seorang kakek yang sudah memiliki 9 cucu ini, tetap gigih mengayuh becak setiap hari untuk menafkahi keluarganya. Dari pagi sampai sore, ia melawan panas, untuk terus mengais rezeki dengan becak warna kuning. Pada itu, ia mengaku hanya dapat 20 ribu. Ia mengadu, bahwa sekarang sudah jarang orang yang mau naik becak. Kendaraan sudah banyak, bahkan sudah ada jasa ojek online, jadi kesempatannya untuk meraih penumpang kian menipis.

ROYCHAN FAJAR, SUMENEP 

Bacaan Lainnya

Atun tak pernah mundur kendati kini sudah banyak jasa transportasi online. Ia yakin, rezeki bukan karena pekerjaan. Tapi karena Allah SWT. “Manusia hanya wajib berusaha, selebihnya biar Allah yang menentukan,” tukasnya.

Karena keyakinannya inilah, pria sepuh ini, terus berjuang bersama becaknya untuk melawan kerasnya hidup. “Saya yakin, rezeki itu tak akan tertukar. Allah maha kasih dan sayang, ia tak akan membiarkan hambanya kelaparan. Buktinya, meski sedikit pendapatannya setiap hari, saya masih hidup hingga saat ini, artinya selalu ada rezeki untuk dimakan,” tuturnya.

Atun bercerita bahwa pendapatannya setiap hari hanya berkisar 20 – 80 ribu. “Kalau lagi sepi ya mungkin hanya dapat 20 ribu. Tapi kalau lagi ramai penumpang, bisa sampai 80 ribu,” ungkapnya.

Sejatinya, dulu ia juga pernah jadi pedagang kelapa sebelum akhirnya menjadi tukang becak. Dagangan kelapanya bahkan hingga sampai ke Surabaya. Namun, lama kelamaan, Atun tidak merasa cocok, sehingga banting setir menjadi seorang pembecak.

Saat dikalkulasi, ia mengaku bahwa sudah menjadi pebecak selama 40 tahun. Sejak dulu, saat pertama kali ia menjadi tukang becak hingga hari ini, kakek yang kini tinggal daerah Bangselok itu, tak pernah meratapi nasibnya. Ia tak pernah mengeluh, menyesali, apalagi merasa gengsi menjadi seorang pebecak. “Kenapa harus menyesali? Wong pendapatan saya ini adalah halal,” ungkapnya.

Dulu, kata Atun, ada tetangganya yang sempat mencibir. Namun tak ia hiraukan. Baginya, mengayuh becak setiap hari, selain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya, juga merupakan ibadah. (km62/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *