Mengelola Keuangan Kaum Milenial ala Dosen STIEBA

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Sumenep-Salah seorang dosen muda Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIEBA) Madura Kartika Rusnindita memiliki pemikiran jitu dalam mengelola keuangan untuk generasi milenial, baik mereka yang masih lajang maupun yang sudah menikah.

Mengutip data Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) tahun 2018, total populasi penduduk Indonesia sebesar 265 juta jiwa, generasi milenial (Gen Y) atau penduduk berusia 20 sampai 35 tahun (tahun kelahiran 1980-1995) berjumlah 63 juta jiwa. Menurut Kartika, besarnya jumlah penduduk milenial saat ini menjadi tantangan dan peluang bagi Indonesia.

“Ciri khas generasi milenial, yaitu: rata-rata tidak mengalihkan perhatiannya dari berbagai smartphone, tablet, dan televisi setiap jamnya; dalam urusan bekerja, kaum milenial lebih tertarik memiliki pekerjaan yang bermakna ketimbang sekadar bayaran yang besar,” ungkapnya, Kamis (18/7).

Dosen program studi akuntansi tersebut menambahkan, dalam masalah keuangan, yang dihadapi generasi milenial adalah tuntutan gaya hidup, sewa tempat tinggal, work hard dan travel harder, beli barang serba nyicil, pakai kartu kredit tanpa berpikir panjang, mengabaikan pentingnya asuransi, dan acuh terhadap tujuan investasi.

Menurutnya, generasi milenial dapat memungkinkan untuk lebih sukses dari para pendahulunya. Oleh karena itu, diperlukan cara mengelola keuangan yang baik dan terencana dalam setiap siklus kehidupan.

Kartika mempunyai solusi tersendiri dalam mengelola keuangan dalam setiap jenjang, saat masih lajang dan saat sudah usia menikah.

Saat usia lajang, berapapun penghasilannya,  harus mengendalikan pengeluaran. Karena itu, menurutnya, seharusnya kaum milineal memiliki rekening tabungan yang terpisah dengan rekening gaji, dan berhati-hati dengan penggunaan kartu kredit. Mereka juga perlu memprioritaskan untuk memiliki dana cadangan, yaitu sejumlah dana yang sengaja disisihkan untuk membiayai pengeluaran mendadak yang sifatnya darurat dan mempertimbangkan untuk mengambil asuransi kesehatan jika perusahaan tempat bekerja tidak mengcover biaya ini.

Saat usia menikah, jika harus mengambil kredit rumah atau kendaraan, maka pastikan cicilannya tidak terlalu memberatkan; menjaminkan harta benda dengan asuransi kerugian; apabila sudah mempunyai anak, maka sudah saatnya mempersiapkan dana pendidikan dan kesehatan anak. Berusaha untuk meningkatkan setoran tabungan dan investasi setiap tahunnya. Evaluasi kembali jumlah uang pertanggungan asuransi yang diambil, apakah jumlahnya sudah sesuai dengan kebutuhan untuk mengcover risiko. Memperimbangkan untuk membuat wasiat, terutama jika memiliki kekayaan dalam jumlah yang signifikan.

Gagasannya ini ia sampaikan dalam acara talk show siaran langsung di RRI Surabaya pada 18 Juli 2019, dari pukul 16.00 sampai 17.00 WIB. (mad/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *