Mengenal Abd Rahman Riadi, Hobi Trail Sambil Menyalurkan Bantuan

  • Whatsapp

Bagi Abd Rahman Riadi, hobi bukan sekadar menyalurkan kesenangan belaka. Hobinya mengendarai sepeda motor trail hingga pelosok, dijadikan sebagai media untuk membantu banyak orang, alih-alih hanya mengganggu kehidupan warga sebagaimana anggapan banyak orang.

MOH. TAMIMI, SUMENEP

Abd Rahman Riadi hobi mengendarai motor trail, menjelajah dari satu pelosok ke pelosok yang lain, ke jalan-jalan kecil tidak beraspal.

Akan tetapi, lelaki kelahiran Sumenep, 25 Januari 1971 tersebut, tidak hanya sekadar jalan-jalan saja dengan komunitasnya.

Sudah beberapa kali ia membantu orang-orang tidak mampu, menyalurkan bantuan, menggunakan motor trailnya itu untuk kegiatan sosial.

Awal mulanya, hobinya adalah bermain bulu tangkis, tetapi lama kelamaan, hobinya bertambah, menjelajah, mengeksplorasi keindahan alam Sumenep.

Hobi itu diawali  karena ajakan teman-temannya, tetapi akhirnya ia merasa nyaman dengan sendirinya.

Suatu ketika, alumni Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya tahun 1994 tersebut, menyalurkan sembako ke Desa Payudan Dungdang, Kecamatan Guluk-Guluk.

Di wilayah itu, medan jalannya sangat memprihatinkan,  berbatu dan berada di daerah dataran tinggi.

“Bukan hanya jalan-jalan, tetapi ada bakti sosialnya,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Senin (29/7).

Hobi yang satu ini, dilakukan sejak tahun 2015 sampai 2016. Setelah tahun 2016, ia mulai berhenti mengendarai trail.

Sebab, kini tangannya sakit dan tidak bisa mengendarai motor dengan baik. Karena salah bersama seorang teman akrabnya, pernah mengendarai motor di medan berat. Akhirnya, sesuatu terjadi hingga membuatnya cedera.

Di usinya yang ke-49 ini, hobinya berubah lagi menjadi bermain tenis lapangan, menurutnya itu lebih ringan dari hobinya yang semula, bul tangkis.

Sepak Terjang Berdinas

Saat ini Rahman menjabat sebagai kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, sejak tahun 2017. Di instansi ini, ia juga memiliki pengalaman yang begitu berkesan.

Saat itu, Juli 2018, di Kecamatan Batu Putih ditimpa gempa dengan kekuatan 5,1 skala richer (SR) menjelang lebaran Idulfitri. Di hari kemenangan umat Islam itu, ia sebagai koordinator penanggulangan bencana. Waktu itu harus datang langsung ke lokasi bersama tim.

Bukan sekadar persoalan gempa, tetapi yang membuatnya menangis, mereka yang harusnya berbahagia dengan sanak famili, tetapi harus membereskan puing-puing bangunan. Timnya harus membangun tenda dan musala darurat.

Korban gempa saat itu mencapai 165 orang, tidak ada korban jiwa, tetapi beberapa bangunan rusak berat.

Saat ini, laki-laki yang tinggal di Jaklan Slamet Riadi, Kelurahan Pabian, Kecamatan Sumenep tersebut, menggagas lembaga tahfiz Alquran di bawah Yayasan Al-Alim Mertowaseso.

Yayasan tersebut,  dimpin oleh Dr. Soenarto, yang saat ini menjabat sebagai wakil Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Rahman sendiri, menjabat sebagai sekretarisnya. Masjidnya sudah berdiri tegak di Jalan Irama, kawasan Pasar Sore, Kelurahan Kapanjin.

Di lembaga inilah, ia akan mengabdikan diri kepada masyarakat, selain mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang sudah dijalani sejak puluhan tahun silam. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *